Lintasan Sejarah 26 November 2016
Hari ini, Sabtu tanggal 26 November 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 26 Shafar 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 6 Azar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Tsabit bin Harani Meninggal
1150 tahun yang lalu, tanggal 26 Shafar 288 HQ, Tsabit bin Qurah Harani, seorang matematikawan dan astronom Irak, meninggal dunia.
Tsabit bin Qurah dilahirkan pada tahun 1911 Hijriah dan dia dianggap sebagai salah satu ilmuwan besar pada zamannya. Tsabit bin Qurah sangat mahir dalam menerjemahkan teks-teks ilmiah dari bahasa-bahasa Suryani dan Yunani ke dalam bahasa Arab.
Penerjemahan buku-buku ilmiah dari bahasa Yunani dan Suryani itu ke dalam bahasa Arab yang dilakukan Tsabit bin Qurah, memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan bangsa Arab. Menurut catatan para sejarawan, jumlah karya terjemahan Tsabit bin Qurah berjumlah lebih dari 130 judul. Selain menerjemahkan buku, Tsabit bin Qurah juga menulis berbagai buku, di antaranya berjudul "Masalah-Masalah Teknik dan Angka".
Adam Mickiewicz Lahir
161 tahun yang lalu, tanggal 26 November 1855, Adam Mickiewicz, seorang penyair dan penulis besar Polandia, meninggal dunia di Istanbul, Imperium Ottoman.
Ia dilahirkan pada tahun 1798 dan sebagaimana ayahnya, ia adalah seorang pejuang kebebasan. Mickiewicz hidup di masa ketika wilayah Polandia dibagi-bagi oleh Rusia, Austria, dan Prusia.
Ia memainkan peran aktif dalam usaha untuk mempersatukan kembali tanah airnya. Oleh karena perjuangannya itulah, Mickiewicz dibuang ke Rusia pada tahun 1823. Enam tahun kemudian, dia pergi dari Rusia dan mengajar sastra di Perancis. Kemudian, Mickiewicz pergi ke Istanbul dengan maksud untuk membentuk pasukan Polandia guna melawan Rusia, namun di kota itu ia meninggal dunia. Karya-karya Mickiewicz di antaranya berjudul "Pan Tadeusz" dan "Forefathers' Eve".
Bosscha Meninggal Dunia
88 tahun yang lalu, tanggal 26 November 1928, Karel Albert Rudolf Bosscha pendiri Observatorium Bosscha meninggal dunia.
Karel Albert Rudolf Bosscha ialah orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi. Ia juga pemerhati ilmu pendidikan, khususnya astronomi.
Pada Agustus 1896, ia mendirikan perkebunan teh Malabar. Pada tahun-tahun berikutnya, ia menjadi juragan seluruh perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan. Pada 1901, ia mendirikan sekolah dasar bernama Vervoloog Malabar. Pendirian sekolah itu bertujuan memberi kesempatan belajar secara gratis bagi kaum pribumi Indonesia, khususnya anak-anak karyawan dan buruh di perkebunan teh Malabar.
Pada 1923, ia menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Observatorium Bosscha yang telah lama diharapkan Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Kemudian, ia bersama Dr J Voute pergi ke Jerman untuk membeli teleskop refraktor ganda Zeiss dan teleskop refraktor Bamberg.
Pembangunan Observatorium Bosscha selesai dilaksanakan pada 1928. Namun, Bosscha sendiri tidak sempat menyaksikan bintang melalui observatorium yang didirikannya itu karena meninggal dunia pada 26 November 1928 beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan warga utama Kota Bandung.
Konferensi Pertama Sekutu di Tehran
73 tahun yang lalu, tanggal 6 Azar 1322 Hs, Konferensi Tiga Kepala Negara Sekutu di Perang Dunia II diselenggarakan di Tehran dalam kondisi dimana Iran tengah diduduki secara militer oleh tiga negara ini.
Konferensi Tehran diselenggarakan setelah Amerika melibatkan dirinya dalam Perang Dunia II dan dibukanya front baru melawan tentara Jerman. Dalam konferensi ini, Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika, Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris dan Josef Stalin, Pemimpin Uni Soviet membicarakan strategi perang melawan tentara Jerman dan membantu front-front yang berperang dengan Jerman.
Di akhir Konferensi Tehran yang berlangsung selama 4 hari, ketiga negara mengeluarkan pernyataan bersama yang menyinggung upaya menghancurkan kekuatan militer Jerman dan bagaimana melakukan operasi militer di medan-medan tempur. Begitu juga ketiga negara sepakat militer sekutur akan meninggalkan Iran setelah berakhirnya Perang Dunia II.
Hauzah Ilmiah Qom Protes Hukuman Mati Ulama Syiah Irak
42 tahun yang lalu, tanggal 6 Azar 1353 HS, Hauzah Ilmiah Qom melakukan protes atas hukuman mati ulama Syiah Irak.
Menyusul keputusan pemerintah Baath Irak untuk menghukum mati lima ulama pejuang Syiah, Hauzah Ilmiah Qom dan Mashad diliburkan dalam rangka memprotes langkah tersebut.
Pada tanggal 6 Azar 1353 ini juga para ulama seperti Ayatullah Sayid Shihab al-Din Marasyi Najafi, Sayid Mohammad Reza Golpaygani dan marji Syiah lainnya di Qom serta Ayatullah Milani di Mashad meliburkan kuliahnya.
Sebelumnya, rezim Baath Irak yang dipimpin Ahmed Hassan al-Bakr menangkap 150 ulama Irak dan mengeluarkan hukum lima dari ulama yang ditangkap itu harus dihukum mati.