Penghapusan Embargo Senjata Vietnam
Media-media Cina khususnya koran People's Daily milik Komite Sentral Partai Komunis negara itu, mengecam penghapusan embargo senjata Vietnam oleh Amerika Serikat.
Menurut mereka, sasaran utama AS terkait pencabutan embargo senjata Vietnam adalah Cina dan klaim Presiden Barack Obama bahwa langkah ini tidak ditujukan pada Beijing, hanya sebuah kebohongan.
Surat kabar Global Times cetakan Beijing dalam sebuah artikelnya pada Selasa (24/5/2016), menganggap pernyataan Obama sebagai strategi konfrontatif terhadap Cina, karena misi AS di Asia adalah memperkuat pengaruh dan posisi militernya.
Pada dasarnya, perjalanan Obama ke Hanoi dan Tokyo merupakan bentuk penegasan kembali tentang kebijakan-kebijakan AS di Asia-Pasifik. Washington berupaya untuk mempertahankan pengaruh Amerika di wilayah Asia Tenggara setelah Vietnam menjadi sekutu barunya di kawasan.
AS ingin secara maksimal memanfaatkan kecenderungan negara-negara seperti, Vietnam dan Myanmar ke arah peningkatan ketergantungan pada Barat. Hasil dari upaya Washington dengan Hanoi dan Naypyidaw adalah terciptanya strategi yang seimbang Asia-Amerika dalam bentangan wilayah Asia.
Washington tidak menyia-nyiakan posisi strategis Asia dengan memperhatikan peningkatan peran Beijing di berbagai tingkatan di kawasan. Mungkin dengan alasan ini pula, AS memilih mencabut embargo senjata Vietnam dan mempersiapkan ruang untuk penguatan hubungan kedua negara. Washington pertama-tama ingin menunjukkan itikad baiknya kepada Hanoi dan kemudian mengambil langkah-langkah untuk membangun kebijakan yang berimbang.
Lalu, mengapa Cina tidak senang dengan pencabutan embargo senjata Vietnam oleh AS?
Vietnam dan Cina terlibat sengketa atas kepemilikan Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan. Sengketa ini telah menyulut perang verbal yang masif antara dua tetangga tersebut. Beijing bahkan menuding negara-negara lain yang terlibat sengketa wilayah dengannya telah memperburuk ketegangan yang bisa mendorong perlombaan senjata.
Dalam perspektif Cina, penyebaran besar-besaran senjata AS di Asia akan semakin mempersempit ruang untuk diplomasi dan perundingan.
Parahnya lagi, AS meraup keuntungan dari kebijakan standar ganda dan ketegangan yang tercipta dalam hubungan regional dan internasional negara-negara tetangga Cina.
Cina sendiri masih menghadapi embargo senjata yang diberlakukan AS dan Uni Eropa sejak Juni 1989 pasca penumpasan gerakan pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen. Embargo ini belum dicabut meskipun ketiga pihak menyaksikan pertumbuhan kerjasama di berbagai bidang.
Para pejabat AS bahkan memperingatkan Eropa agar tidak mencabut embargo senjata terhadap Cina, karena keputusan ini akan menguntungkan Beijing dan merugikan Washington. Di lain pihak, Cina menganggap tindakan AS dan Eropa sebagai strategi menghidupkan pemikiran era Perang Dingin dan percaya bahwa Eropa telah merusak kepentingan dan posisinya karena menuruti keinginan Washington.
Sebenarnya, ketidaksenangan Cina atas pencabutan embargo senjata Vietnam disebabkan oleh pendekatan dan standar ganda AS dalam berurusan dengan Cina dan wilayah Asia. (RM)