Jan 31, 2017 07:35 Asia/Jakarta

Hari ini, Selasa tanggal 31 Januari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 2 Jumadil Awal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 12 Bahman 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.

Abul Hasan Bagdadi Meninggal

 

1025 tahun yang lalu, tanggal 2 Jumadil Awal 413 HQ, Abul Hasan Ali bin Hilal Bagdadi, seorang sastrawan dan kaligrafer muslim terkenal, meninggal dunia.

 

Abul Hasan Ali bin Hilal Bagdadi yang dijuluki dengan nama Ibnu Bawwab ini dikenal memiliki tulisan tangan yang indah. Ia bahkan menciptakan kaidah kaligrafi baru yang merupakan pengembangan dari kaidah seni kaligrafi yang diciptakan oleh kaligrafer pendahulunya, Ibnu Muqlah.

 

Salah satu di antara karya Ibnu Bawwab adalah naskah al-Quran yang sangat indah dan bernilai tinggi yang sampai saat ini masih tersimpan di sebuah museum di Inggris.

 

Mirza Yahya Meninggal

 

113 tahun yang lalu, tanggal 2 Jumadil Awal 1325 HQ, Mirza Yahya Bid-Abadi Isfahani, salah seorang ulama terkemuka di Isfahan, Iran, meninggal dunia.

 

Mirza Yahya lahir pada tahun 1250 Hijriah di kawasan Bid-Abad, Isfahan. Beliau kemudian menuntut ilmu dari ulama-ulama terkemuka pada zamannya, di antaranya Syaikh Murtadha Anshari.

 

Di samping mengabdikan hidupnya untuk mengajar ilmu-ilmu agama, Mirza Yahya juga menulis berbagai buku, di antaranya berjudul Tafdhiilul Aimmah Alal Malaikah.

 

Ajip Rosidi, Sastrawan Indonesia Lahir

 

79 tahun yang lalu, tanggal 31 Januari 1938, Ajip Rosidi dilahirkan di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.

 

Ajip Rosidi adalah sastrawan Indonesia yang memperkenalkan kebudayaan Sunda kepada Dunia. Ia pernah menjadi redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti, Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda, Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama kali diluncurkan tahun 1988.

 

Ajip juga dikenal sebagai "juru bicara" yang fasih menyampaikan tentang Indonesia kepada dunia luar. Hal ini ia buktikan ketika bulan April 1981 ia dipercaya mengajar di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Jepang, serta memberikan kuliah pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center.

 

Imam Khomeini Kembali ke Iran

 

38 tahun yang lalu, tanggal 12 Bahman 1357 HS atau 1 Februari tahun 1979, setelah lima belas tahun berada di pengasingan, akhirnya Imam Khomeini, pemimpin revolusi Islam Iran, kembali ke Iran.

 

Jutaan rakyat Iran turun ke jalan-jalan untuk menyambut Imam Khomeini dengan sangat antusias dan penuh kegembiraan. Setelah pesawat yang membawa Imam Khomeini dari Paris mendarat di bandara Mehrabad, Imam Khomeini memberikan pidato singkat dan kemudian langsung menuju taman makam pahlawan, Behesht Zahra.

 

Di sana, di hadapan rakyat Iran, beliau menyampaikan pidato bersejarah, yang antara lain berisi keputusan beliau untuk mendirikan pemerintahan baru di Iran dengan dukungan rakyat.

 

Sepuluh hari kemudian, Imam Khomeini berhasil meraih kontrol atas pemerintahan di Iran secara penuh dan dengan demikian, Revolusi Islam di Iran berhasil mencapai kemenangannya. Sepuluh hari bersejarah itu, yaitu sejak tanggal 1 Februari hingga 11 Februari atau menurut kalender nasional Iran, sejak tanggal 10 hingga 22 Bahman, hingga kini diperingati rakyat Iran dengan nama "Sepuluh Hari Fajar".

 

Sarvar Bakuchi meninggal dunia

 

24 tahun yang lalu, tanggal 12 Bahman 1371 HS, Sarvar Bakuchi, yang dikenal dengan nama Sepide Kashani, perempuan penyair kontemporer Iran  meninggal dunia di usianya yang ke 56 tahun.

 

Sarvar Bakuchi dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang religius di Kashan, Iran tengah, pada tahun 1315 HS. Sepideh mengenal puisi dari ayahnya. Sejak menginjak umur 32 tahun, dia benar-benar menekuni dunia kepenyairan secara serius.

 

Dengan meletusnya Revolusi Islam Iran 1357 Hs, puisi-puisi Sepideh banyak dibaktikan untuk perjuangan revolusi. Sebagian besar puisi-puisinya bertemakan Islam dan revolusi dalam bait-bait yang sederhana. Kupu-Kupu Malam, Tuturan Akrab, dan Manusia Sendirian adalah sejumlah karya puisi Sepide Kashani.