Iran, 40 Tahun Pasca Revolusi Islam (18)
-
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei ketika berpidato di Komplek Makam Imam Ridha as di kota Mashad.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya menyambut tahun baru Iran 1397 Hijriah Syamsiah (Maret 2018) di Komplek Makam Imam Ali Ridha as di kota Mashad, mengatakan salah satu alasan eksisnya nilai-nilai Revolusi Islam di usia 40 tahun sistem Republik Islam adalah karena tekad mempertahankan cita-cita revolusi.
"Kehadiran Iran di beberapa negara regional terjadi atas permintaan pemerintah dan rakyat mereka. Kami tidak bersikap arogan dan tidak mencampuri urusan internal negara-negara. Mereka meminta bantuan dan kami membantunya, bantuan ini juga dengan pertimbangan yang sangat rasional," ujarnya.
Edisi kali ini akan mengkaji tentang kebijakan Iran dalam mendukung Suriah dan perang memberantas teroris Daesh.
Republik Islam Iran secara konsisten memperjuangkan perdamaian dan keamanan internasional berdasarkan prinsip-prinsip strategisnya. Perang dan kekerasan tidak pernah punya tempat dalam doktrin militer Iran, dan ini telah menyebabkan Tehran memainkan peran aktif di bidang perdamaian dan keamanan dunia.
Selama beberapa tahun terakhir, kelompok-kelompok teroris secara serius telah merongrong keamanan di sebagian wilayah Asia Barat. Sementara itu, Amerika Serikat dan beberapa sekutunya termasuk Inggris, telah membuat kerja sama keamanan di kawasan menjadi sulit.
AS bersama beberapa rezim agresor membentuk sebuah koalisi anti-terorisme, tetapi pada prakteknya, mereka justru mendukung kelompok-kelompok teroris dan tidak sungguh-sungguh menumpas teroris. Sebaliknya, Republik Islam Iran – sebagai negara dengan posisi strategis di Timur Tengah – memainkan peran yang efektif dalam membangun keamanan dan perdamaian melalui penyelesaian krisis di Suriah.
Iran senantiasa berusaha untuk membuka peluang kerja sama dan memperkuat dialog internasional guna memerangi terorisme. Hal ini dilakukan dengan membela hak bangsa-bangsa tertindas dan menolak segala bentuk agresi, mengutuk setiap pendudukan, serta dengan memainkan peran aktif di Gerakan Non-Blok (GNB).
Republik Islam Iran melibatkan diri dalam penyelesaian krisis Suriah dengan menawarkan strategi pertahanan dan menciptakan stabilitas. Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura berkali-kali mengapresiasi upaya Iran untuk menemukan solusi politik guna mengakhiri krisis Suriah.
Iran sebagai sekutu pemerintah Suriah akan mempertahankan kehadiran di negara itu dan terus memberikan bantuan konsultatif selama diminta oleh Damaskus.
Iran memainkan peran yang bertanggung jawab terkait berbagai krisis lain di kawasan, termasuk Yaman dan membantu meringankan beban penderitaan yang menimpa Muslim Rohingya di Myanmar melalui forum-forum internasional.
Berdasarkan program 20-Year National Vision, Republik Islam Iran harus memberikan inspirasi, tampil aktif, dan berpengaruh di Dunia Islam dengan memperkuat model demokrasi religius, pembangunan yang efektif, masyarakat yang beretika, dan melakukan inovasi di bidang pemikiran dan sosial, serta mewujudkan konvergensi Islam dan regional.
Kedudukan politik dan geografi Iran di wilayah strategis Asia Barat dan secara umum Dunia Islam, telah menjadikan Republik Islam sebagai referensi penting untuk perdamaian dan keamanan regional dan internasional.
Tehran juga memainkan peran aktif dalam membangun keamanan permanen dengan partisipasinya di lembaga-lembaga penting internasional, termasuk PBB, GNB, Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dan badan-badan lain PBB. Iran menunjukkan keseriusannya menjamin keamanan permanen dengan menjaga stabilitas dan keamanan regional.
Peran aktif Iran telah membantu memecahkan krisis Suriah dan pada akhirnya, memperkuat perdamaian dan keamanan di Timur Tengah. Pendekatan matang Iran dalam memerangi terorisme Daesh di Suriah dan Irak, mengharuskan Tehran untuk memperkuat kehadirannya di forum regional dan internasional demi mengakhiri kekerasan di kedua negara tersebut.
Pada Desember 2014, Konferensi Internasional Dunia Menentang Kekerasan dan Ekstremisme yang pertama diselenggarakan di Tehran dengan kehadiran presiden Iran, para pejabat politik, pakar, dan pemikir dari lebih dari 50 negara dunia. Pada pertemuan itu, Presiden Iran Hassan Rouhani menawarkan proposal 10 poin untuk menciptakan perdamaian dan keamanan serta memerangi kekerasan di tingkat global. Proposal ini mencerminkan bahwa diplomasi Iran memiliki pemahaman yang benar dan tepat waktu tentang situasi krisis di kawasan.
Surat kabar Korea Selatan, The Korea Herald dalam sebuah artikel pada April 2016, memuji kebijakan yang diadopsi Iran di wilayah Timur Tengah.
"Dari perspektif berbagai negara, pemerintah Iran memiliki inisiatif untuk menciptakan perdamaian di seluruh Timur Tengah dan ini terbilang menarik," tulis The Korea Herald.
Pada November 2017, majalah Amerika The National Interests mengkritik kebijakan "permusuhan maksimum" Washington terhadap Tehran dan menilai partisipasi Iran untuk stabilitas regional sangat penting.
"Mengejar tatanan keamanan yang dipimpin AS di Timur Tengah telah menghabiskan darah dan harta warga Amerika selama lebih dari setengah abad. Terlepas dari perhatian besar yang diberikan para ahli strategi AS ke kawasan, intervensi Amerika telah berfungsi lebih untuk memperlihatkan keterbatasan kekuatan AS dalam melakukan pembangunan bangsa, secara efektif menghadapi pemberontakan lokal, mengembalikan ketertiban ke daerah-daerah yang sudah lepas kontrol, mengatasi para penggerak terorisme, dan berinteraksi secara fleksibel dengan setiap kekuatan regional."
Menurut The National Interests, hal yang telah membuat AS tidak mampu menghadapi tantangan Timur Tengah adalah kurangnya visi ke depan di antara para pengambil keputusan di Washington; sebuah masalah yang diperparah oleh narasi palsu yang sering mereka dapatkan.
Sejak pecahnya Revolusi Islam, doktrin keamanan nasional Iran ditujukan untuk mencapai pencegahan efektif terhadap ancaman yang datang dari AS dan Israel di kawasan.
Laporan Pentagon pada Januari 2014 menyatakan doktrin militer Iran dibangun atas karakter defensif. Ini dirancang untuk mencegah serangan, bertahan dari serangan awal, membalas terhadap agresor, dan memaksakan solusi diplomatik untuk permusuhan sambil menghindari konsesi yang mengancam kepentingan intinya.
“Mengingat sikap defensif Iran dan statusnya sebagai negara penghasil dan transit energi utama, ia memiliki saham dalam stabilitas regional dan memastikan aliran energi, barang, dan orang yang aman masuk dan keluar dari Teluk Persia dan wilayah yang lebih luas. Jadi, Iran harus dipandang sebagai pemain kunci yang keterlibatannya diperlukan untuk mendorong stabilitas regional, sama seperti kekuatan regional dan global lainnya,” kata laporan tersebut.
Dalam berbagai pertemuan regional dan internasional mengenai keamanan dan perdamaian global, para pejabat Iran berulang kali menekankan bahwa perlu tindakan mendasar untuk memajukan perang melawan kekerasan dan ekstremisme serta untuk mempromosikan budaya perdamaian dan toleransi di dunia.
Republik Islam Iran menginginkan perdamain tidak hanya untuk Suriah, tetapi juga untuk Yaman, Lebanon, dan Irak, serta mengusulkan pembicaraan yang jauh dari pertikaian. (RM)