Unilateralisme AS Peluang Perluasan Hubungan Rusia-Cina
https://parstoday.ir/id/news/world-i88733-unilateralisme_as_peluang_perluasan_hubungan_rusia_cina
Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi di kontak telepon dengan sejawatnya dari Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, “Di tengah kondisi pasang surut di tingkat internasional, hubungan permanen Cina dan Rusia harus lebih solid.”
(last modified 2026-05-04T10:04:58+00:00 )
Des 28, 2020 09:26 Asia/Jakarta
  • Rusia-AS dan Cina
    Rusia-AS dan Cina

Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi di kontak telepon dengan sejawatnya dari Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, “Di tengah kondisi pasang surut di tingkat internasional, hubungan permanen Cina dan Rusia harus lebih solid.”

Di sisi lain, Lavrov di kontak telepon ini seraya mengungkapkan penentangannya atas aksi-aksi Amerika Serikat, menekankan pentingnya melawan langkah sepihak Wasihngton. “Cina dan Rusia harus melawan represi dan bullying Amerika Serikat serta memiliki upaya bersama demi menjaga kepentingan kolektif dan mempertahankan stabilitas serta kerja sama internasiona,” papar Lavrov.

Rusia-Amerika

Penekankan menlu Cina dan Rusia untuk meningkatkan kerja sama bilateral melawan Amerika terjadi ketika hubungan Moskow-Beijing di beberapa tahun terakhir semakin hangat karena kebijakan unilateralisme Washington. Kini pertanyaan yang muncul adalah dengan naiknya Joe Biden sebagai presiden baru Amerika, bagaimana arus dan bentuk hubungan ketiga negara ini?

Terkait hal ini ada sejumlah poin yang patut diperhatikan:

Pertama, berkuasanya Donald Trump di Gedung Putih dan sekumpulan sabotase politik, keamanan dan ekonomi pemerintahan Trump terhadap Cina telah mendorong hubungan Washington-Beijing berada di level terendah. Di sisi lain, kebalikan dari hubungan Cina dan Amerika yang semakin dingin, hubungan Cina dengan Rusia semakin kuat dan mengarah ke hubungan strategis. Bahkan sebagian pakar menyebut hubungan Beijing-Moskow sebagai hubungan terbaik dalam sejarah.

Poin kedua; bagi Cina dan Rusia pengokohan hubungan strategis merupakan salah satu solusi dan instrumen penting untuk melawan represi Amerika yang terus meningkat, ketika represi ini semakin keras, Cina dan Rusia juga akan mengambil langkah-langkah memperkokoh kerja sama di antara mereka serta dengan sekuat tenaga melawan unilateralisme Amerika Serikat.

Poin selanjutnya adalah, dengan berkuasanya Biden di Amerika, para pengamat mulai menggulirkan berbagai analisa mengenai masa depan hubungan Washington dengan Beijing dan Moskow ketika Biden menganggap Rusia sebagai ancaman terbesar bagi keamanan nasional Amerika. Sejumlah pengamat meyakini bahwa dengan berkuasanya Biden di Gedung Putih tidak akan ada perubahan di permusuhan Amerika terhadap Cina dan Rusia. Terkait hal ini seorang pengamat Cina mengatakan, “Permusuhan Amerika terhadap Cina dan Rusia tidak akan berubah, bahkan jika Washington mengubah periotasnya.”

Kesimpulannya, hubungan Cina dan Rusia saat ini berada di kondisi terbaik. Moskow dan Beijing selama beberapa tahun terakhir selain menggalang kerja sama ekonomi dan politik, bahkan menggelar operasi militer gabungan untuk memerangi bajak laut, menjaga perdamaian dan stabilitas dunia dan menjaga keamanan seluruh anggota kawasan bukan saja di kawasan Asia-Pasifik, tapi juga di Samudera Hindia, Asia Barat dan Asia Tengah.

Perang dagang AS dan Cina

Lantas bagaimana alur hubungan Washington dengan Bejing dan Moskow setelah berkuasanya Biden sebagai penghuni baru Gedung Putih, tentunya hal ini sangat berkaitan dengan pendekatan baru Washington terhadap kedua negara ini dalam empat tahun kedepan.

Tapi yang jelas pandangan Amerika terhadap Cina dan Rusia bukan pandangan bersahabat, dan wajar jika Amerika menentang keras kedua negara ini menjadi kekuatan besar dunia dalam beberapa tahun kedepan. Oleh karena itu, bukan tidak beralasan untuk mengharapkan bahwa Biden akan melanjutkan jejak mantan presiden AS dalam menghadapi Cina dan Rusia. (MF)