Lintasan Sejarah 10 Desember 2016
Hari ini, Sabtu tanggal 10 Desember 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 10 Rabiul Awal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 20 Azar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Abdul Mutthalib Wafat
1483 tahun yang lalu, tanggal 10 Rabiul Awal 45 tahun sebelum Hijrah, Abdul Muthalib, kakek Rasulullah Saw , meninggal dunia di Mekah.
Beliau adalah pembesar kaum Quraisy pada masa sebelum lahirnya Islam. Abdul Muthalib adalah pengurus Ka'bah dan pemberi air serta makanan kepada para peziarah Ka'bah.
Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang amat dihormati dan karena itulah keluarga Abdul Muthalib memiliki posisi yang tinggi tengah masyarakatnya. Anak Abdul Muthalib di antaranya adalah Abdullah, ayah Rasulullah Saw dan Abu Thalib, paman Rasulullah.
Rasulullah Saw Menikah dengan Khadijah
1410 tahun yang lalu, tanggal 10 Rabiul Awal 28 tahun sebelum Hijrah, Muhammad Saw menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang bangsawan kaya di kota Mekah.
Khadijah dikenal sebagai perempuan yang suci dan beriman sehingga dijuluki dengan nama Thahirah atau suci. Setelah Muhammad Saw diangkat Allah sebagai Rasul-Nya, Khadijah-lah perempuan pertama yang beriman kepada Islam. Setelah itu, seluruh beliau menyumbangkan seluruh hartanya demi penyebaran Islam.
Kesetiaan dan pengabdian Khadijah kepada Rasulullah sedemikian besarnya sehingga bertahun-tahun setelah Khadijah meninggal, Rasulullah masih terus mengenangnya dan menyebut-nyebut kebaikannya.
Belanda Kembali Menguasai Sumatera
200 tahun yang lalu, tanggal 10 Desember 1816, Belanda kembali meraih kekuasaannya atas Sumatera, dan Indonesia pada umumnya.
Belanda menginjakkan kaki di wilayah Indonesia pada tahun 1651 dengan menginvasi Kupang di Timur Barat. Sebelum kedatangan Belanda, beberapa wilayah Indonesia Timur telah dikuasai oleh Portugis. Namun, hingga 200 tahun kemudian, batas jajahan antara dua kekuasaan imperialis itu masih belum jelas. Pada tahun tanggal 20 April 1859, Belanda dan Portugis menjalin perjanjian bahwa Belanda menguasai bagian barat pulau Timor dan Portugis menguasai bagian timurnya.
Selama era Perang Napoleon, Belanda jatuh ke tangan Perancis dan akibatnya, wilayah jajahan Belanda di Indonesia diambil oleh Inggris. Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia dipegang oleh Sir Thomas Raffles.
Setelah jatuhnya Napoleon dan berakhirnya pendudukan Belanda oleh Perancis, Belanda dan Inggris menandatangani sebuah konvesi di London pada tahun 1814, yang berisi pengembalian wilayah kolonial Belanda yang didapatnya sejak tahun 1803. Dua tahun kemudian, Sumatera pun kembali jatuh ke tangan Belanda.
Selama waktu itu, rakyat Indonesia dengan gigih berjuang melawan penjajahan Belanda, namun selalu mengalami kegagalan, sampai akhirnya berhasil merdeka pada tahun 1945.
Ayatullah Dastgheib Gugur Syahid
35 tahun yang lalu, tanggal 20 Azar 1360 HS, Ayatullah Dastgheib gugur syahid di usia 68 tahun saat akan mengimami shalat Jumat. Pelaku pengeboman itu adalah kelompok anti-Revolusi Iran.
Ayatullah Sayid Abdul Hossein Dastgheib lahir pada tahun 1292 Hs di kota Shiraz di lingkungan keluarga ilmuan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya dan pengantar ilmu-ilmu keislaman, dalam usia 22 tahun ia pergi kota Najaf, Irak untuk menuntut ilmu. Di Najaf, Ayatullah Dastgheib, belajar pada guru-guru besar seperti Sayid Abul Hasan Isfahani, Sheikh Mohammad Kazhim Syirazi dan Sayid Mirza Agha Estahbanati.
Selama bertahun-tahun menimba ilmu di kota Najaf, Ayatullah Dastgheib akhirnya mencapai derajat mujtahid. Namun beliau belum merasa cukup dengan apa yang diraihnya dan berusaha mencari seorang guru akhlak dan irfan yang benar-benar mampu membawanya ke dalam lembah keimanan. Pada akhirnya upaya ini membawa beliau bertemu dengan ustad akhlak terkenal waktu itu, Mirza Mohammad Ali Qazi Tabrizi dan menjadi salah satu murid khususnya.
Bersamaan dengan kebangkitan Islam di Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra, Ayatullah Dastgheib ikut sejak tahun 1341 dan pada tanggal 15 Khordad 1342 (5 Juni 1953) beliau ditangkap dan diasingkan ke Tehran. Setelah itu beliau beberapa kali ditangkap oleh pemerintah Shah Pahlevi. Di masa perjuangan ini beliau bersama empat ulama besar lainnya mengeluarkan pernyataan mencabut Shah dari kepemimpinannya.
Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Ayatullah Dastgheib ditempatkan di sejumlah posisi penting seperti wakil warga Shiraz di Dewan Ahli Kepemimpinan dan Imam Jumat serta wakil Imam Khomeini ra di provinsi Fars. Selain sejumlah pelayanan yang diberikan kepada warga, beliau juga banyak menulis karya ilmiah seperti "Adab dari al-Quran, Mikraj, Iman, Dosa-dosa Besar, Qalb Salim, Cerita-cerita Menakjubkan dan lain-lain.