Partisipasi Taliban dalam Perundingan Damai Afghanistan
-
Ilustrasi para petinggi Taliban di Doha, Qatar.
Kelompok Taliban mengumumkan kesiapannya untuk terlibat dalam perundingan damai di Afghanistan. Para pemimpin Taliban mencapai kesepakatan internal untuk memulai negosiasi dengan pemerintah dan kelompok-kelompok Afghanistan.
Sumber-sumber lokal yang mengutip keterangan para anggota Taliban, juga mengatakan Taliban telah memilih Qatar sebagai lokasi pelaksanaan putaran pertama perundingan damai.
Juru bicara Sekretariat Dewan Tinggi Keamanan Nasional Afghanistan, Javid Faisal menuturkan jumlah tahanan Taliban yang sudah dibebaskan mencapai 3.000 orang dan sekarang mereka harus bersiap untuk memulai perundingan antar kelompok-kelompok Afghanistan.
Afghanistan akan memasuki sebuah perkembangan baru setelah para petinggi Taliban mengumumkan partisipasinya dalam perundingan, yang bertujuan menciptakan gencatan senjata permanen dan perdamaian.
Taliban sebelumnya menuntut pembebasan seluruh anggotanya dari penjara sebagai syarat memulai perundingan intra-Afghanistan. Namun setelah 3.000 anggotanya dibebaskan oleh pemerintah Kabul, Taliban mengubah posisinya dan bersedia memulai negosiasi setelah terbukti AS tidak melaksanakan kesepakatan yang dicapai dengan mereka di Doha.
Taliban dan AS menandatangani sebuah kesepakatan damai di Qatar pada 29 Februari 2020 yang mencakup penarikan seluruh tentara Amerika dari Afghanistan, pembebasan semua tahanan Taliban, dan penghentian kekerasan kelompok ini terhadap pasukan asing.
Namun setelah berjalan lebih dari tiga bulan dari kesepakatan itu, AS tidak memenuhi kewajibannya termasuk penarikan pasukan asing dari Afghanistan dan saat ini kesepakatan damai Doha terancam bubar.
Seorang pakar militer Afghanistan, Javid Kohestani mengatakan Washington menjustifikasi kehadirannya di Afghanistan dengan alasan Daesh.
Berangkat dari kekhawatiran ini, Ketua Biro Politik Taliban di Qatar, Mulla Baradar baru-baru ini bertemu dengan Utusan Khusus AS untuk Urusan Afghanistan, Zalmay Khalilzad dan komandan pasukan asing di negara itu, Jenderal Scott Miller untuk membahas perkembangan pelaksanaan kesepakatan Doha.
Kebuntuan ini mendorong para petinggi Taliban memulai perundingan dengan pemerintah Kabul bahkan sebelum semua anggotanya dibebaskan dari penjara demi menjaga reputasinya di tengah kelompok itu. Taliban sepertinya akan memanfaatkan perundingan intra-Afghanistan sebagai instrumen untuk meningkatkan tekanan terhadap AS agar menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan.
Namun AS belum mengumumkan program penarikan pasukannya dari Afghanistan dan oleh karena itu, Taliban ingin menjadikan pemerintah dan rakyat Afghanistan sebagai dongkrak untuk mendorong pasukan AS keluar dari negara itu.
Di pihak lain, pemerintah Kabul – lewat perundingan damai ini – berharap kelompok Taliban akan meninggalkan kekerasan untuk selamanya dan kembali kepada kehidupan normal sehingga keamanan dan stabilitas yang berkelanjutan dapat tercipta di Afghanistan.
Kini semakin jelas bahwa perundingan damai di Afghanistan harus dilakukan tanpa campur tangan kekuatan asing, sebab pengalaman menunjukkan bahwa intervensi asing selalu memicu instabilitas dan kekacauan di Afghanistan. (RM)