Dinamika Ekonomi Iran dan Indonesia
Kunjungan resmi Presiden Joko Widodo ke Iran Desember 2016 lalu menandai babak baru peningkatan hubungan bilateral. Pemerintah Indonesia dan Iran terus meningkatkan upayanya masing-masing demi memperperat kerja sama di berbagai bidang. Salah satu yang menjadi perhatian kedua pihak adalah masalah ekonomi.
Hubungan ekonomi kedua negara saat ini menghadapi tantangan besar. Total perdagangan Iran dan Indonesia pernah mencapai angka 1,8 miliar dolar di tahun 2011. Tapi kemudian mengalami penurunan di tengah gencarnya sanksi Barat terhadap Iran yang mempengaruhi hubungan perekonomian dengan Indonesia.
Nilai perdagangan Iran dan Indonesia pada 2013 hanya sebesar 568 juta dolar. Angka tersebut terus merosot setahun kemudian hingga 448,6 juta dolar. Oleh karena itu, Presiden Jokowi menginstruksikan jajaran kabinetnya untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan Tehran. Belakangan ini terjadi geliat baru dengan pertumbuhan yang mulai meningkat didorong semakin intensnya saling kunjung pejabat tinggi kedua negara.
Kunjungan terbaru dilakukan menteri koordinator bidang perekonomian Republik Indonesia, Darmin Nasution pada 26 hingga 27 Februari 2017. Lawatan doktor ekonomi jebolan universitas Sorbonne ini disertai rombongan pejabat tinggi dari bank Sentral Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kamar dagang dan industri (Kadin) Indonesia, dan pihak perbankan, serta pengusaha. Selain itu, kunjungan menko perekonomian Indonesia ke Iran didampingi wakil menteri ESDM, Archandra Tahar dan pejabat pertamina. Terkait kunjungan ini, Menteri Koordinator bidang perekonomian menuturkan:
Kunjungan terbaru pejabat tinggi Indonesia ke Iran membawa agenda peningkatan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Di tengah gejolak ekonomi global yang mengalami perlambatan, perekonomian Indonesia masih tumbuh di atas lima persen yang menunjukkan stabilitas perekonomian pemerintahan Jokowi.
Pesatnya pembangunan di Indonesia menarik perhatian berbagai negara, termasuk Iran. Pada saat yang sama, Iran kaya dengan sumber daya energi, terutama minyak dan gas yang dibutuhkan oleh Indonesia. Di luar hubungan politik kedua negara yang stabil dan bersahabat, pemerintah Indonesia dan Iran terus meningkatkan hubungan ekonomi dengan memanfaatkan potensi besarnya masing-masing yang saling melengkapi. Bahkan, pemimpin besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan presiden Indonesia, Joko Widodo di Tehran mengungkapkan bahwa total volume perdagangan Indonesia dan Iran saat ini sangat kecil, karena potensinya bisa mencapai 20 miliar dolar.
Kerja sama di sektor minyak menjadi salah satu agenda besar yang dibahas dalam pertemuan antara pejabat Indonesia dan Iran pada Senin (27/2/2017). Terkait hal ini, Rudy Rajab, Wakil Ketua Komite Tetap Kadin bidang Timur Tengah dan OKI menjelaskan upaya yang sedang ditempuh kedua pihak dalam proyek kilang minyak:
Salah satu persoalan yang masih menghambat hubungan perdagangan kedua negara adalah masalah keuangan yang terus dicari solusinya oleh pejabat terkait kedua negara. Harmanta, Direktur Grup Kebijakan Internasional, Departemen Internasional bank Sentral Indonesia menjelaskan tujuan kunjungannya ke Iran.
Selain hubungan antarinstitusi pemerintah dan BUMN kedua negara, hubungan ekonomi dan perdagangan antara Iran dan Indonesia melibatkan peran aktif sektor swasta yang mendukung solusi penyelesaian masalah pembayaran yang selama ini menjadi salah satu kendala besar dalam hubungan perdagangan antara Indonesia dan Iran. Mengenai masalah ini, Denny Darmawan, direktur divisi perdagangan global Bank Sinar Mas memaparkan langkah perbankan swasta Indonesia ini dalam mendukung kemudahan ekspor dengan Iran.(PH)