Cina dan Uni Eropa Menjelang Kesepakatan Komprehensif Investasi
Akhirnya, setelah bertahun-tahun bernegosiasi dan di tengah ketegangan antara Beijing dan Washington, para pejabat UE mengumumkan bahwa kesepakatan final investasi dengan Cina akan dicapai minggu ini.
Berdasarkan nota kesepahaman ini, perusahaan-perusahaan Eropa akan diberi akses ke pasar Cina dan investasi UE di Cina akan dilindungi.
Perundingan masalah investasi antara Cina dan Uni Eropa dimulai pada 2014, namun berlangsung beberapa tahun karena berbagai alasan, termasuk kegagalan kedua belah pihak untuk membuat janji yang tepat untuk mencabut kendali atas investasi Eropa.
Beberapa poin dapat dibuat tentang pentingnya kerja sama ekonomi antara Cina dan Uni Eropa:
Poin pertama, Cina dan Uni Eropa telah merundingkan "kesepakatan komprehensif investasi" selama enam tahun. Menurut beberapa media Eropa, pejabat Cina dan UE kemungkinan akan menandatangani kesepakatan pada Rabu pekan ini.
Poin kedua, Komisi Eropa telah mengumumkan persetujuan awalnya dengan perjanjian ini. Komisi Eropa juga telah mempresentasikan teks perjanjian perlindungan investasi kepada 27 negara anggota Uni Eropa untuk diratifikasi pada hari Jumat, (25/12/2020), setelah enam tahun negosiasi dengan Cina. Namun, menurut seorang pejabat Uni Eropa, kesepakatan akan segera tercapai menyusul tindakan dan upaya Jerman sebagai presiden bergilir Uni Eropa dan juga eksportir Eropa terbesar ke Cina.
Poin ketiga, pembicaraan Uni Eropa-Cina sedang berlangsung di tengah ketegangan perdagangan dan politik antara Beijing dan Washington. Hubungan Cina-AS saat ini memburuk karena kebijakan intervensionis Donald Trump dalam urusan internal Cina. Menurut Menlu Cina, hubungan bilateral antara Beijing dan Washington telah mencapai level terendah dalam 41 tahun sejak terjalinnya hubungan diplomatik kedua negara.
Selain itu, hambatan politik, keamanan, dan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Cina, hingga mengurangi hubungan seminimal mungkin, mendorong Beijing lebih cenderung ke negara-negara lain, termasuk Rusia dan India, serta negara-negara UE.
Poin keempat, negosiasi ekonomi antara UE dan Cina menunjukkan pergeseran pandangan Eropa dari negara adikuasa Barat yang semakin menurun, yaitu Amerika Serikat, menuju kekuatan ekonomi superior di Timur, Cina. Jelas bahwa Eropa tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bekerja sama dan lebih dekat dengan Cina, di saat Amerika Serikat berusaha menghukum sekutunya. Jerman khususnya, salah satu mitra dagang utama Cina di Benua Biru, menyambut baik peningkatan ini lebih dari siapa pun.
Tentu saja, dalam rotasi Uni Eropa ke Cina, Beijing juga akan mendapatkan keuntungan politik dengan menandatangani nota kesepahaman itu, terlepas dari keuntungan ekonominya. Menurut surat kabar Prancis Lezako, Menjelang kedatangan Presiden terpilih AS Joe Biden ke Gedung Putih pada tahun 2020, penandatanganan nota kesepakatan ini menjadi pencapaian penting bagi Cina.
Secara keseluruhan, harus dikatakan bahwa di tengah memuncaknya ketegangan dengan Amerika Serikat, Beijing berusaha mencegah front transatlantik bersatu melawan dirinya. Dari sudut pandang banyak pengamat politik, dalam Perang Dingin Baru yang terjadi, sangat penting dari sudut pandang Cina dan Amerika Serikat, sikap apa yang diambil oleh negara-negara Eropa dan pihak mana yang mereka ambil.
Sementara Washington ingin menarik mereka ke arah dirinya, mencegah pembentukan front persatuan di Barat akan menjadi sukses besar bagi Beijing. Yang pasti adalah bahwa konvergensi Cina dan Uni Eropa pada saat ini adalah produk dari unilateralisme era Trump yang kini menghitung mundur "orang gila" yang akan meninggalkan Gedung Putih.