Hari Pena Nasional Iran, Penghormatan untuk Profesi Penulis
Jul 04, 2021 16:31 Asia/Jakarta
-
Hari Pena Nasional Iran, 5 Juli
Hari Pena di Iran kuno diperingati setiap hari ke-13 bulan Tir (penanggalan Iran) bertepatan dengan Perayaan Tirgan (Jashn-e Tirgan), karena di hari itu Hushang, Raja dari silsilah Dinasti Pishdadian, mengumpulkan para penulis dan memberi penghormatan atas kerja mereka.
Akan tetapi dalam kalender resmi nasional Iran sekarang, tanggal 14 Tir atau 5 Juli diperingati sebagai Hari Pena Nasional.
Pena dan aktivitas yang terkait dengannya, sudah sejak lama mendapat perhatian khusus di Iran. Berabad-abad lamanya di masa Iran kuno, Jashn-e Tirgan di samping tiga perayaan lain yaitu Mehregan, Yalda, dan Noruz, merupakan momen hari besar yang dirayakan secara luas.
Saat ini, Jashn-e Tirgan atau Perayaan Tirgan masih dirayakan oleh para pengikut agama Zoroaster di Iran, dan tanggal 14 Tir atau 5 Juli sekarang di Iran diperingati sebagai Hari Pena Nasional, hari untuk memberi penghormatan kepada orang-orang yang berprofesi sebagai jurnalis, penerjemah, kritikus sastra, peneliti dan profesi terkait lainnya.
Sejarah penetapan tanggal 5 Juli sebagai Hari Pena Nasional Iran kembali ke tahun 1381 Hijriah Samsiyah atau 2002 ketika anggota Perhimpunan Pena Iran memutuskan untuk menetapkan sebuah hari sebagai penghormatan bagi para penulis namun tetap berakar pada budaya dan sejarah nasional Iran. Alasan pertama dipilihnya tanggal 14 Tir adalah bertepatan dengan Perayaan Tirgan, dan diakuinya secara resmi para penulis di masa Hushang, dan alasan kedua adalah Planet Merkurius atau Tir di Iran, yang dikenal sebagai “Planet Penulis”.
Dalam kalender Iran kuno, selain bulan-bulan yang datang silih berganti setiap tahun, setiap hari dalam sebuah bulan juga memiliki nama khusus, nama-nama ini sangat mirip dengan nama-nama bulan dalam setahun. Oleh karena itu, masing-masing bulan dalam setahun, satu kali namanya akan sama dengan salah satu nama hari. Kesamaan nama hari dan bulan ini dianggap sangat bernilai bagi orang-orang Iran kuno, dan mereka menyebutnya sebagai hari suci, lalu merayakannya.
Sebagai contoh, tanggal 13 setiap bulan dinamai Tir, dan setiap kali tanggal 13 jatuh di bulan Tir, hari ini dinamai sebagai Tirgan, dan di hari ini diselenggarakan perayaan sebagai hari besar agama Iran kuno. Banyak kisah legenda yang ditulis tentang hari ini, di antaranya cerita tentang Arash Si Pemanah atau Arash Kamangir yang di hari ini mendaki gunung Damavand, sambil membawa busur, dan anak panah yang dalam bahasa Persia disebut Tir, lalu menembakkannya ke arah Turan.
Di manapun anak panah itu jatuh, maka tempat itu ditetapkan sebagai batas wilayah antara Iran dan Turan. Menurut kisah tersebut, anak panah melesat selama satu hari satu malam dan akhirnya mengenai sebuah pohon kenari.
Kisah lain menyebutkan, di hari ini Hushang salah satu Raja dari Dinasti Pishdadian mengakui secara resmi profesi penulis, dan memerintahkan masyarakat untuk mengenakan pakaian khas para penulis di hari ini, dan memuliakan kedudukan mereka. Hal ini disampaikan oleh ilmuwan besar Iran, Abu Reyhan Biruni dalam bukunya yang berjudul Atsar Al Baqiah, Bab IX, ketika menjelaskan tentang Hari Raya Tirgan.
Planet Merkurius dikenal sebagai Planet Penulis. Alasan mengapa Merkurius disebut sebagai penulis kembali ke nama lain dari planet ini. Merkurius atau dalam bahasa Persia, Otared di masa Iran kuno disebut Tir, oleh karena itu ia dinamai Hari Tirgan atau malam ke-13 bulan Tir.
Otared dalam sastra Persia juga dikenal dengan “Dabir Falak” (sekretaris rasi bintang), diambil dari nama dewa Mercury dalam mitologi Romawi atau Hermes dalam mitologi Yunani yang berarti dewa penerjemah dan juru tafsir. Mercury atau Hermes adalah dewa pembawa pesan dewa-dewa lain, ia juga dewa pelindung sastra, pidato dan puisi.
Periode revolusi planet Merkurius merupakan yang terpendek dari semua planet di Tata Surya, yakni 87,79 hari. Mungkin karena ini juga Mercury atau Hermes kerap disebut sebagai dewa angin.
Di sisi lain, awal mula tulisan diketahui pada masa proto dengan sistem ideografik dan simbol mnemonik. Penemuan tulisan ditemukan pada dua tempat yang berbeda: Mesopotamia (khususnya Sumer kuno) sekitar 3.200 SM dan Mesoamerika sekitar 600 SM. Tidak diragukan kemajuan berbagai bangsa dunia tanpa bantuan tulisan dan bahasa, tidak mungkin dicapai.
Bahasa dapat dikatakan sebagai penemuan terpenting umat manusia, setelah itu huruf, angka dan tulisan, namun apa yang ditemukan dalam sejarah, intelegensia dan intelektualitas manusia tampak pada tulisan dan gambar. Sekarang kita tidak bisa mendengar lagi suara manusia dari masa ribuan tahun silam, tapi ada sejumlah manuskrip tulisan di tangan kita yang masih tersisa dari masa itu. Karenanya apa yang diwariskan kepada peradaban umat manusia hari ini adalah tulisan atau karya literasi.
Penulisan adalah pekerjaan yang sangat sulit sekaligus mudah, penulisan juga membantu aktivitas berpikir. Menulis merupakan salah satu aktivitas yang menciptakan keteraturan dalam pikiran dan hidup manusia. Sebagai contoh, seseorang yang memulai profesi sebagai penulis, awalnya mungkin akan merasa khawatir, dan menyimpan rasa marah yang terpendam, pertama ia menulis tentang semua sudut gelap yang disaksikannya, awalnya ia berbicara tentang berbagai permasalahan, dan tanpa disadari ia akan membaca ulang tulisan tersebut.
Perlahan-lahan ia akan menyaksikan poin-poin bersinar dalam tulisannya, dan akan menemukan fenomena tunggal. Penulis pada fase ini akan dilahirkan, dan jika ia memiliki bakat, dan pengetahuan, tapi yang lebih penting dari keduanya adalah kerja keras dan tekad kuat, maka ia bisa meraih posisi tinggi di bidang ini.
Ilmuwan sepanjang sejarah umat manusia dapat digolongkan ke dalam dua era, era prasejarah, dan era sejarah. Perbedaannya terletak pada ditemukannya huruf. Sejak manusia menemukan huruf, dan menuliskan sesuatu dengannya, lalu mewariskan karyanya dari satu generasi ke generasi berikutnya, saat itulah era sejarah dimulai. Sebelumnya disebut sebagai era prasejarah.
Oleh karena itu penemuan huruf dan tulisan sedemikian pentingnya sehingga ia mampu menentukan masa depan umat maunsia dan membedakannya dari masa lalu. Selain itu, seluruh peradaban masyarakat manusia lahir dari pengaruh huruf dan tulisan ini, seluruh ilmu pengetahuan diwariskan dari generasi ke generasi melalui jalan ini. Sebagaimana juga berbagai industri, penemuan dan inovasi berutang budi pada pena dan aktivitas penulisan.
Menulis merupakan aktivitas fisik bahasa lisan, dan manusia purba telah mengembangkannya. Sekitar 40.000 tahun lalu, di masa manusia modern Eropa pertama atau Cro-Magnon, ditemukan tulisan dan gambar di dinding gua yang digunakan sebagai alat komunikasi tertulis yang biasanya menceritakan aktivitas kehidupan sehari-hari. Lukisan dinding gua tersebut merupakan sebuah alat komunikasi, karena di beberapa kasus nampak lukisan peristiwa-peristiwa seperti berburu disertai peristiwa lain di dinding gua tersebut, yang tidak hanya sekadar lukisan bentuk hewan atau masyarakat.
Pencatatan sejarah tanpa kemampuan menulis, tidak mungkin dilakukan, karena tidak ada media apa pun yang bisa menjelaskan bukti-bukti fisik terkait masa lalu sebuah budaya atau peradaban, selain tulisan.
William Somerset Maugham, seorang novelis terkemuka Inggris tahun 1930 mengatakan, “Kebanyakan orang menjalani hidup yang sangat membosankan, karena itu, tenggelam dalam dunia yang berbahaya, dan petualangan yang membahayakan, bagi mereka sama dengan lepas dari hidup yang monoton. Tidak bisa diterima bahwa kisah dan cerita mampu memberikan informasi akurat tentang mereka yang berguna bagi kita. Pekerjaan penulis bukan berargumen, tapi merasakan dan menggugurkan khayalan serta menemukan sesuatu. Tujuan ideal menulis bukan mengajarkan sesuatu, tapi membuat gembira. Para penulis hidup tanpa dikenal. Masyarakat tidak akan menyaksikan artis film yang terkenal jika tidak keluar rumah, tapi mereka tetap menerima bayaran yang khusus.”
Ia menambahkan, “Sejak era prasejarah, manusia yang sudah dikaruniai potensi kreatif dalam dirinya bangkit, dan memberikan perhatian lebih pada kehidupan manusia yang sulit melalui karya lukisnya. Di seluruh masa, seniman dengan karya-karyanya mendapat sambutan luas. Jika penulis juga bisa mendapat sambutan hangat semacam ini, maka pasti mereka telah melakukan pekerjaan yang penting.” (HS)
Tags