Neishabur, Ibukota Buku Iran
https://parstoday.ir/id/radio/iran-i9067-neishabur_ibukota_buku_iran
Pada November 2014, tepatnya Aban 1393 Hijriah Syamsiah, Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam Iran meluncurkan prakarsa Ibukota Buku Iran. Tujuannya untuk meningkatkan budaya nasional, penyebaran tradisi membaca dan mengumpulkan masukan inovatif dan menarik dari masyarakat mengenai buku dan tradisi membaca.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 15, 2016 10:37 Asia/Jakarta

Pada November 2014, tepatnya Aban 1393 Hijriah Syamsiah, Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam Iran meluncurkan prakarsa Ibukota Buku Iran. Tujuannya untuk meningkatkan budaya nasional, penyebaran tradisi membaca dan mengumpulkan masukan inovatif dan menarik dari masyarakat mengenai buku dan tradisi membaca.

Prakarsa ini sejalan dengan program Ibukota Buku Dunia dari UNESCO yang digelar setiap tahun dengan menetapkan sebuah kota yang dipandang layak dari aspek aktivitas penyebaran buku dan tradisi membaca. Program Ibukota Iran meliputi berbagai aktivitas budaya, penyebaran dan inovasi di bidang perbukuan yang disusun selama satu tahun atau paling lama dua tahun. Program tersebut melibatkan peran aktif industri penerbitan, penulis, editor, penerbit, penjual buku dan pustakawan.

Selain itu, kegiatan ini melibatkan partisipasi organisasi non pemerintah dan pemerintah yang aktif di bidang perbukuan dan budaya baca di tengah masyarakat. Tidak ketinggalan program tersebut mengikutsertakan para seniman dan tokoh masyarakat yang memiliki perhatian besar dalam bidang literasi.

Program Ibukota Buku Iran mempertimbangkan semua lapisan masyarakat terutama wanita, anak-anak dan remaja sebagai bagian paling penting dari gerakan literasi nasional. Salah satu tujuan program ini adalah peningkatan minat baca masyarakat. Di sisi lain, sebagai bagian dari upaya menilai potensi berbagai kota di Iran di bidang perbukuan nasional.

Poin penting dari program pemilihan Ibukota Buku Nasional Iran ini adalah menggali kekayaan khazanah lokal sebagai modal budaya yang unik dan selaras dengan pola kehidupan mereka. Masalah ini akan membantu penguatan budaya masing-masing kota yang beraneka ragam.

Berbagai kota di Iran berpartisipasi dalam program Ibukota Buku Nasional dengan beragam keunikannya masing-masing. Di tahun pertama penyelenggaraan program ini, kota Ahvaz dinobatkan sebagai Ibukota Buku Iran tahun 1394 Hijriah Syamsiah atau 2015. Salah satu alasannya adalah peran penting provinsi Khozestan dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan budaya Iran. Selain itu, prakarsa yang disampaikan pihak Ahvaz mengenai program Ibukota Buku Iran dinilai paling baik oleh panitia.

Tahun ini, Neishabur dinobatkan sebagai Ibukota Buku Iran, menyusul setelah kota ini Bushehr dan Shiraz berada di posisi kedua dan ketiga sebagai Ibukota Buku Iran. Program Ibukota Buku Iran ini diikuti oleh seratus kota di Iran yang diseleksi secara ketat oleh panitia. Dari jumlah tersebut 15 kota masuk final dan kota Neishabur ditetapkan sebagai pemenangnya.

Neishabur terpilih dinilai dari aspek program inovatifnya, tingkat partisipasi masyaraka, program yang terorganisir dan sistematis, perhatian terhadap latar budaya masa lalu, dan penggunaan potensi sektor swasta, NGO, industri dan pusat olahraga dan budaya. Tahun lalu, Neishabur meraih posisi kedua.

Ibukota Buku merupakan sebutan yang disematkan kepada kota yang dipandang layak dalam program perbukuan dan minat baca masyarakat. Sejak tahun 2001, UNESCO setiap tahunnya memilih satu kota menjadi Ibukota Buku Sedunia yang dinilai berperan dalam memperkuat peran buku dan tradisi membaca. Tujuan penerapan program ini adalah meningkatkan minat baca di tengah-tengah masyarakat dan literasi.

UNESCO menggandeng tiga institusi internasional yaitu Ikatan Penerbit Buku Internasional, Ikatan Perusahaan Perbukuan Internasional dan Asosiasi Perpustakaan Internasional dan telah menentukan kota mana setiap tahunnya yang akan dipilih sebagai Ibukota Buku Sedunia.

Penetapan tersebut berlaku dari 23 April yang bertepatan dengan Hari Buku Sedunia, hingga 22 April tahun selanjutnya. Oleh karena itu, sejak program ini diluncurkan tahun 2001 hingga kini, UNESCO telah menggelar 16 kali pemilihan Ibukota Buku Sedunia.

Kementerian Budaya dan Bimbingan Islam Iran dan Komisi Nasional UNESCO di Iran beberapa waktu lalu menandatangani nota kesepahaman mengenai buku dan literasi di Iran. Paska kesepakatan tersebut, setiap tahun Iran memperkenalkan Ibukota Buku Nasional. Gerakan ini sebagai bagian dari upaya Iran menjadikan salah satu kota di negaranya sebagai Ibukota Buku Sedunia pada waktu mendatang.

Selain mencanangkan Ibukota Buku setiap tahun, Iran juga menggulirkan prakarsa baru bernama program Desa Pecinta Buku. Usulan tersebut disampaikan Iran kepada kantor pusat UNESCO di Paris. Berdasarkan prakarsa tersebut, pemerintah dan masyarakat Iran meningkatkan perhatiannya terhadap tradisi membaca, hingga menjangkau desa-desa terpencil.

Tahun ini, sebanyak 10 desa terpilih dalam program Desa Pecinta Buku. Kohgiluyeh Va Boyer Ahmad, Ardabil, Bushehr, Hamedan, Azerbaijan Barat, Khorasan Utara dan Isfahan diberikan penghargaan karena peran aktifnya dalam meningkatkan tradisi membaca di tengah masyarakat desa.

Neishabur merupakan kota penting dan terbesar di Khorasan Raya setelah Mashad yang terletak di wilayah timur Iran. Kota ini menjadi pusat penduduk budaya, pariwisata, industri dan sejarah di barat laut Iran. Berbagai dokumen sejarah kuno menunjukkan kota ini telah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Sebagian sejarawan menyebut orang yang pertama kali membangun kota ini adalah Anush bin Syith bin Adam as.

Neishabur mengalami pasang surut sepanjang sejarah. Hingga kini kota ini menjadi pusat perhatian karena letak geografisnya. Tanah yang relatif subur dan air yang memadai dibandingkan sebagian daerah lainnya di Iran. Sebelum bangsa Arya memasuki Iran, tidak diketahui bangsa yang mendiami wilayah tersebut. Setelah bangsa Arya datang, mereka mendirikan imperium Parthian dengan ibukota di Ctesiphon dan Neishabur menjadi kota penting. Orang-orang Arya banyak yang bertempat tinggal di Neishabur.

Ketika Islam masuk ke Iran, Neishabur termasuk daerah yang menjadi perhatian beberapa waktu lamanya, hingga menjadi pusat pengetahuan dan peradaban Islam. Tapi kemudian kota itu porak-poranda diserang bangsa Mongolia.

Selanjutnya kota Neishabur dibangun kembali di era Ilkhanid menjadi kota baru. Namun kota ini kembali hancur akibat gempa bumi dahsyat di tahun 808 Hijriah Qamariah. Meskipun demikian, setelah itu Neishabur menjadi perhatian berbagai suku dan etnik yang beraneka ragam seperti Uzbek, Mongolia Teimurian dan Afghan.

27 dari 33 sekolah dan universitas pertama dunia Islam dan pendirian Nizhamiah sebelum Nizhamiah Baghdad, tempat penulisan Hadis Silsilah al-Dzahab dari Imam Ridha as yang ditulis ribuan orang menjadikan Neishabur sebagai kota penting ilmu dan pengetahuan di dunia Islam.

Di abad keempat dan kelima Hijriah, Neishabur menjadi tempat lahirnya beragam aliran tasawuf, bahkan menjadi pusat tasawuf dunia Islam. Tidak hanya itu, Neishabur juga tempat tumbuh dan berkembangnya 4300 tokoh terkemuka di bidang ilmu pengetahuan dan budaya, hingga abad keenam seperti Attar, Omar Khayyam, Fadhl Syadzan dan lain-lain.

Program khusus Neishabur sebagai Ibukota Buku Iran tahun ini meliputi berbagai program lokal, nasional dan internasional masalah syair penulis dan penerbit terbaik Neishabur, perpustakaan publik dan partisipasi masyarakat dalam peningkatan minat baca nasional.