Menelisik Kegagalan Perundingan Nuklir AS-Korea Utara
-
Kegagalan perundingan AS-Korut
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat telah mengadopsi kebijakan mengancam dan bernegosiasi sesuai dengan janji kampanyenya untuk menyelesaikan krisis nuklir Semenanjung Korea. Tetapi meskipun ada tiga putaran pembicaraan antara kedua pemimpin, belum ada kemajuan nyata yang dibuat dalam menyelesaikan krisis.
Mengingat tekanan pemerintahan Trump untuk putaran baru pembicaraan antara Washington dan Pyongyang, delegasi AS dan Korea Utara mengadakan pembicaraan nuklir di Stockholm pada hari Sabtu, 5 Oktober, setelah berbulan-bulan pembicaraan bilateral yang mandek. Namun setelah beberapa jam, ternyata negosiasi ini dihentikan.
Kim Myong Gil, pemimpin delegasi Korea Utara tentang penghentian putaran negosiasi ini mengatakan, "Negosiasi tidak memenuhi harapan negara. Amerika tidak membawa sesuatu yang baru ke meja perundingan dan hanya menuntut tuntutan sebelumnya. Setelah ini adalah tugas Amerika Serikat untuk memulai pembicaraan."
Sementara itu, Washington telah berusaha untuk membuat perundingan berhasil. Kementarian luar negeri AS dalam menanggapi pernyataan oleh negosiator senior Korea Utara menyebut komentar itu tidak sesuai dengan "isi dan kondisi yang ada" dalam pembicaraan serta mengklaim bahwa pembicaraan itu berlangsung delapan jam.
Morgan Ortagus, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS mengatakan, "Washington telah datang dengan rencana inovatif tetapi untuk menemukan solusi untuk "masalah penting" kedua belah pihak harus memiliki tekad dan ketekunan yang dibutuhkan."
Meskipun pemimpin delegasi Korea Utara telah berbicara tentang penghentian negosiasi dan tidak ada hasilnya, pihak AS telah mengumumkan bahwa mereka telah menerima tawaran Swedia untuk melanjutkan pembicaraan dalam dua pekan lagi.
Pembicaraan tingkat ahli antara Washington-Pyongyang di Stockholm adalah putaran pertama perundingan bilateral sejak pertemuan Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada Februari 2019 di ibukota Hanoi, Vietnam, yang tidak ada hasilnya dan lebih cepat dari waktu yang diprediksi telah dihentikan. Kedua pemimpin tidak mencapai kesepakatan di Hanoi tentang masalah paling penting yang diperselisihkan, yaitu pelucutan nuklir di Semenanjung Korea.
Setelah tuntutan irasional Washington atas Pyongyang untuk menghentikan sepenuhnya program nuklir Korea Utara tanpa memberi konsesi apa pun terhadap Pyongyang, yakni membatalkan sanksi luas terhadap Pyongyang, negosiasi bilateral telah dihentikan dan Korea Utara juga telah menguji rudal balistiknya. Sekalipun demikian, Trump dan Kim dalam pertemuan singkat yang dilakukan akhir bulan Juni 2019 di perbatasan dua Korea, sepakat untuk melanjutkan pembicaraan tingkat ahli.
Pyongyang telah berulang kali mengkritik Washington karena terus menekan Korea Utara meskipun ada beberapa langkah oleh negara ini untuk memenuhi permintaan AS. Pemimpin Korea Utara sangat menyadari peran penting kartu truf penting negara ini dalam menghadapi Amerika yaitu kemampuan militer nuklir dan kekuatan rudal Korea Utara dan tidak mau melakukannya tanpa menerima konsesi yang substansial, terutama mencabut sanksi dari Korea Utara dengan mengarungi kemampuan atau memusnahkannya.
Amerika Serikat ingin Korea Utara membatasi program rudal dan nuklirnya bersamaan dengan perlucutan senjata nuklir. Pyongyang telah menyetujui tuntutan-tuntutan ini secara prinsip, tetapi telah mengumumkan pencabutan sanksi langkah-demi-langkah. Mengingat tekanan domestik yang kuat pada Trump, terutama pemakzulannya, Washington mencari peruntungannya di luar negeri demi mengurangi tekanan pada Trump, namun pemutusan pembicaraan bilateral di Stockholm telah menunjukkan bahwa Amerika Serikat hanya ingin bersikeras pada posisi sebelumnya dengan hanya menginginkan tuntutannya terealisasi, tanpa memberikan konsesi kepada Pyongyang.
Dengan demikian, bahkan jika putaran pembicaraan berikutnya diadakan dalam dua pekan mendatang, itu akan tetap berakhir dengan sia-sia. Pada saat yang sama, dimulainya kembali uji coba rudal Korea Utara merupakan pesan ketidaksenangan Pyongyang dengan keengganan Washington untuk mencabut sanksi dan kemungkinan uji coba ini akan dilanjutkan dengan penghentian pembicaraan Stockholm.