Persatuan dan Kemandirian Nasional, Pelajaran dari Kepingan Perang
https://parstoday.ir/id/radio/other-i62222-persatuan_dan_kemandirian_nasional_pelajaran_dari_kepingan_perang
Perang yang dipaksakan rezim Saddam Hussein terhadap Iran telah berlalu lebih dari tiga dekade. Ketika itu, Irak dibantu oleh 57 negara dunia dari sisi finansial, militer dan politik. Meskipun demikian, perang yang berlangsung selama delapan tahun ini berakhir dengan kemenangan Iran berkat ketangguhan bangsa menghadapi serangan musuh.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 24, 2018 12:50 Asia/Jakarta
  • Jenazah para pejuang korban perang pertahanan suci
    Jenazah para pejuang korban perang pertahanan suci

Perang yang dipaksakan rezim Saddam Hussein terhadap Iran telah berlalu lebih dari tiga dekade. Ketika itu, Irak dibantu oleh 57 negara dunia dari sisi finansial, militer dan politik. Meskipun demikian, perang yang berlangsung selama delapan tahun ini berakhir dengan kemenangan Iran berkat ketangguhan bangsa menghadapi serangan musuh.

terus-menerus menekan Republik Islam yang belum lama berdiri. Perang yang dipaksakan Irak terhadap Iran ini meletus hanya berselang 19 bulan dari kelahiran Republik Islam, dan struktur dinasti despotik shah meskipun tumbang, tapi belum sepenuhnya hancur. Tentu saja butuh waktu cukup panjang untuk mengubah sistem ketatanegaraan dari model kerajaan yang telah berlangsung 2500 tahun menuju Republik Islam.

Di hari pertama menyerang Iran, rezim Saddam sesumbar akan bisa menguasai provinsi Khozestan di wilayah selatan Iran yang berdekatan dengan Irak dan merayakan kemenangannya di Tehran.

Diktator Irak ini mengira dengan menguasai Khozestan bisa dengan mudah melumpuhkan Tehran. Tapi faktanya jauh panggang dari api. Sejak memasuki Khozestan, pasukan agresor Irak sudah menghadapi perlawanan yang dilancarkan berbagai elemen bangsa Iran, dari rakyat biasa hingga tentara di berbagai angkatan.

Di Khoramshar saja, pasukan Irak kewalahan dan meninggalkan daerah itu setelah 34 hari bercokol, karena menghadapi perlawanan sengit Iran, terutama para pemudanya.

Sejak awal rezim Saddam menyerang perbatasan Iran, rakyat Iran bahu-membahu mengerahkan segenap kemampuannya untuk mempertahankan tanah air mereka dan membela Republik Islam.

Bangsa Iran berdiri di kakinya sendiri menghadapi serangan musuh yang didukung kekuatan besar blok barat dan timur. Sejak kemenangan Revolusi Islam hingga kini, Iran terus-menerus membangun dengan caranya sendiri meskipun menghadapi berbagai tekanan dan serangan dari berbagai arah.

Perang delapan tahun yang dilancarkan rezim Baath terhadap Iran tidak membuat bangsa Iran menyerah, tapi sebaliknya menjadi pelajaran penting tentang bagaimana bertahan dan membangun dengan kemampuan sendiri.

Di masa sulit ketika itu tidak banyak kawan dan lawan yang mengira Republik Islam dengan usia baru seumur jagung, bisa bertahan dan tegar menghadapi rintangan yang datang silih-berganti.

Mesin perang yang dikobarkan rezim Saddam tidak mengira dalam waktu satu setengah tahun harus meninggalkan sebagian wilayah Iran yang pernah didudukinya.

Perang pertahanan suci yang dimulai sejak 1980 menyebabkan produksi minyak Iran yang merupakan sumber pendapatan terpenting negara ini mengalami penurunan signifikan.

Masalah tersebut ditambah dengan penurunan drastis harga minyak dunia, terutama di tahun 1983, menyebabkan perekonomian Iran terpukul. Intervensi langsung negara-negara Barat dan Arab, terutama AS terhadap Saddam yang meningkatkan pasokan minyaknya di pasar dunia, menyebabkan harga minyak di pasar dunia berada di level relatif rendah. Dampaknya, pendapatan Iran dari penjualan minyak menjadi semakin kecil.

Dalam kondisi sulit tersebut, Republik Islam Iran harus membiayai perang yang dipaksakan rezim Saddam, terutama memenuhi kebutuhan pokok rakyat ketika itu.

Selain itu, kerusakan besar infrastruktur Iran membutuhkan dana yang tidak kecil. Meskipun menghadapi berbagai masalah besar tersebut, tapi rakyat Iran dari berbagai elemen masyarakat, terutama para pemuda hadir di medan tempur demi membela bangsa dan negaranya.

Beban berat perang ditanggung bersama bukan hanya oleh angkatan bersenjata Iran saja, tapi juga melibatkan relawan yang datang dari berbagai profesi: siswa, mahasiswa, guru, dosen, karyawan, pedagang, hingga petani dan lainnya. Ketegaran bangsa Iran di era perang pertahanan suci menunjukkan bahwa persatuan nasional berhasil menghadapi kekuatan militer profesional yang didukung berbagai kekuatan dunia.

Menurut data, selama era perang itu, AS dan negara-negara Barat lain, serta negara-negara Arab, telah memberikan bantuan sebesar 120 miliar dolar kepada Saddam.

Saddam Hosein

Selama perang, Saddam juga menggunakan senjata dan bom kimia produksi negara-negara Barat yang menyebabkan kematian puluhan ribu orang. Kini, terdapat sekitar 45.000 orang Iran yang masih hidup dengan menanggung berbagai penyakit akibat terkontaminasi senjata kimia.

Setiap tahunnya, pemerintah Iran mengeluarkan dana sebesar 37 juta dollar AS untuk merawat para korban senjata kimia itu. Namun tiap tahun pula banyak di antara mereka yang akhirnya gugur syahid. Berkat perlindungan Tuhan dan kegigihan bangsa Iran dalam membela tanah air mereka, usaha Saddam dan negara-negara Barat untuk menganeksasi Iran akhirnya menemui kegagalan.

Permusuhan AS terhadap Iran pasca perang pertahanan suci yang berlangsung selama delapan tahun lamanya terus berlangsung hingga kini. Washington menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Iran supaya rakyat dan pemerintah Iran bertekuk lutut dan menyerah mengamini kepentingan Gedung Putih. Tapi alih-alih menyerah, gelombang tekanan sanksi itu justru menjadi tantangan bagi Iran untuk berkembang dan maju dengan caranya sendiri.

Imam Khomeini menjelaskan mengenai ketangguhan Iran dalam menghadapi agresi rezim Baath yang didukung kekuatan besar dunia. Bapak pendiri Republik Islam Iran ini menegaskan, "Dalam perang ini, kita berhasil memecahkan kebesaran dua blok timur dan barat,".  

Imam Khomeini

Mengenai resistensi bangsa Iran dalam perang pertahanan suci selama delapan tahun, pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei menyebut pengalaman yang didapat sepanjang masa perang sebagai fenomena langka dalam sejarah Iran sendiri.

Rahbar mengatakan, "Selama delapan tahun, seluruh kekuatan Timur dan Barat serta negara-negara independen bersama-sama membentuk front melawan Republik Islam Iran dan menyuplai rezim Baath Irak dengan berbagai jenis persenjataan yang paling modern."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, "Negara-negara Barat yang mengklaim diri sebagai pembela hak asasi manusia dan demokrasi bahkan tak segan menyuplai rezim Irak dengan berbagai senjata kimia demi melumpuhkan pemerintahan Islam dan menundukkan bangsa Iran."

Meski demikian, kekuatan-kekuatan adi daya dunia tak berhasil melumpuhkan Republik Islam Iran. Periode sejarah itu telah memberikan pengalaman yang sangat berharga dan besar bagi Angkatan Bersenjata negara ini.

Ayatullah Khemenei

 

Kini memasuki peringatan kemenangan Revolusi Islam keempat puluh tahun,  kemajuan Iran saat ini tidak bisa dibandingkan dengan periode pada saat perang delapan tahun dan sesudahnya.

Berbagai parameter pembangunan menunjukkan terjadinya peningkatan kemajuan Iran. Produk domestik bruto Iran saat ini jauh meningkat beberapa kali lipat dari sebelumnya. Tidak hanya itu berbagai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan telah menempatkan negara yang berada dalam tekanan sanksi itu sebagai negara mandiri.

Sains dan teknologi nuklir, teknologi nano, stemsel, antariksa dan industri militer hanya sebagian dari kemajuan yang telah dicapai Iran selama ini. Perang pertahanan suci Iran selama delapan tahun menghadapi rezim Saddam menjadi pengalaman getir tapi penuh pelajaran penting mengenai urgensi kemandirian bangsa di tengah gencarnya tekanan asing, termasuk sanksi ekonomi yang dilancarkan AS.(IRIB Indonesia/PH)