Rusia Berharap AS Patuhi JCPOA sebelum Ultimatum Iran Berakhir
-
Ilustrasi mesin sentrifugal milik Iran.
Deputi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov menyampaikan harapan bahwa kompromi terkait kesepakatan nuklir JCPOA akan dicapai sebelum ultimatum Iran untuk menghentikan Protokol Tambahan berakhir pada 21 Februari.
Seperti dikutip Farsnews, Ryabkov dalam wawancara dengan kantor berita RIA Novosti, Kamis (11/2/2021), mengatakan prioritas saat ini adalah kembalinya Amerika Serikat ke dalam JCPOA dan mencabut sanksi terhadap Iran.
"Kemungkinan mustahil melakukan ini sekaligus, tetapi juga akan salah jika menundanya. Kami secara terbuka telah menyampaikan hal ini kepada Washinghton," tambahnya.
Menurut Ryabkov, untuk menghindari argumen tentang siapa yang harus bertindak lebih dulu, masuk akal jika Washington dan Tehran mengambil tindakan secara bersamaan.
Dia meminta Iran untuk menahan diri meskipun ada tekanan dari Amerika dan situasi yang telah memaksa Iran untuk mengurangi kewajiban nuklirnya.
Sebelum ini, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dalam wawancara dengan televisi CGTN, Rabu kemarin, mengatakan jika sanksi belum dicabut sampai 21 Februari, Tehran tidak punya jalan lain kecuali menghentikan pelaksanaan Protokol Tambahan. (RM)