Revolusi Iran, Revolusi yang Tak Tertandingi 2
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i32147-revolusi_iran_revolusi_yang_tak_tertandingi_2
Revolusi Islam Iran tanpa bergantung pada Timur atau Barat meraih kemenangan pada 11 Februari 1979 (22 Bahman 1357 Hs) dan menghancurkan konstelasi politik di sistem dua kutub yang menguasai dunia. Revolusi yang baru ini menjadi pusat perhatian elit politik dan masyarakat dunia. Mengingat 38 tahun usia revolusi yang mengalami pasang surut ini, banyak rahasia yang masih belum terungkap dari peristiwa ini, bagaimana revolusi Islam Iran menang dan pemerintahan Iran sebelum revolusi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 01, 2017 10:57 Asia/Jakarta

Revolusi Islam Iran tanpa bergantung pada Timur atau Barat meraih kemenangan pada 11 Februari 1979 (22 Bahman 1357 Hs) dan menghancurkan konstelasi politik di sistem dua kutub yang menguasai dunia. Revolusi yang baru ini menjadi pusat perhatian elit politik dan masyarakat dunia. Mengingat 38 tahun usia revolusi yang mengalami pasang surut ini, banyak rahasia yang masih belum terungkap dari peristiwa ini, bagaimana revolusi Islam Iran menang dan pemerintahan Iran sebelum revolusi.

Salah satu karakteristik penting dan menjadi indeks utama Revolusi Islam adalah sisi agamis revolusi ini di seluruh dimensinya. Pemimpin revolusi ini adalah ulama dan marji tertinggi. Slogan revolusi, independensi, kebebasan dan menghidupkan nilai-nilai Islam. Mereka yang menjadi pengikut Imam Khomeini adalah santri atau mereka yang memiliki kecenderungan besar terhadap agama.

 

Hal ini dengan sendirinya mendorong mereka yang bergabung dengan revolusi karena motif non agama, pasca kemenangan Revolusi Islam langsung memisahkan diri dari barisan agama dan malah melawan pemerintahan Republik Islam Iran yang baru berdiri. Front ini sebenarnya telah ada sebelum kemenangan revolusi. Di penjara rezim Shah Pahlevi, kelompok agama dan non agama juga terpisah. Kelompok non agama cenderung memisahkan diri dan menjaga jarak dari revolusioner agama.

 

Selama proses revolusi, dua kubu ini sering terlibat debat pendapat dan diskusi. Namun begitu motif memerangi rezim despotik Pahlevi membuat mereka menjaga toleransi selama di penjara. Untuk mengenal kondisi politik di Iran dan kondisi penjara sebelum revolusi, para tahanan ini memiliki banyak kenangan. Mayoritas pendukung dan sahabat Imam Khomeini dalam melawan rezim Mohammad Reza Pahlevi menjadi buronan, dipenjara atau diasingkan. Savak pertama-tama menangkap Imam Khomeini dan setelah satu tahun diasingkan ke Turki, kemudian dipindahkan ke Irak. Untuk selanjutnya Savak mulai memburu pendukung dan sahabat Imam Khomeini.

 

Para tahanan ini memiliki memori dan kenangan pahit atas penjara dan siksaan mengerikan agen Savak, salah satu dinas rahasia paling menakutkan dunia saat itu. Mayoritas agen Savak mendapat pelatihan dinas rahasia Israel Mossad atau dinas intelijen Amerika Serikat CIA. Savak dibentuk Shah Pahlevi pasca kudeta AS dan Inggris tahun 1953 terhadap pemerintahan Dr. Mohammad Mosaddegh untuk mengawasi aktivitas kubu oposisi dan menangkap mereka. Meski Shah saat itu mengklaim tidak ada penjara politik dihadapan organisasi HAM, namun penjara-penjara Shah Pahlevi dipenuhi tahanan politik.

 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei juga termasuk pejuang dan pendukung Imam Khomeini di kebangkitan Islam melawan Shah Pahlevi. Perjuangan politik Ayatullah Khamenei dimulai di kota suci Qom pada tahun 1962 dan hingga kemenangan revolusi, perjuangan beliau ini terus berlanjut meski beliau menghadapi beragam siksaan, penjara dan pengasingan.

 

Selama perjuangannya tersebut, Ayatullah Khamenei enam kali ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Beliau menyebutkan alasan penangkapan enam kali tersebut adalah karena perjuangannya yang merusak keamanan nasional dan menggerakkan masyarakat melawan pemerintahan despotik Shah Pahlevi. Pengalaman perjuangan beliau melawan Shah dan penangkapannya oleh agen pemimpin despotik sangat pahit namun juga enak dibaca serta memberi pelajaran kehidupan berharga beliau. Penangkapan kelima Rahbar karena beliau menentang perayaan 2500 tahun sistem kerajaan dan beliau mendapat siksaan yang cukup berat. Savak saat itu berusaha keras menghapus segala rintangan yang mencegah terselenggaranya acara tersebut.

 

Di memorialnya, Ayatullah Khamenei terkait hari-hari mengerikan saat itu mengatakan, “Kakinya diikat ke ranjang. Sebuah cambuk digantung di dinding...salah satu sipir penjara mengambil cambuk tersebut dan mulai mencambuki telapak kakinya. Sipir mulai mengayunkan cambuk dan memukuli telapak kaki Ayatullah Khamenei, ketika sipir penjara lelah, temannya datang menggantikannya dan mulai memukul. Mereka memukulinya hingga pingsan. Orang ketiga mengambil cambuk tersebut dan mulai memukul hingga lelah, orang keempat dan seterusnya. Mereka yang di ruangan memiliki waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisinya. Sebagian sipir membasahi cambuk dan mulai mencambuki Ayatullah Khamenei.”

 

Terkait penangkapannya ini Ayatullah Khamenei menulis, “Selama proses penyiksaan, salah satu agen Savak memintaku untuk membenci fulan atau kebangkitan Islam. Aku menolaknya dan mereka kemudian memukuliku hingga pingsan.” Mengenai penangkapan dirinya yang keenam oleh agen Savak, Rahbar mengatakan, “Aku menghabiskan hari-hari yang sulit selama di penjara..Tidak ada yang mampu merasakannya kecuali mereka yang pernah mengalami hal serupa. Siksaan badan dan mental adalah makanan siang dan malam kami. Teriakan mereka yang tengah disiksa membuat telinga kami tuli dan terkadang teriakan kesakitan ini berlangsung dari malam hingga pagi. Bentuk siksaan pun sangat terarah dan profesional. Penjara ini berusaha menghancurkan semangat dan kepribadian para tahanan.”

 

Pengakuan Manoochehri, salah satu petugas interogasi Savak yang paling sadis, menjadi bukti paling kongkret terkait aktivitas politik dan propaganda Ayatullah Khamenei selama pemerintahan despotik Shah. Terkait penyiksaan Ayatullah Khamenei, Manoochehri mengatakan, “Aku mengenalmu dengan baik. Kamu tak ubahnya seperti ikan yang menyelinap dan lolos dari tangan interogator. Aktivitas kecilmu tak seberapa, namun jika dikumpulkan, hanya Tuhan yang tahu.”

 

Dua tahun sebelum kemenangan Revolusi Islam di tahun 1979, Ayatullah Khamenei dicekal untuk melakukan aktivitas sosial. Beliau saat itu dilarang berpidato, mengajar dan bahkan berkumpul bersama keluarganya. Savak berusaha keras memutus hubungan Ayatullah Khamenei dengan seluruh rakyat. Agen-agen Savak dengan ketat mengawasi interaksi Ayatullah Khamenei.

 

Salah satu tokoh terkemuka Revolusi Islam Iran yang mendapat siksaan keji dari rezim despotik Shah Pahlevi adalah Shahid Mohammad Ali Rajaee, presiden kedua Republik Islam Iran. Shahid Rajaee adalah tokoh pejuang terkemuka yang gigih dan tak kenal lelah selama berjuang melawan pemerintahan despotik. Di era 1950-1970, Shahid Rajaee sangat terkenal dan bahkan kegigihan, kejujuran dan lapang dada beliau menjadi teladan, khususnya kapasitas beliau sebagai seorang guru.

 

Shahid Rajaee terkait penangkapan dirinya menulis, “Saat itu ketika Saya masih di komite revolusi, Saya benar-benar menyaksikan neraka. Ayat ke 13 surat al-A’la yang artinya “Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup” yang mensifati neraka jahanam benar-benar selaras dengan kondisi komite ini. Mereka yang dijebloskan ke penjara tak ubahnya dengan mayat. Ada sedikit jejak kehidupan di tubuh mereka. Mereka disiksa hingga mendekati kematian. Kemudian mereka diobati, untuk kemudian disiksa lagi.”

 

Shahid Rajaee di memorialnya menulis, “Di antara bentuk siksaan yang saya ketahui adalah siksaan yang disebut Savak dengan istilah Jatah. Jatah saya adalah 20 hari. Artinya selama 20 hari penuh saya dipukuli dan menerima beragam siksaan lain. Mereka kemudian berteriak, Ayo mengaku! Atau setiap hari mereka mengikat kepalaku hingga ke lutut selama beberapa jam. Kemudian mereka beteriak, Ayo pukul! Kemudian mereka mensalib dan menggantung diriku dan berteriak, Ayo mengaku!

 

Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, Shahid Rajaee diangkat sebagai menteri pendidikan dan kemudian terpilih sebagai perdana menteri. Sebagai perdana menteri, Shahid Rajaee mewakili Republik Islam di sidang Majelis Umum PBB di New York. Lawatan ini terjadi di kondisi sangat sensitif di sejarah Iran, yakni ketika perang delapan tahun yang paksakan meletus dan di kondosi krisis pendudukan kedutaan besar Amerika oleh mahasiswa Iran. Dunia sangat antusias mendengar pidato perwakilan pemerintah yang tak dikenal ini.

 

Shahih Rajaee menyampaikan pidato lengkap sidang Dewan Keamanan PBB dan selain mengutuk aksi rezim Baath Irak dan pendukungnya, menekankan kebenaran Republik Islam Iran. Namun yang membuat lawatan ini kekal adalah langkah Shahid Rajaee di konferensi pers kedua di sela-sela sidang ini. Saat menjelaskan sikap Republik Islam Iran di kebijakan luar negeri dan isu penyanderaan staf kedubes AS, Shahid Rajaee meletakkan kakinya ke meja dan berkata, “Selama dua tahun saya berada di penjara rezim terguling Shah, penjara Carter dan AS. Bekas siksaan selama di penjara yang aku alami, setelah empat tahun masih terlihat...Selama dua tahun penuh Saya merasakan pukulan cambuk Carter di kakiku...Sementara kami memperlakukan para sandera staf kedubes Amerika dengan perlakuan manusiawi.”