Lintasan Sejarah 28 November 2016
Hari ini, Senin tanggal 28 November 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 28 Shafar 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 8 Azar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Rasulullah Saw Wafat
1427 tahun yang lalu, tanggal 28 Shafar 11 HQ, Rasulullah Muhammad Saw berpulang ke rahmatullah pada usia 63 tahun.
Nabi besar umat Islam ini dilahirkan 52 tahun sebelum dimulainya tahun Hijriah, di kota Mekah. Sejak kecil, Muhammad Saw telah kehilangan ayah dan ibunya sehingga diasuh oleh kakek beliau Abdul Muthalib, lalu oleh paman beliau, Abu Thalib. Sejak muda, Muhammad Saw telah dikenal sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya sehingga dikenal dengan julukan al-Amin.
Pada usia ke-40, Muhammad Saw ditunjuk Allah untuk menjadi utusannya dalam menyampaikan risalah tauhid, keadilan, dan kasih sayang kepada umat manusia. Setelah 23 tahun menyampaikan risalah Islam dan berhasil mendirikan pemerintahan Islam di Madinah, akhirnya Rasulullah wafat dan meninggalkan sebuah ajaran agung yang kini tersebar ke berbagai penjuru dunia.
Imam Hasan Gugur Syahid
1388 tahun yang lalu, tanggal 28 Shafar tahun 50 Hijriah, Imam Hasan as, cucu Rasulullah Saw gugur syahid.
Imam Hasan adalah putra dari Fathimah as, putri Rasulullah dan Imam Ali as. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 3 Hijriah. Sejak lahir hingga usia tujuh tahun, Imam Hasan as dibimbing langsung oleh kakek beliau, Rasulullah Saw untuk memahami makrifat Islam.
Pada usia 37 tahun, ayah beliau, yaitu Imam Ali as gugur syahid dan Imam Hasan pun meneruskan tampuk kepemimpinan kaum muslimin yang semula diemban oleh Imam Ali. Dalam masa kepemimpinannya, Imam Hasan as berusaha membentuk pasukan muslim yang tangguh untuk melawan pasukan Muawiyah yang sebelumnya juga telah melakukan perlawanan bersenjata terhadap Imam Ali as.
Namun, berbagai provokasi dan taktik licik yang dilakukan Muawiyah membuat semangat pasukan muslim itu kendor, bahkan sebagiannya bergabung dengan pasukan Muawiyah. Karena itu, Imam Hasan mengambil langkah diplomasi, demi terjaganya keutuhan kaum Muslimin yang saat itu tengah mendapat ancaman yang lebih besar dari kaum Kafir. Imam Hasan pun kemudian mengadakan perjanjian damai dengan Muawiyah, namun isi perjanjian itu dilanggar oleh Muawiyah dan bahkan akhirnya, Imam Hasan diracuni olehnya sehingga gugur syahid pada tahun 50 hijriah.
Pelabuhan Pondicherry Diduduki Perancis
340 tahun yang lalu, tanggal 28 November 1676, Pelabuhan Pondicherry yang terletak di India timur dan salah satu kawasan banyak hasil bumi di negara ini, diduduki oleh Perancis.
Pelabuhan yang terletak dekat Teluk Bengali di lautan Hindia ini, sebelumnya menjadi rebutan negara-negara imperialis Eropa dan beberapa kali berpindah di bawah kekuasaan Perancis dan Belanda. Akhirnya, melalui perjuangan rakyat kawasan tersebut, pada tahun 1956, yaitu sembilan tahun setelah kemerdekaan India, pelabuhan Pondicherry kembali berada di bawah kekuasaan bangsa India.
Mauritania Merdeka
56 tahun yang lalu, tanggal 28 November 1960, Mauritania memproklamasikan kemerdekaannya.
Negara ini sejak abad ke-15 berada di bawah penjajahan Potugis, kemudian berpindah-pindah ke bawah kekuasaan Belanda dan Inggris. Pada tahun 1903, Mauritania dikuasai oleh Perancis. Pada pertengahan abad ke-20, rakyat Mauritania dalam sebuah referendum menyepakati dibentuknya sebuah pemerintahan otonomi.
Baru pada tahun 1960, negara ini dengan menandatangani perjanjian kesepakatan dengan pemerintah Perancis, meraih kemerdekaan penuh. Mauritania terletak di barat daya Afrika dan berbatasan dengan Aljazair, Mali, dan Senegal.
Ayatullah Araki Meninggal Dunia
22 tahun yang lalu, tanggal 8 Azar 1373 HS, Ayatullah Araki meninggal dunia dalam usia 100 tahun. Beliau dimakamkan di komplek makam suci Sayidah Fathimah Maksumah as di Qom di samping guru-gurunya.
Syeikh al-Fuqaha wa al-Mujtahidin Ayatullah al-Udzma Sheikh Mohammad Ali Moslehi Araki dilahirkan di kota Arak pada 1273 Hs. Beliau sejak usia 11 tahun secara serius mempelajari ilmu-ilmu keislaman pada guru-guru besar di masanya. Beliau belajar kepada ulama besar seperti Ayatullah Sayid Abdulkarim Hairi Yazdi dan Mohammad Taqi Khonsari. Setelah itu beliau mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya.
Ayatullah Araki selama 35 tahun memiliki kelebihan menjelaskan masalah-masalah rumit dalam tema-tema kuliahnya dengan bahasa yang mudah dan lugas. Selama itu pula beliau berhasil mendidik banyak murid yang kelak menjadi ulama besar saat ini seperti Aytollah Mohammad Taqi Sotoudeh, Ali Panah Eshtehardi, Jalal Taher Shams Golpaygani, Mohsen Harampanahi, Mohammad Alavi Gorgani, Sayid Mohsen Kharrazi, Ali Karimi Jahroumi, Reza Ostadi, Morteza Moghtadai, Mohammad Taqi Misbah Yazdi, dan puluhan murid lainnya.
Ayatullah Araki memberikan dukungan dalam pelbagai periode Revolusi Islam dan beliau punya perhatian khusus kepada Imam Khomeini ra. Di antara karya-karya Ayatullah Araki berjudul "Risalah fil Ijtihad wal Taklid" dan "Hasiye bar Urwatul Wutsqa" atau penjelasan atas kitab Urwatul Wutsqa.