Menyoal Langkah Pasif Eropa di JCPOA
Uni Eropa dan troika Eropa yang terdiri dari Jerman, Perancis dan Inggris sebagai anggota kelompok 4+1 berulangkali menegaskan urgensi mempertahankan JCPOA. Tapi mereka tidak mampu mewujudkan janjinya dalam tindakan nyata.
Menyikapi langkah Eropa ini, Republik Islam Iran pada hari Jumat menerapkan langkah ketiga penurunan tingkat komitmennya terhadap JCPOA.
Aksi Iran yang diambil dalam kerangka JCPOA tersebut memicu reaksi dari para pejabat Eropa. Misalnya, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas dalam sebuah wawancara hari Senin mengatakan, "Kita masih bisa menemukan solusi, tapi kami, pihak Eropa tidak bisa melakukannya sendirian,".
Di sisi lain, Menteri luar negeri Jerman memperingatkan tindakan Iran dengan menekankan, "Jika Iran tidak lagi memenuhi komitmennya berdasarkan Perjanjian Wina, langkah ini akan mengirim sinyal yang sangat keliru. Jerman ingin Tehran kembali mematuhi penuh perjanjian nuklir 2015."
Masalah penting yang ditunjukkan pejabat senior Jerman ini dalam statemennya adalah mengenai ketidakmampuan pihak Eropa dalam menjaga JCPOA. Maas telah meminta pihak lain untuk bekerja sama demi mencapai tujuan ini, tetapi pertanyaannya mengenai pihak mana yang dia maksud.
Iran selama ini dilaporkan telah memenuhi semua komitmennya terhadap JCPOA di bawah pengawaan IAEA. Masalah ini berulangkali ditegaskan dalam beberapa laporan IAEA, dan bahkan tiga langkah pengurangan komitmennya yang dilakukan secara bertahap juga berada dalam koordinasi dengan JCPOA. Oleh karena itu, pihak Eropa tidak tidak bisa meminta lebih dari Tehran, ketika mereka sendiri tidak menjalankan kewajibannya terhadap perjanjian nuklir internasional itu.
Maas menekankan bahwa perjanjian itu bukan jalan satu arah. Statemennya Maas benar, tetapi arah Menteri Luar Negeri Jerman tampaknya keliru. Jika Eropa, termasuk Jerman benar-benar serius ingin mempertahankan JCPOA, mereka harus berbicara dengan Amerika Serikat yang mengumumkan keluar dari JCPOA pada Mei 2018, kemudian menjatuhkan sanksi sepihak terhadap Iran. Langkah Washington tersebut memicu penentangan di tingkat global, termasuk negara-negara anggota kelompok 4 +1, terutama Eropa yang mengumumkan akan mengantisipasi mekanisme untuk mempertahankan perjanjian penting ini.
Dari anggota kelompok timur, Rusia dan Cina, menunjukkan sikap tegas dengan menekankan tidak ada alternatif selain JCPOA. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam konferensi pers dengan sejawatnya dari Perancis hari Senin, 9 September mengatakan tidak ada opsi pengganti untuk kesepakatan nuklir dengan Iran selain JCPOA. Rusia sebelumnya menyebut langkah ketiga Tehran sebagai sinyal kuat bagi pihak Eropa untuk memulihkan keseimbangan dalam masalah kesepakatan nuklir dengan Iran.
Namun, pihak Eropa yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap Amerika Serikat, tidak mampu mewujudkan usulannya sendiri, termasuk implementasi mekanisme khusus untuk interaksi keuangan dan bisnis dengan Iran, yang disebut INSTEX. Ironisnya, Eropa justru memiliki permintaan yang tidak rasional terhadap Tehran yang menekankan perlunya Iran tetap dalam perjanjian nuklir dan memenuhi seluruh kewajibannya, padahal mereka sendiri tidak menjalankan komitmennya.
Situs Deutsche Welle melaporkan, Menteri Luar Negeri Jerman ingin menghindari konfrontasi militer dengan Iran. Itulah sebabnya dia merasa semua pihak harus mengambil tanggung jawab bersama yang menyepakati JCPOA.
Statemen Menlu Jerman mengemuka di saat pemerintahan Trump semakin agresif menjalankan kebijakan intimidasi dan tekanan maksimum terhadap Iran, termasuk mengeluarkan ancaman serangan militer mereaksi langkah Iran di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Pada saat yang sama, Tehran telah menyatakan kesiapannya untuk menghadapi ancaman apapun, termasuk opsi serangan militer.
Tampaknya, Barat harus menoleh ke belakang supaya mengambil pengalaman masa lalu mengenai Iran, bahwa kebijakan tekanan dan intimidasi terhadap Iran tidak pernah berhasil, bahkan sebaliknya justru memperkuat persatuan nasional.(PH)