Nov 16, 2016 09:27 Asia/Jakarta

Hari ini, Rabu tanggal 16 November 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 16 Shafar 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 26 Aban 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Pembantaian Suku Inca oleh Spanyol

 

484 tahun yang lalu, tanggal 16 November 1532, seorang penjelajah asal Spanyol, Fransisco Pizarro, beserta pasukannya membantai suku Indian Inca di Peru.

 

Penaklukan atas suku Inca itu melalui cara yang licik. Jumlah pasukan Pizarro sebenarnya tidak sampai 200 orang. Namun untuk menaklukan ribuan orang suku Inca, mereka mengandalkan senjata api dan tipu muslihat.

 

Pizarro saat itu berhasil membujuk Raja Inca, Atahualpa, agar datang ke Cajamarca untuk menghadiri perayaan dia sebagai penguasa. Ketika perayaan berlangsung, Pizarro memerintahkan pasukannya untuk menembaki suku Inca yang hanya mengandalkan senjata tajam.

 

Pembantaian pun tak terelakkan. Hanya dalam satu jam, pasukan Pizarro membantai 5.000 orang suku Inca. Pasukan Pizarro berhasil menangkap Atahualpa. Raja Inca itu sempat dipaksa pindah keyakinan sebelum akhirnya dieksekusi mati pada 29 Agustus 1533 karena dianggap berupaya memberontak.

 

Gustav Adolph The Great Tewas

 

384 tahun yang lalu, tanggal 16 November 1632, Gustav Kedua, Raja Swedia yang terkenal dengan nama The Great Adolph tewas terbunuh.

 

Gustav Kedua dilahirkan pada tahun 1594 dan pada  usia 17 tahun telah diangkat menjadi raja. Gustav Kedua terkenal karena kemenangannya dalam era perang agama yang berlangsung selama 30 tahun di antara kaum Protestan dan Katolik sejak tahun 1618 hingga 1658.

 

Gustav Kedua dengan dukungan Perancis berperang melawan imperium Roma dan sekutu-sekutunya demi membela kaum Protestan Jerman. Ia turun langsung ke medan perang dan menjadi panglima tentara Swedia. Dalam dua perang pertama, Gustav berhasil menang, namun pada perang ketiga, ia tewas akibat terjangan peluru. Meskipun demikian, pasukan Swedia tetap menang dalam pertempuran ini.

 

Wafatnya Ayatullah Mujtahid Tabrizi

 

101 tahun yang lalu, tanggal 16 Shafar 1337 HQ, Ayatullah Mujtahid Tabrisi meninggal dunia.

 

Mirza Musthafa Mujtahid Tabrizi, ulama besar kota Tabriz, Iran dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa, dibarengi akhlak mulia. Mirza Mujtahid Tabrizi lahir dalam keluarga agamis.

 

Bagi semua ulama yang semasa dengannya, kecakapan Ayatollah Mujtahid Tabrizi dalam ilmu fiqih, ushul fiqih, perbintangan, matematika, puisi dan sastra termasuk di atas rata-rata. Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di Iran dan kemudian menuntut ilmu di Najaf, Irak dan mengikuti kuliah Akhond Khorasani, Syeikh al-Syariah al-Isfahani, Sayid Muhammad Kazhim Yazdi dan guru-guru besar lainnya.

 

Buku al-Ghurudh, Catatan atas Kifayah al-Ushul dan al-Libas al-Masykuk merupakan sebagian dari karya-karyanya.

 

Meninggalnya Ebrahim Pourdavoud Periset Terkenal Iran

 

48 tahun yang lalu, tanggal 26 Aban 1347 HS, Profesor Ebrahim Pourdavoud meninggal dunia dalam usia 83 tahun.

 

Profesor Ebrahim Pourdavoud lahir ke dunia pada tahun 1264 HS di kota Rasht. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia pindah ke Tehran dan untuk kedua kalinya ia pergi ke Beirut untuk melanjutkan pendidikannya setelah menguasai filsafat dan kedokteran tradisional.

 

Profesor Pourdavoud kembali ke Iran tapi tidak untuk waktu yang lama dan setelah itu ia ke Jerman. Di negara ini ia memulai penelitiannya yang mendalam tentang tradisi, bahasa dan budaya kuno Iran. Buku Avesta dijadikan referensi utama dalam melakukan penelitiannya. Guna menyempurnakan studinya tentang Iran, kembali Pourdavoud menuju India dan mengajar di sana.

 

Peneliti besar Iran ini pada tahun 1315 HS diundang memberikan kuliah di Fakultas Literatur dan Hukum, Universitas Tehran dan sejak itu ia tinggal hingga akhir hayatnya di Iran. Pada tahun 1317 HS, Profesor Purdavoud menjadi anggota Akademi Internasional Seni dan Sains dan di tahun 1346 ia mendapat penghargaan sains dari Vatikan atas sumbangsihnya di bidang kemanusiaan.

 

Iran-Libya Jalin Hubungan Diplomasi

 

37 tahun yang lalu, tanggal 26 Aban 1358 HS, Iran menjalin hubungan diplomasi dengan Libya.

 

Hubungan ini sempat terputus sebelum kemenangan Revolusi Islam. Karena Muammar Ghaddafi, mantan Presiden Libya menilai rezim Pahlevi di Iran bergantung pada imperialisme Amerika dan memrioritaskan kepentingan Barat dan Zionis Israel, ketimbang kepentingan negara-negara Arab dan Palestina.

 

Libya sendiri mendukung siapa saja yang melawan rezim Pahlevi di Iran.