Kepribadian Mulia Sayidah Khadijah
https://parstoday.ir/id/radio/other-i64305-kepribadian_mulia_sayidah_khadijah
Tanggal 10 Rabiul Awal 28 tahun sebelum hijrah, Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang bangsawan kaya raya di kota Mekah. Khadijah berasal dari keluarga mulia dan terpandang Quraisy. Para anggota keluarganya dikenal memiliki keutamaan, berjiwa besar, dan selalu melayani Ka'bah.
(last modified 2025-11-30T09:45:39+00:00 )
Nov 17, 2018 19:55 Asia/Jakarta
  • Nabi Muhammad Saw menikah dengan Sayidah Khadijah pada 10 Rabiul Awal 28 tahun sebelum hijrah.
    Nabi Muhammad Saw menikah dengan Sayidah Khadijah pada 10 Rabiul Awal 28 tahun sebelum hijrah.

Tanggal 10 Rabiul Awal 28 tahun sebelum hijrah, Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang bangsawan kaya raya di kota Mekah. Khadijah berasal dari keluarga mulia dan terpandang Quraisy. Para anggota keluarganya dikenal memiliki keutamaan, berjiwa besar, dan selalu melayani Ka'bah.

Khadijah adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay al-Quraisyiah al-Asadiyah. Asad bin Abdul Uzza termasuk salah satu tokoh yang dihormati pada masanya.

20 tahun sebelum pengutusan Nabi Saw, sekelompok pembesar Mekah termasuk Asad melakukan sebuah pertemuan untuk membahas masalah keamanan Mekah dan daerah sekitar. Mereka sepakat untuk membela hak-hak kaum tertindas dan orang miskin serta mencegah kezaliman.

Kesepakatan ini dikenal sebagai Hilf al-Fudul atau persekutuan para pemuka Mekah, termasuk Muhammad muda di dalamnya. Persekutuan ini bertujuan menjaga ketertiban dan keadilan dalam perdagangan, yang menjadi urat nadi kehidupan penduduk Mekah. Disebut Hilf al-Fudul karena tiga tokoh dari pencetus aliansi ini bernama Fadl bin Fadhalah, Fadl bin Wida'ah, dan Fald bin Harits.

Muhammad Saw sangat menghormati aliansi ini dan setelah pengutusannya, beliau berkata, "Jika mereka sekarang juga mengajakku sebagai anggota dalam persekutuan itu, aku akan menerimanya."

Keikutsertaan Asad bin Abdul Uzza dalam Hilf al-Fudul membuktikan kebijaksanaan dan kepeduliannya terhadap masalah ketertiban dan keamanan masyarakat.

Khadijah tumbuh di tengah keluarga yang paling mulia di Jazirah Arab. Namun kemuliaannya bukan hanya warisan dari keluarga, tapi ia terkenal dengan akhlak mulia dan memiliki sifat-sifat terpuji. Setiap orang miskin yang mulai kehilangan harapan dari bantuan orang lain, akan datang ke pintu rumah Khadijah untuk mendapatkan kasih sayang dan kedermawanannya. Sifat baiknya selalu menjadi penawar bagi mereka yang hatinya terluka.

Rumah Khadijah memiliki dua tanda yaitu: kubah hijau di atapnya dan keramaian di lorong menuju rumah itu. Khadijah sangat senang membantu orang miskin dan tertindas. Dia selalu menyambut tamunya dengan tangan terbuka, berbicara dengan lembut, dan mendengarkan keluh kesah mereka. Dia menghapus air mata anak yatim dan para ibu, dan membagi-bagikan kantong uang di antara orang-orang miskin.

Selain mulia, terhormat, dan menjaga kesucian, Khadijah juga terkenal sebagai wanita yang paling cantik di Mekah. Imam Hasan as yang dikenal sangat tampan di tengah Bani Hasyim adalah sosok yang paling mirip dengan Sayidah Khadijah.

Karena kesuksesan dan kecantikan, masyarakat Arab menjuluki Khadijah sebagai “Ratu Quraisy” dan “Ratu Mekah". Para pemimpin kabilah Arab, pemuda Quraisy, pembesar Bani Hasyim, dan raja-raja Yaman dan penguasa Thaif, semua melayangkan lamaran kepada Khadijah, tetapi ia tidak menerima semua pinangan itu.

Bangunan Makam Sayidah Khadijah di Mekah sebelum dihancurkan oleh Wahabi Saudi.

Pada masa itu, Khadijah adalah pengikut ajaran Nabi Ibrahim as. Dia mempelajari kitab-kitab samawi dan berdiskusi dengan para ilmuwan seperti, Waraqah bin Naufal sehingga memperoleh pengetahuan tentang kabar kedatangan nabi akhir zaman.

Berdasarkan tanda-tanda dan petunjuk, Khadijah percaya bahwa nabi akhir zaman itu tidak lain adalah Muhammad al-Amin dan ia pun mengutus seseorang  untuk menemui pemuda itu. Untuk mengujinya, Khadijah menawarkan kepada Muhammad untuk memasarkan dagangannya ke Syam.

Dia juga mengirim salah satu budaknya, Maisarah untuk melihat perilaku dan tindak tanduk Muhammad selama perjalanan dagang ke Syam. Khadijah mempelajari kepribadian Muhammad dengan tetap menjaga kemuliannya dan tidak bermain perasaan.

Sepulang dari Syam, Maisarah menceritakan perjalanannya kepada Khadijah termasuk kesaksian seorang pendeta Yahudi tentang kenabian Muhammad. Setelah mendengar kisah ini, Khadijah kembali menemui Waraqah bin Naufal untuk memastikan kebenaran cerita Maisarah. Setelah benar-benar yakin, dia mulai terpana dan mengagumi kepribadian Rasulullah Saw.

Singkatnya, setelah acara lamaran dan akad nikah, Khadijah menyerahkan banyak harta sebagai hadiah kepada Rasulullah dan memberi pesan kepada Waraqah bin Naufal agar memberitahu masyarakat bahwa mulai sekarang, semua harta dan kekayaannya termasuk para budak menjadi milik Muhammad al-Amin.

Ka'bah dan Masjidil Haram (dok).

Waraqah bin Naufal berdiri di antara sumur Zamzam dan Maqam Ibrahim as dan dengan suara keras berkata, "Wahai masyarakat, ketahuilah Khadijah telah menyerahkan seluruh kekayaan dan harta bendanya termasuk ladang, kebun, ternak, para budak, dan juga maharnya kepada Muhammad dan ia pun menerimanya."

Mengenai pernikahan Nabi Muhammad Saw dengan Sayidah Khadijah, Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Dia adalah penghulu para wanita Quraisy di mana seluruh ksatria dan penguasa telah melamarnya, tetapi ia menikah dengan seseorang setelah memperoleh berita kenabiannya dari Buhaira."

Ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul Saw, Khadijah adalah orang pertama yang beriman dan membenarkan kenabian Muhammad. Dia tidak hanya beriman kepada ajaran Rasulullah, tetapi juga berjuang dan mengerahkan seluruh upayanya untuk menyebarkan Islam.

Saat Rasulullah dituduh pendusta oleh kaum musyrik dan munafik serta menerima penghinaan dari mereka, Allah Swt meringankan kesedihan dan kekhawatiran utusan-Nya itu melalui Khadijah. Keimanan dan dukungan sang istri membuat Rasulullah Saw optimis dengan masa depan dakwahnya.

Doktor Bint al-Shati' berkata, "Apakah ada istri lain selain Khadijah dengan kapasitas seperti ini; menerima seruan suaminya ketika keluar dari Gua Hira' dengan iman yang kuat, lapang dada, kelembutan, dan kasih sayang, tanpa sedikit pun meragukan kejujurannya dan yakin Tuhan tidak akan meninggalkannya sendirian. Apakah ada wanita lain selain Khadijah yang mampu dengan penuh keikhlasan menutup mata dari kehidupan mewah, harta yang berlimpah, dan kemapaman, untuk mendampingi suaminya dalam kondisi kehidupan yang paling sulit dan membantunya dalam berbagai tantangan demi merealisasikan tujuan yang ia yakini kebenarannya. Tentu saja tidak! Hanya Sayidah Khadijah yang demikian."

Khadijah termasuk salah satu dari empat wanita penghulu surga. Ia adalah sosok perempuan bertakwa dan memanfaatkan semua sarana yang dimilikinya untuk mengembangkan pemikiran, akhlak, dan spiritualitasnya, sehingga mencapai puncak kesempurnaan insani.

Dalam Islam, Khadijah menemukan sebuah kedudukan yang tidak dimiliki oleh wanita mana pun kecuali putrinya, Sayidah Fatimah az-Zahra as, penghulu wanita sejagad raya. Allah Swt menjadikan garis keturunan Rasulullah Saw melalui wanita mulia ini.

Khadijah menemani Rasulullah Saw dalam suka dan duka selama 24 tahun. Rasul tidak pernah menikahi wanita lain selama Khadijah masih hidup. Meskipun menikahi wanita-wanita lain sepeninggal Khadijah, tetapi tidak ada yang bisa mengisi kehilangan sosok Khadijah di rumah Rasulullah. Beliau juga tidak memiliki anak dari wanita-wanita tersebut dan keturunannya hanya berasal dari Khadijah.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, "Allah tidak pernah menggantikan untukku seorang istri yang lebih baik darinya, karena ia telah membenarkanku di saat orang lain mengingkariku. Ia membantu dan menolongku ketika tidak ada seorang pun yang membantu dan menolongku. Ia memberikan hartanya kepadaku, pada saat semua orang enggan untuk memberikan hartanya kepadaku."

Mengenai kepribadian Khadijah, seorang sejarawan dan ahli tafsir, Ibnu Jauzi menulis, "Khadijah adalah wanita yang berilmu dan memiliki kepribadian yang bersih. Ia adalah seorang insan spiritual yang terpesona dengan hak asasi manusia, mencari keutamaan, menyukai inovasi, senang dengan keunggulan, kesempurnaan dan kemajuan adalah termasuk dari sifat-sifatnya. Sejak masa mudanya, ia merupakan salah seorang wanita yang berbudi luhur, ternama dan memiliki keutamaan yang terkenal di Hijaz dan Arab." (RM)