Justifikasi Barat untuk Kehadiran Militer AS di Irak
https://parstoday.ir/id/news/world-i77898-justifikasi_barat_untuk_kehadiran_militer_as_di_irak
Situs The Washington Institute dalam sebuah artikelnya dengan tema "Why the United States and Iraq Still Need Each Other" mencoba menjustifikasi alasan kehadiran militer Amerika Serikat di Irak.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 23, 2020 13:42 Asia/Jakarta
  • Pasukan teroris Amerika di Irak.
    Pasukan teroris Amerika di Irak.

Situs The Washington Institute dalam sebuah artikelnya dengan tema "Why the United States and Iraq Still Need Each Other" mencoba menjustifikasi alasan kehadiran militer Amerika Serikat di Irak.

Aksi terorisme AS membunuh Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani, telah menciptakan ketegangan dalam hubungan Washington-Baghdad. Sejumlah pihak di Irak dan kawasan menuntut penarikan pasukan AS dari Irak dan wilayah Asia Barat (Timur Tengah).

The Washington Institute memaparkan beberapa alasan untuk membenarkan kelanjutan kehadiran pasukan AS di Irak.

Pertama, kehadiran AS di Irak disebut untuk menyelamatkan kemenangan terhadap kelompok teroris Daesh. Berlanjutnya kehadiran militer AS sangat penting untuk memastikan kekalahan abadi Daesh. Meski Daesh telah kehilangan sisa-sisa wilayah teritorialnya, tapi mereka tetap menjadi kekhawatiran bagi keamanan regional.

Kedua, penarikan AS dari Irak secara drastis membatasi kemampuan pasukan Eropa untuk terus melatih pasukan kontraterorisme Irak. Dalam artikel ini, pasukan Eropa disebut sebagai salah satu kekuatan utama untuk mewujudkan stabilitas di Irak.

Padahal, Amerika, rezim Zionis Israel, Eropa, dan sekutu regionalnya adalah aktor yang telah membentuk, mempersenjatai, dan mengirim teroris Daesh ke Suriah dan Irak. Mereka sekarang juga memanfaatkan isu terorisme untuk menjustifikasi kehadiran militernya di kawasan.

Ketiga, The Washington Institute mencatat bahwa salah satu prioritas kebijakan Letjen Soleimani adalah memaksa Amerika keluar dari Irak. Jika Washington menarik diri sekarang, Soleimani akan mencapai kemenangan setelah kematiannya, sesuatu yang tidak dicapai di masa hidupnya.

Di sini perlu dicatat bahwa pihak yang menuntut penarikan pasukan AS dari Irak dan bahkan seluruh kawasan adalah rakyat Irak dan negara-negara Muslim. Popularitas Letjen Soleimani di Iran, negara-negara Muslim dan dunia juga dikarenakan peran besarnya untuk mewujudkan tujuan besar itu.

Aksi protes warga Irak di depan Kedutaan AS di Baghdad.

Keempat, AS telah melakukan banyak investasi di Irak dan kehilangan banyak pasukannya di sana demi mewujudkan Irak yang berdaulat dan demokratis. Sementara intervensi Iran merupakan sebuah ancaman bagi kemajuan Irak. Dengan kehadiran AS, Irak tidak akan jatuh ke pangkuan Iran.

Perlu diingat bahwa antusiasme dan kesedihan mendalam rakyat Irak dalam mengiringi jenazah Letjen Soleimani merupakan bukti bahwa mereka menginginkan keluarnya Irak dari cengkraman AS.

AS juga ingin menguasai minyak Irak dan wilayahnya yang strategis di Timur Tengah. AS tidak menginginkan Irak yang berdaulat, demokratis, dan maju.

Situs The Washington Institute kemudian secara terbuka menyinggung tentang kepentingan AS untuk menguasai ladang-ladang minyak Irak, meskipun mereka menggunakan istilah "kehadiran yang akan membawa manfaat ekonomi bagi Irak, Amerika dan dunia."

Kelima, di luar nilai geostrategis dan politisnya, Irak merupakan salah satu pengekspor minyak top dunia, dengan cadangan besar untuk jangka panjang. Kehadiran AS akan membawa manfaat ekonomi untuk Baghdad, Washington dan dunia. Namun jika AS keluar, Iran akan secara efektif memperoleh kendali yang besar atas sumber daya energi dan keuangan.

Dalam menjelaskan alasan keenam dan ketujuh, The Washington Institute mengklaim adanya kekhawatiran terkait penarikan pasukan AS dan kedaulatan Irak bagi negara-negara tetangga.

Keenam, kepergian AS akan memaksa Yordania dan tetangga Irak lainnya berkutat dengan serangkaian tantangan baru keamanan. Sumber daya militer dan intelijen Yordania sekarang menghadapi tekanan besar di sepanjang perbatasan dengan Suriah, kini harus menghadapi tanggung jawab ekstra untuk melindungi perbatasannya yang jauh lebih panjang dan terletak lebih jauh, dengan Irak.

Ketujuh, hampir semua negara-negara Dewan Kerjasama Teluk Persia memandang kehadiran pasukan AS di Irak sebagai pilar bagi unit-unit militer Amerika yang ditempatkan di wilayah mereka sendiri, dan sangat vital bagi pertahanan mereka untuk melawan Iran. AS akan dicap tidak berkomitmen untuk membela sekutunya di Teluk Persia jika menarik diri dari Irak.

Jutaan warga Iran menghadiri acara tasyi' jenazah Syahid Soleimani di Tehran.

Jelas bahwa maksud The Washington Institute dari ancaman yang dirasakan para tetangga Irak atas penarikan AS adalah ketakutan para raja Arab, yang bergantung mutlak pada Washington.

Pengalaman mencatat bahwa ketika ada kesempatan untuk menyuarakan pendapat dan protes, maka masyarakat di negara-negara kawasan dan dunia selalu menunjukkan sentimen anti-Barat, anti-Zionis, dan anti-Amerika dalam bentuk yang paling keras.

Di bagian akhir, The Washington Institute menyinggung dua alasan yang paling penting untuk menjustifikasi kehadiran militer AS di Irak. Yang satu untuk melindungi rezim Zionis, dan yang lainnya mengamankan investasi Amerika di Irak.

Kedelapan, penarikan AS akan menciptakan ancaman tambahan bagi keamanan Israel. Baik Iran dan sekutunya akan semakin leluasa untuk beroperasi di wilayah Irak, dan lengan mereka memanjang sampai ke Suriah dan pada akhirnya ke perbatasan Israel.

Kehadiran AS di Irak bermakna membatasi serangan Israel terhadap Iran di wilayah Irak, dan ini baik untuk Baghdad dan Tel Aviv.

Kesembilan, pasukan AS adalah pelindung investasi negara itu di Irak yang berdaulat dan demokratis. Penarikan AS akan menguntungkan Daesh dan Iran, sementara berlanjutnya kehadiran mereka di Irak akan meningkatkan stabilitas di kawasan.

Maksud The Washington Institute dari investasi Amerika di Irak, sepertinya mengacu pada investasi untuk menguasai sumur-sumur minyak Irak. (RM)