Nov 30, 2016 10:45 Asia/Jakarta

Hari ini, Rabu tanggal 30 November 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 30 Shafar 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 10 Azar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Hari Syahadah Imam Ridha as

 

1235 tahun yang lalu, tanggal 30 Shafar 203 HQ, Imam Ali bin Musa as atau lebih dikenal dengan Ridha merupakan keturunan dari Rasulullah Saw gugur syahid.

 

Imam Ridha lahir pada tahun 148 Hijriah di kota Madinah.  Beliau menjadi imam setelah ayahnya Imam Musa Kazhim as gugur syahid. Beliau dipanggil Ridha karena sikap rela dan gembira menerima apa yang dikaruniakan kepadanya.

 

Makmun, Khalifah Bani Abbas pada tahun 200 Hijriah memerintahkan Imam Ridha as untuk pergi ke Marv, yang terletak di tenggara Turkmenistan sekarang yang dulunya merupakan bagian dari Khorasan besar. Meskipun pada lahirnya Makmun melantik Imam Ridha menjadi penggantinya, tetapi sebenarnya dia berniat untuk memperkokohkan pemerintahannya sendiri. Dalam kondisi ini, Imam terpaksa menerimanya.

 

Kedudukan tinggi ilmu dan spiritual Imam Ridha dan pengaruhnya yang semakin berkembang dalam opini umum secara berangsur-angsur menyebabkan Makmun menjadi takut. Akhirnya Makmun meracuni Imam Reza.

 

Antara kata-kata hikmah yang dapat dipetik dari kata-kata beliau, "Hamba Allah terbaik adalah mereka yang merasa senang setiap kali berbuat baik dan segera meminta ampunan setiap kali berbuat salah. Mereka akan menyukuri setiap nikmat yang dianugerahkan kepadanya dan saat dililit masalah mereka tetap bersabar dan tidak murka."

 

Jonathan Swift Lahir

 

349 tahun yang lalu, tanggal 30 November 1667, Jonathan Swift, penulis terkenal Irlandia terlahir ke dunia di kota Dublin.

 

Pada masa perjuangan kemerdekaan Irlandia, Swift juga turut aktif berjuang. Karya terkenal Swift adalah Perjalanan Gulliver yang diterbitkan tahun 1726. Meskipun diberi label sebagai buku anak-anak, namun buku itu populer di berbagai tingkat usia.

 

Buku ini menunjukkan keinginan Swift untuk menarik minat baca masyarakat dan tidak menerima segala sesuatu begitu saja sebelum melakukan penelitian. Para pembaca buku itu bisa mencocokkan semua kisah dalam buku Gulliver dengan kejadian masa kini dan masalah sosial jangka panjang. Swift meninggal dunia pada usia 78 tahun.

 

Penemu Vaksin Cacar Meninggal Dunia

 

194 thaun yang lalu, tanggal 30 November 1822, Edward Jener, seorang dokter Inggris penemu vaksin cacar, meninggal dunia.

 

Edward Jener adalah seorang dokter yang lebih memilih tinggal di pedesaan untuk merawat masyarakat. Ia kemudian meneliti kebenaran mitos di kalangan petani, yaitu bahwa orang yang telah terjangkit penyakit cacar sapi, tidak akan terjangkit penyakit cacar.

 

Para penderita cacar sapi biasanya meminum susu sapi yang telah terjangkit oleh cacar sapi. Ia kemudian melakukan eksperimen pertamanya dengan memvaksin seorang anak berusia 8 tahun dengan kelenjar yang diambil dari tangan seorang penderita cacar sapi. Kata "vaksin" sendiri berasal dari bahasa Latin "vaccinus" yang artinya sapi.

 

Namun  beberapa tahun kemudian, muncul gerakan yang menentang keras vaksin cacar di Inggris, yang dipimpin oleh Mary Hume, dengan menulis buku "150 Alasan Untuk Menolak Vaksin". Salah satu di antaranya alasan tersebut adalah bahwa penyakit cacar bisa hilang dengan sendirinya dan vaksin yang disuntikkan ke tubuh manusia bahayanya jauh lebih besar daripada penyakit cacar itu sendiri.

 

Ayatullah Modarres Gugur Syahid

 

84 tahun yang lalu, tanggal 10 Azar 1311 HS, Ayatullah Sayid Hassan Modarres, seorang ulama pejuang Iran gugur syahid di tangan para antek rezim despotik Reza Khan.

 

Ayatullah Modarres dilahirkan di kota Kahsmer, barat laut Iran pada tahun 1860. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau melanjutkan belajar ke Hauzah Ilmiah di kota Najaf, Irak. Di kota itu, beliau menuntut ilmu dari ulama-ulama besar seperti Ayatullah Mirza Shirazi. Sekembalinya ke Iran, Ayatullah Modarres memulai perjuangannya dalam menentang rezim Shah.

 

Perjuangan beliau semakin meningkat setelah terpilih sebagai anggota parlemen Iran periode ketiga. Beliau dengan gigih memperjuangkan agar hukum Islam ditegakkan dan agar Iran terlepas dari cengkeraman imperialisme. Hal inilah yang membuat Shah Reza Pahlevi amat membencinya dan berkali-kali berupaya melakukan pembunuhan terhadap beliau.

 

Banyak orang yang meminta agar Ayatullah Modares meninggalkan dunia politik karena urusana agama dan politik tidak ada kaitannya. Menjawab kritikan ini, Ayatullah Modarres menjawab, "Politik itu agama dan agama itu politik."