Des 20, 2016 07:07 Asia/Jakarta

Hari ini, Selasa tanggal 20 Desember 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 20 Rabiul Awal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 30 Azar 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Kaum Muslimin Menaklukkan Iran

 

1374 tahun yang lalu, tanggal 30 Azar 21 HS,  menyusul kekalahan yang dialami oleh Raja Yazdgerd Ketiga, raja terakhir dari Dinasti Sasani, dari pasukan kaum Muslimin, dimulailah era Islam di Iran.

 

Kemenangan kaum Muslimin dalam perang yang terjadi Nahawand, sebelah barat Iran itu,  telah mengakhiri masa 416 tahun kekuasaan Dinasti Sasani dan mengakhiri penderitaan rakyat Iran yang ratusan tahun diperintah oleh dinasti kerajaan yang despotik.

 

Secara bertahap, rakyat Iran mengenal Islam dan karena prinsip tauhid, keadilan, dan persaudaraan yang terkandung dalam Islam, merekapun memeluk agama Ilahi ini. Lambat laun, akhirnya agama Islam tersebar luas di bumi Persia.

 

Abu Thayyib Thabari Meninggal Dunia

988 tahun yang lalu, tanggal 20 Rabiul Awal 450 HQ, Abu Thayyib Thabari seorang ulama dan sastrawan muslim terkenal meninggal dunia di kota Baghdad dalam usia 102 tahun.

 

Abu Thayyib Thabari dilahirkan di Amol, sebuah kawasan di utara Iran, pada tahun 347 hijriah. Setelah usianya beranjak dewasa, Thabari melakukan perjalanan ke Bahhdad dalam rangka menuntut ilmu.

Di kota itu pulalah beliau akhirnya menetap dan menjalani tugas keulamaannya hingga akhir hayatnya. Di antara karya terkenal Thabari adalah buku-buku berjudul "Jawabun fis-Sima' wal Ghina" dan "At-Ta'liqatul Kubra fil Furu'".

Abiwardi Wafat

931 tahun yang lalu, tanggal 20 Rabiul Awal 507 HQ, Muhamad bin Ahmad bin ‘Utsman, terkenal dengan nama Abiwardi, seorang penyair dan sastrawan terkenal Iran meninggal dunia di kota Isfahan.

 

Abiwardi adalah seorang sastrawan yang semasa hidupnya dikenal memiliki cita rasa sastra dan bahasa yang sangat tinggi.

Hingga kini, karya tulisnya di bidang bahasa dan sastra masih dianggap sebagai salah satu sumber rujukan ilmiah yang cukup penting. Di antara karya tulisnya adalah kitab berjudul "Tarikh Abiward" dan "Thabaqatul Ulum".

 

Jaroslav Heyrovsky, Kimiawan Ceko lahir

 

126 tahun yang lalu, tanggal 20 Desember 1890, Jaroslav Heyrovsky, ahli kimia Cek lahir ke dunia.

 

Jaroslav Heyrovsky meninggal dunia 27 Maret 1967 dalam usia 76 tahun. Ia adalah tokoh Cekoslowakia yang pada 1955, juga pada 1947 dan 1956 dinominasikan sebagai tokoh Ceko pertama yang menerima Penghargaan Nobel dalam Kimia untuk 'penemuan'-nya atas polarografi.

 

Jaroslav Heyrovsky lahir di Praha dan belajar kimia, fisika, dan matematika di Universitas Charles, Praha, lalu melanjutkan studinya di University College, London. Di masa ini ia belajar dengan Sir William Ramsay. Ia mendapatkan gelar Bachelor of Science pada 1913 dan bersama dengan Profesor Donnan ia mulai tertarik di bidang elektrokimia.

 

Ia mendapatkan gelar doktor pada 1918 dan untuk yang kedua kalinya pada 1923. Heyrovsky memulai karier ilmiahnya di Universitas Charles, Praha di mana ia menjadi profesor kimia fisika pertama di sana. Pada masa Perang Dunia II ia menjadi ketua Institut Polarografi di Univerzita Karlova. Setelah meninggal ia dimakamkan di pemakanan Vysehrad.

 

Teks Perjanjian Segi Tiga Diserahkan ke Majlis Iran

 

75 tahun yang lalu, tanggal 30 Azar 1320 HS, teks perjanjian segi tiga antara Iran, Uni Soviet dan Inggris diserahkan ke Majlis Iran.

 

Langkah paling penting yang diambil oleh Kabinet Mohammad Ali Foroughi setelah Mohammad Reza Pahlevi berkuasa, pasca Perang Dunia II dan kehadiran pasukan Sekutu di Iran, adalah penandatanganan perjanjian antara Iran, Uni Soviet dan Inggris. Teks perjanjian itu diserahkan ke Majlis Iran pada 30 Azar 1320 HS.

 

Dalam perjanjian ini disebutkan mengenai Uni Soviet dan Inggris harus menghormati kedaulatan Iran, tapi pada saat yang sama Iran harus memberikan kemudahan kepada Uni Soviet dan Inggris selama perang dan penempatan pasukan militer Sekutu di Iran tanpa batas waktu.

 

Perjanjian ini, sekalipun secara lahiriah tidak merugikan Iran, tapi kehadiran pasukan Sekutu untuk waktu yang lama di Iran, serta kerugian akibat harus mengalokasikan dana membuat kehidupan rakyat miskin menjadi semakin sulit. Setelah perang berakhir, sekalipun Uni Soviet telah berjanji menarik pasukannya dari Iran, tapi mereka selalu mencari alasan untuk tetap berada di Iran. Tapi setelah pemerintah Iran melakukan pengaduan ke organisasi-organisasi internasional, pasukan Soviet akhirnya siap meninggalkan Iran.