Lintasan Sejarah 11 Desember 2016
Hari ini, Ahad tanggal 11 Desember 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 11 Rabiul Awal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 21 Azar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Alfred De Musset Lahir
206 tahun yang lalu, tanggal 11 Desember 1810, Alfred De Musset, seorang penyair dan penulis naskah drama terkenal Perancis, terlahir ke dunia.
De Musset adalah penulis drama modern pertama dalam bahasa Perancis. Alfred de Musset memulai karirnya di bidang syair dan drama sejak tahun 1828 dan pada tahun 1829, terbitlah kumpulan puisi pertamanya. Pada tahun berikutnya, ia menulis La Nuit Venetienne, karya drama pertamanya namun karyanya ini mendapat penghinaan ketika dipentaskan.
Sejak tahun 1840-an, karya-karya dramanya meraih kesuksesan di pentas-pentas drama Perancis. Atas karya-karyanya yang dianggap bernilai tinggi, akhirnya pada tahun 1852, De Musset diangkat sebagai anggota Akademi Perancis. De Musset meninggal dunia tahun 1857.
Ayatullah Sayid Hasan Sadr Gugur Syahid
84 tahun yang lalu, tanggal 11 Rabiul Awal 1354 HQ, Ayatullah Sayid Hasan Sadr, seorang ulama terkemuka Islam, meninggal dunia.
Ayatullah Sayid Hasan Sadr berhasil mencapai derajat mujtahid pada usia muda dan masuk ke jajaran ulama terkemuka di hauzah ilmiah Najaf pada masa itu.
Ayatullah Hasan Sadr yang terkenal pula dengan nama Shadruddin ini memiliki ilmu yang luas di bidang fiqih, ushul fiqih, teologi, hikmah, hadis, dan lain-lain. Beliau banyak meinggalkan karya-karya penulisan di antaranya berjudul "Ta'sisu-Syiah al-Kiram lifunuunil Islam" dan "Tahsiilul Furu' ad-Diiniiyah fi Fiqhil Imaamiyah."
Pesan Imam Khomeini ra Pasca Demonstrasi di Bulan Muharam
38 tahun yang lalu, tanggal 21 Azar 1357 HS, Imam Khomeini ra mengirim pesan pasca demonstrasi rakyat Iran di bulan Muharam.
Menyusul turunnya rakyat ke jalan-jalan melakukan pawai akbar pada Tasua dan Asyura tahun 1399 Hq yang bertepatan dengan tanggal 19 dan 20 Azar 1357, Imam Khomeini ra pada 21 Azar 1357 (12 Desember 1978) mengeluarkan pesan pentingnya. Dalam pesannya Imam menyebut pawai akbar itu sebagai referendum bangsa Iran yang anti terhadap rezim Shah Pahlevi.
Imam Khomeini ra dalam pesannya mengatakan, "Kepada seluruh rakyat pemberani Iran saya mengucapkan salam. Kalian adalah rakyat yang memiliki tekad baja dan dengan slogan yang kalian ucapkan telah membuktikan kepada dunia bahwa kalian tidak menginginkan Shah. Bersamaan dengan pawai akbar kalian, dalam pesan kepada Tehran dan negara-negara di dunia, saya mengumumkan bahwa pawai akbar yang dilakukan selama dua hari ini merupakan referendum besar dan transparan bahwa bangsa Iran tidak menginginkan Shah Pahlevi. Rakyat dalam pawai akbar ini telah menyatakan tidak mengakui Shah. Pawai akbar ini telah mencerabut segala bentuk alasan dari setiap orang dan semua negara di dunia bahwa mereka tidak dapat lagi mengklaim bahwa Shah sebuah rezim legal."
Ayatullah Syeikh Mahdi Mudarris Yazdi Wafat
25 tahun yang lalu, tanggal 11 Rabiul Awal 1413 HQ, Ayatullah Syeikh Mahdi Mudarris Yazdi meninggal dunia dalam usia 83 tahun.
Allamah Mahdi Mudarris Yazdi lahir di kota Yazd pada 1330 Hq dari keluarga ulama. Beliau pernah menuntut ilmu di Qom dan Najaf, Irak. Selama mempelajari ilmu-ilmu agama, beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Sayid Abu al-Hasan Isfahani, Sayid Dhiya ad-Din al-Iraqi, Haj Agha Husein Boroujerdi dan lain-lain hingga mencapai derajat ijtijad.
Setelah belajar bertahun-tahun di Najaf, Irak, Allamah Mudarris Yazdi kembali ke kota Qom dan setelah itu berhijrah ke Tehran. Beliau tinggal di Tehran hingga akhir usianya dan selama itu pula sibuk mengajar dan membimbing masyarakat di kota ini.
Ali Alatas Meninggal Dunia
8 tahun yang lalu, tanggal 11 Desember 2008, DR.H.C. Ali Alatas S.H. meninggal dunia dalam usia 76 tahun di Singapura.
Ali Alatas lahir di Batavia (sekarang Jakarta) pada 4 November 1932. Ia adalah seorang diplomat Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (1988-1998, dua kali masa jabatan penuh). Hingga wafatnya, ia menjabat sebagai Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Myanmar, Utusan Khusus Presiden RI untuk masalah Timur Tengah, dan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.
Pendidikan dasar kediplomatan diperoleh di Akademi Dinas Luar Negeri Jakarta (lulus 1954) dan di Fakultas Hukum UI (lulus 1956). Selanjutnya ia menggeluti dunia pers hingga awal 1950, kemudian ia masuk Direktorat Ekonomi Antarnegara departemen Luar Negeri. Karier sebagai diplomat dijalaninya di berbagai perwakilan Indonesia, seperti Thailand, Amerika Serikat, dan PBB. Ia pernah juga menjadi seketaris Adam Malik ketika Adam Malik menjadi Menteri Luar Negeri (1970-1976) dan Wakil Presiden RI (1978-1982).
Kariernya mulai berkembang sewaktu menjabat sebagai staf perwakilan Indonesia di PBB. Di sana ia aktif dalam menggalang suara G77, kelompok negara-negara berkembang di lembaga dunia tersebut. Penghargaan yang diterimanya, di antaranya, adalah Bintang Mahaputera Utama dan beberapa penghargaan dari luar negeri dan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Diponegoro pada tahun 1996.