Menelisik Pandangan Para Pemikir Besar tentang Revolusi Islam Iran
-
Imam Khomeini ra tiba di Tehran
Mengenai Revolusi Islam, apa yang paling memengaruhi pikiran para ilmuan dan tokoh dunia adalah tentang mengapa dan bagaimana terjadinya revolusi agung ini. Dalam analisanya, berkali-kali mereka mengagumi revolusi ini dan yang lain, tentu saja, mengekspresikan ketidakmampuan mereka memahami pelbagai dimensinya.
Tidak diragukan lagi bahwa Revolusi Islam Iran telah menjadi salah satu peristiwa besar dunia kontemporer. Fenomena yang telah menyebabkan para pemikir besar dunia, dari Timur dan Barat, dengan agama, keyakinan dan pemikiran apapun mengakui keagungan revolusi ini. Bahkan mereka yang menentang revolusi ini tidak dapat mengabaikan besarnya dan pentingnya peristiwa ini dan tidak mengungkapkan keterkejutan mereka tentang kejadian ini.
Kemenangan rakyat tanpa senjata atas pemerintah yang memiliki kemampuan militer terbaik dan mendapat dukungan negara adikuasa, seperti Amerika Serikat, mengejutkan bagi para pemikir dan politisi dunia. Kekuatan iman yang bangkit atas semua materialisme Barat dan pembentukan pemerintahan berdasarkan agama ilahi di dunia yang berada di jalur kejatuhan yang cepat di lembah ketidakpercayaan akan Tuhan dan agama.
Yang paling mempengaruhi sebagian besar pikiran para ilmuan dan tokoh dunia adalah mengapa dan bagaimana terjadinya revolusi agung ini. Dalam analisanya, berkali-kali mereka mengagumi revolusi ini dan yang lain, tentu saja, mengekspresikan ketidakmampuan mereka memahami pelbagai dimensinya.

Profesor Bernard Lewis, orientalis Yahudi keturunan Amerika paling terkenal, dimana karyanya telah diterjemahkan ke dalam 23 bahasa, dalam buku Cultures in Conflict: Christians, Muslims, and Jews in the Age of Discovery, membandingkan keberhasilan gerakan-gerakan baru untuk menghidupkan kembali pemikiran keagamaan di negara-negara Islam. Lewis menulis, "Ekstremis Mesir hanya berhasil menghancurkan penguasa mereka, tetapi rezim Mesir tetap selamat dan terus mengejar kebijakannya, tetapi ekstremis Iran lebih sukses. Mereka menghancurkan rezim dan memenangkan revolusi luas di negara mereka sehingga reputasinya mengalir ke dunia Islam."
Profesor Andrea Meier, orientalis dan ahli teologi Kristen penulis buku "Misi Politik Islam" (Der politische Auftrag des Islam), di halaman 299 buku itu menulis, "Dengan berdirinya Republik Islam Iran sebagai hasil dari Revolusi Islam, misi politik Islam dilembagakan dan sejauh ini tak tertandingi. Untuk pertama kalinya, sistem politik Islam yang berdasarkan Islami dengan cara revolusioner menggantikan rezim yang berorientasi non-religius Barat (sekuler). Transformasi ini, di mata banyak Muslim adalah kemenangan melawan supremasi kekuasaan kolonial dan post-kolonialisme. Yang dimaksud dengan kekuatan supremasi Barat adalah negara adidaya Amerika. Oleh karena itu, Revolusi Islam di Iran untuk Muslim di seluruh dunia menjadi model untuk realisasi penuh "Negara Ideal Islam".
Dr. Fosbari, pendeta dan pimpinan universitas-universitas Katolik Amerika Latin mengatakan "Imam Khomeini, menggunakan akar budaya Islam sebagai penyebab pergerakan historis bangsanya. Dia mampu menciptakan gerakan besar di negara-negara Islam dengan revolusi agama politik. Ini membuka kepada kita pesan yang paling penting di antaranya adalah mungkin untuk mengembalikan substansi spiritual, kekuatan ilahi dan iman kepada Tuhan. Dengan membuka kembali jalan ini, Imam Khomeini sangat mengguncang hati nurani Barat, meskipun kelompok-kelompok media Barat berusaha menyembunyikannya."
Michel Foucault, filsuf, sejarawan dan pemikir kontemporer Perancis yang merupakan salah satu pemikir terkemuka abad kedua puluh karena pandangannya yang terkenal tentang masyarakat, politik dan sejarah. Dia dua kali di bulan Oktober dan November 1979, yakni di hari-hari sulit perjuangan rakyat Iran dan beberapa bulan sebelum kemenangan rakyat, melakukan perjalanan ke Iran. Dalam perjalanan yang dilakukannya di Tehran, Qom dan Abadan, ia melakukan pertemuan dengan beberapa pemimpin nasional dan agama dan berbagai kelompok yang terlibat dalam revolusi.
Foucault telah menerbitkan serangkaian artikel tentang dua perjalanan ini dalam sebuah buku berjudul " What Are the Iranians Dreaming About?" Michel Foucault, di masa itu telah mengingatkan kebaikan dan keagungan Revolusi Islam Iran. Ia menulis, "Menghapus rezim Pahlavi di Iran adalah fenomena besar dan sosial, namun tidak berarti ada kebingungan atau emosional atau tidak terlalu sadar akan dirinya sendiri, melihat cara penyebarannya sangat efektif; mulai dari pemogokan ke demonstrasi, dari pasar ke universitas, dari selebaran ke prediksi dan perantaranya adalah pedagang, ulama, buruh, profesor dan mahasiswa. Dalam sistem politik, gerakan ini tidak memiliki bandingan, baik manifestasi maupun lahiriah."
Michel Foucault menggambarkan kepribadian Imam Khomeini sebagai pemimpin revolusi rakyat Iran yang tak tertandingi. Ia menulis, "Peran kepribadian Ayatullah Khomeini berdampingan dengan mitos. Saat ini, tidak ada kepala pemerintahan atau pemimpin politik apa pun, bahkan dengan dukungan dari semua media di negaranya, dapat mengklaim bahwa rakyatnya memiliki hubungan pribadi dan kuat dengan dia. Khomeini tidak mengatakan apa-apa, hanya tidak; tidak kepada shah, tidak kepada rezim dan tidak kepada kebergantungan. Khomeini bukan orang politik: tidak ada partai yang dikenal sebagai partai Khomeini dan pemerintahan yang disebut pemerintahan Khomeini. Apakah tekad yang tidak dapat menghentikan jalannya? Gerakannya adalah gerakan yang ditujukan untuk pembebasan dari penguasaan asing dan keselamatan dari politik (salah) dalam negeri."
Tentu saja, Foucault tidak dapat sepenuhnya memahami dimensi revolusi ini karena kesetiaannya pada prinsip-prinsip postmodern. Oleh karena alasan ini ia melakukan kritik yang menunjukkan bahwa dirinya belum dapat sepenuhnya memahami dan menganalisis revolusi Islam sebagai fenomena transnasional.
Anthony S. Black, penulis dan pemikir Barat lainnya dalam bukunya "The history of Islamic political thought" menyinggung fenomena Revolusi Islam dan urgensinya. Ia menulis, "Pemikiran politik Ayatullah Khomeini, dalam hal bersikeras pada pemerintahan individu atau orang yang tepat, sangat berbeda dengan revolusioner lain di dunia dan mungkin di dunia kontemporer. Pemerintahan Islam merupakan tema turunan dari Velayat-e Faqih. Mendiskreditkan Shah sebagai agen imperialisme asing adalah sarana untuk mencapai tujuan ini. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, Ayatullah Khomeini dan yang lainnya berpendapat bahwa ketika pemerintah praktis berada di tangan para perampas dan penindas, sangat penting bahwa seorang faqih yang adil dan mujtahid, jika mungkin, mengambil kendali negara Islam dan menciptakan ketertiban dan keadilan di antara umat Islam."

Selain para intelektual, politisi dan pemimpin dunia, ada juga komentar tentang Revolusi Islam yang layak untuk disimak. Salah satunya adalah Richard Nixon, mantan Presiden Amerika Serikat sekaligus penentang Revolusi Islam. Nixon mengatakan, "Apa yang telah dibuktikan oleh Revolusi Islam dan menjelaskannya kepada dunia adalah Islam memiliki kelayakan untuk memerintah atas masyarakat. Karena Islam adalah agama samawi. Oleh karena itu, ia telah mempengaruhi negara-negara Islam Arab dan revolusi yang telah terbentuk di negara-negara Arab lainnya, merupakan bagian dari buah pohon Revolusi Islam."
Mikhail Gorbachev, pemimpin Uni Soviet komunis selaku pemimpin negara yang bertetangga dengan Iran menyaksikan revolusi besar di lingkungannya mengenai pemimpin dan pendiri Revolusi Islam Iran mengatakan, "Imam Khomeini ra berpikir melampaui waktu dan tidak cocok dengan dimensi ruangnya. Dia mampu membuat perbedaan besar dalam sejarah dunia."
Sheikh Abd al-Aziz Awda, pemimpin spiritual Jihad Islam Palestina, percaya bahwa efek budaya yang paling penting dari revolusi ini adalah kebangkitan Muslim di banyak negara di dunia. Dia menekankan bahwa Revolusi Islam di bawah kepemimpinan Imam Khomeini ra, memperkenalkan semangat iman di hati kaum muda dan memperkenalkan mereka pada ajaran-ajaran kehidupan Islam. Ia menyatakan, "Revolusi Islam Iran dipimpin oleh Imam Khomeini ra dan Ayatullah Khamenei berhasil menghidupkan kembali harapan yang telah hilang dari hati umat Islam. Setelah kemenangan Revolusi Islam di Iran, umat Islam di dunia bukan lagi anak yatim. Sebuah kekuatan besar muncul dan mendukung mereka dan selalu menjadi pendukung mereka. Revolusi Islam Iran telah menciptakan harapan di hati bahwa umat Islam dapat menang lagi dan mengembalikan kebesaran dan kebanggaan mereka serta mengalahkan musuh-musuh mereka."
Almarhum Sayid Mohammad Hussein Fadhlullah, pemimpin Syiah Lebanon juga menilai kemenangan Revolusi Islam telah berhasil menciptakan jalur baru dalam gerakan politik kawasan. Revolusi ini milik semua Muslim dan semua orang yang tertindas di seluruh dunia."
Dalam Surat Wasiat Politik Imam Khomeini ra, beliau sendiri memperkenalkan Revolusi Islam sebagai "karunia ilahi dan hadiah gaib" dan menyatakan, "Jangan ragu bahwa Revolusi Islam Iran terpisah dari semua revolusi, baik dalam kemunculan maupun dalam kualitas perjuangan serta motif revolusi dan kebangkitan. Dan tidak ada keraguan bahwa ini adalah karunia ilahi dan hadiah gaib dari Allah Swt untuk bangsa yang tertindas dan dijarah ini."