29 Bahman dalam Perspektif Rahbar
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i33272-29_bahman_dalam_perspektif_rahbar
Setiap tanggal 29 Bahman, ribuan warga Tabriz dari berbagai lapisan masyarakat bertemu dengan pemimpin besar Revolusi Islam Iran. Tahun ini, momentum penting yang digelar bertepatan dengan peringatan empat puluh hari kesyahidan para pejuang kota Qom pada 19 Day 1357 Hs yang gugur melawan rezim despotik Shah Pahlevi kembali digelar di Huseiniah Imam Khomenei.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Feb 21, 2017 14:36 Asia/Jakarta

Setiap tanggal 29 Bahman, ribuan warga Tabriz dari berbagai lapisan masyarakat bertemu dengan pemimpin besar Revolusi Islam Iran. Tahun ini, momentum penting yang digelar bertepatan dengan peringatan empat puluh hari kesyahidan para pejuang kota Qom pada 19 Day 1357 Hs yang gugur melawan rezim despotik Shah Pahlevi kembali digelar di Huseiniah Imam Khomenei.

Ketika itu, militer rezim Shah membombardir rakyat Iran, termasuk warga Azerbaijan yang turun ke jalan sehingga banyak yang syahid dan terluka. Peristiwa tersebut memainkan peran penting dalam kemenangan Revolusi Islam Iran. Tahun ini, rakyat revolusioner Tabriz kembali menyatakan sumpah setiap kepada pemimpin Revolusi Islam Iran sebagai bagian dari kelanjutan perjuangan 29 Bahman.

 

Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei menyambut kedatangan warga Tabriz dalam pertemuan memperingati peristiwa 29 Bahman. Rahbar menyebut hari tersebut sebagai salah satu hari yang yang heroik dan agung di Huseiniyah Imam Khomenei. Ayatullah Khamenei menilai peristiwa 29 Bahman bukan sekedar peristiwa bersejarah semata, tapi lebih dari itu mengandung pelajaran penting  bagi seluruh elemen bangsa Iran.

 

Rahbar dalam pidatonya menyinggung peran rakyat Tabriz dalam peristiwa bersejarah boikot tembakau, gerakan revolusi konsitusi, nasionalisasi minyak, Revolusi Islam dan perang pertahanan suci. Ayatullah Khamenei menegaskan, warga Tabriz sejak sekitar 120 tahun lalu menjadi salah satu poros utama perjuangan di berbagai momentum penting, maupun transformasi sosial dan politik di Iran.

 

Iran termasuk negara yang relatif memiliki keragaman etnis, antara lain: Farsi, Arab, Turki, Lor, Baluch dan Kurdi, yang hidup rukun di negeri ini. Tapi musuh berupaya menyulut friksi antaretnis demi melemahkan independensi Iran. Meskipun demikian, tujuan tersebut tidak pernah terwujud berkat persatuan nasional yang terjalin erat. Berkat dukungan seluruh elemen bangsa, terhadap Revolusi Islam dari mulai Arab Khozestan hingga Kurdi Sunni serta Baluch di Sistan Balouchistan, musuh tidak pernah bisa melumpuhkan Iran.

 

Pemimpin besar Revolusi Islam Iran dalam statemennya menjelaskan sepak terjang musuh, termasuk Inggris yang berupaya menyulut konflik antaretnis. Rahbar mengatakan, sepanjang sejarah, warga Muslim Azerbaijan senantiasa menjadi benteng menghadapi berbagai konspirasi yang berupaya memecah belah bangsa, dan tidak akan mengizinkan musuh menyerang Revolusi Islam.  “Orang-orang Azerbaijan senantiasa berdiri tegar menghadapi pihak rakus yang berupaya menyulut friksi etnis di dalam negeri, dan saat ini pun tetap melanjutkannya,” ujar Rahbar.

 

Ayatullah Khamenei kembali menegaskan urgensi persatuan nasional Iran. “Meskipun terdapat perbedaan pandangan politik, tapi ketika menyangkut masalah Islam, Iran, independensi dan resistensi dalam menghadapi musuh, seluruh elemen bangsa bersatu,” tutur Ayatullah Khamenei.

 

Di bagian lain pidatonya, Rahbar menyinggung kerusuhan tujuh tahun lalu di Iran yang dilancarkan dengan dalih kecurangan dalam hasil pemilu presiden. Menurut beliau, kerusuhan di dalam negeri Iran, terutama di Tehran ini mendapat dukungan  penuh dari AS dan Inggris. Tapi semua itu berhasil diredam dan diakhiri berkat kewapadaan bangsa Iran dan aksi spontan rakyat yang turun ke jalan pada 9 Day.

 

Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan warga Tabriz juga mengucapkan terima kasih atas peran aktif seluruh elemen bangsa Iran dalam memeriahkan peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran, 22 Bahman yang memasuki ke-38. “22 Bahman tahun ini bagi Revolusi dan pemerintahan Islam dan juga Iran Islami kembali berwibawa… Orang-orang yang setiap tahun menghina pawai 22 Bahman dengan menyebutnya hanya dihadiri ribuan orang (padahal faktanya jutaan orang), tahun ini mereka menggunakan kata jutaan orang. Ya, benar, jutaan manusia di seluruh penjuru Iran turun ke jalan… Bersyukurlah kita kepada Tuhan karena hati orang-orang tertuju ke arah masalah ini,” papar Rahbar.

 

Pemimpin besar Revolusi Islam Iran mengungkapkan, Musuh Revolusi sepanjang tahun melancarkan propaganda anti Revolusi Islam dengan bantuan kucuran dana dari CIA, Mossad dan dinas spionase Inggris, juga gelontoran dolar  minyak pihak tertentu. Mereka juga disokong media global untuk melancarkan berbagai aksi demi melemahkan revolusi Islam.Tapi kehadiran dan peran aktif seluruh elemen bangsa, termasuk dalam pawai 22 Bahman berhasil melumpuhkan konspirasi musuh. Rahmat ilahi ini menjadi hujan yang membersihkan udara dari polusi. Menurut Rahbar, “Aksi pawai 22 Bahman sebagai sebuah gerakan agung yang membersihkan pikiran orang mengenai Revolusi Islam. Inilah 22 Bahman,”.

 

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menilai upaya musuh menargetkan Revolusi Islam selama ini sia-sia belaka. Rahbar menegaskan, Revolusi Islam sepanjang 38 usianya telah melakukan berbagai capaian besar dan penting bagi kemajuan bangsa dan negara. Menurut beliau, adanya sejumlah masalah yang masih menghadang jangan sampai melupakan kemajuan yang telah dicapai.

 

Ayatullah Khamenei menyebutkan berbagai capaian Revolusi Islam, misalnya kemajuan di bidang saintifik dan ilmu pengetahuan. Rahbar mengungkapkan, “Jumlah mahasiswa, kemajuan sains, infrastruktur, berbagai capaian kebudayaan, harga diri dan martabat bangsa dibandingkan sebelum revolusi dengan periode thagut; ketika berada di bawah cengkeraman AS, ketika Tehran menjadi tempat istirahat bagi unsur-unsur Zionis, ketika mereka lelah datang ke sini, lalu beristirahat di taman-taman, berpesta, lalu kemudian kembali; [tapi] Kondisi saat ini berbeda dengan sebelum Revolusi. Negara ini maju, terus bergerak ke depan,”.

 

Ayatullah Khamenei menjelaskan kondisi bangsa dan negara Iran di era rezim Pahlevi sebelum kemenangan Revolusi Islam yang sangat bergantung kepada AS dan Inggris serta kekuatan besar dunia lainnya. Rahbar berkata, ”Bangsa ini menjadi terhina, seluruh potensi bangsa sia-sia, sebagian menyerah kepada musuh. Tapi ketika revolusi tiba, seluruh potensi bangsa aktif kembali; kini negara ini terhormat. Kini di tingkat regional, hampir di seluruh bidang, tanpa Iran, tanpa kehadiran Iran, tanpa upaya Iran, [maka] tidak akan maju,”

 

Ayatullah Khamenei menambahkan, “Bangsa Iran menunjukkan dirinya sebagai bangsa pejuang; semua ini diakui musuh dalam analisis-analisis mereka sendiri. Mereka mengatakan, bangsa Iran tidak bisa dihadapi langsung; [sebab] bangsa yang resisten, tegar dan tidak akan bertekuk lutut terhadap musuh; inilah kemuliaan. Coba bandingkan kemuliaan ini dengan periode kehinaan yang mereka [musuh] lakukan terhadap bangsa ini dahulu. Ya, jelas sekali. Inilah faktor yang menjadi keceriaan dan semangat para pemuda,”.

 

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyinggung slogan tahun ini mengenai ekonomi resistif, dan meminta pejabat Iran menyampaikan laporan hasil kerja kerasnya di bidang tersebut. Rahbar menegaskan urgensi masalah perekonomian nasional, dan menyerukan kewaspadaan seluruh elemen bangsa, terutama pejabat Iran menghadapi konspirasi musuh di bidang ekonomi.

 

Ayatullah Khemenei mengatakan, Musuh menciptakan masalah di bidang ekonomi dengan tujuan menyulut ketidakpercayaan dan instabilitas. Beliau menegaskan supaya pejabat Iran memanfaatkan seluruh potensi dalam negeri untuk membangun, dan memperkuat perekonomian Iran.

 

Terkait ancaman baru AS terhadap Iran, Ayatullah Khamenei mengungkapkan, “Baik di masa pemerintahan terdahulu AS maupun di era pemerintahan saat ini, salah satu trik musuh, sebagaimana dilakukan Trump, adalah melemparkan ancaman perang; dan opsi militer di atas meja, atau sejenisnya. Pejabat Eropa juga demikian. Mereka mengatakan kepada para pejabat kita, jika tidak ada JCPOA, pasti perang akan meletus; semua ini bohong belaka.

 

Mengapa mengatakan perang ? Supaya benak kita tertuju perang. [tapi] perang sebenarnya lain lagi; perang sebenarnya adalah perang ekonomi, perang sejati adalah sanksi, perang sebetulnya adalah menciptakan lapangan kerja dan program teknologi di dalam negeri; inilah perang sebenarnya.

 

Perang sejati adalah perang budaya; menghadapi aktivitas televisi dengan beraneka ragam siaran,  dan berbagai saluran di jaringan internet yang bertujuan untuk mengalihkan pikiran dan hati para pemuda dari agama, kesucian dan nilai –nilai lainnya; mereka sedang melakukannya; dengan dana besar-besaran. Inilah perang sejati !”

 

Dalam pertemuan dengan warga Tabriz, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran di akhir pidatonya memuji para pemuda pemberani Iran, terutama Azerbaijan. “Kita harus melangkahkah kaki lebih besar untuk menunaikan janji pemerintahan Islam yaitu membentuk sebuah masyarakat Islam yang adil, maju dan berdaulat, mulia serta kuat; dan dengan izin Allah swt kita bisa meraihnya.