Lintasan Sejarah 12 Februari 2017
Hari ini, Ahad tanggal 12 Februari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 14 Jumadil Awal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 24 Bahman 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Charles Darwin Lahir
208 tahun yang lalu, tanggal 12 Februari tahun 1809, Charles Darwin, seorang ilmuwan Inggris terkenal, terlahir ke dunia.
Awalnya ia belajar di bidang kedokteran di Edinburgh University. Namun, karena tidak menukai bidang ini, ia beralih belajar teologi di Cambrige University.
Pada tahun 1831, ia bergabung dalam tim ekspedisi penelitian ke Amerika Selatan. Ekspedisi yang berlangsung lima tahun itu menghasilkan karya terkenal Darwin yang berjudul, On the Origin of Species by Means of Natural Selection atau Asal Mula Spesies Melalui Seleksi Alam. Buku ini diterbitkan tahun 1859 dan menimbulkan kontroversi yang sangat luas karena telah menggoncang kepercayaan yang ada saat itu mengenai penciptaan alam.
Dalam buku itu, Darwin mengemukakan teorinya bahwa makhluk hidup berevolusi melalui sebuah proses yang diistilahkannya sebagai seleksi alam. Menurut Darwin, makhluk hidup yang ada saat ini adalah mereka yang berhasil lolos seleksi dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Haj Mulla Ismail Sabzewari Meninggal
126 tahun yang lalu, tanggal 14 Jumadil Awal 1312 HQ, Haj Mulla Ismail Sabzewari, seorang ulama hadis dan al-Quran terkemuka abad ke 13 hijriah, meninggal dunia.
Haj Mulla Ismail Sabzewari Beliau dilahirkan di Sabzewar, timur laut Iran.
Mulla Ismail menuntut ilmu hikmah dan filsafat dari Haj Mula Hadi Sabzewari, filsuf terkemuka pada zaman itu. Setelah itu, Mula Ismail melanjutkan pendidikannya ke hauzah ilmiah di kota Najaf, Irak dan setelah mencapai derajat mujtahid, beliau kembali ke Iran. Mulla Ismail Sabzewari meninggalkan banyak karya penulisan, di antaranya berjudul Majma'un-Nurain.
Mirza Abdulghafar Tehrani Meninggal
112 tahun yang lalu, tanggal 14 Jumadil Awal 1326 HQ, Mirza Abdulghafar Tehrani, ahli matematika Iran abad ke-14 hijriah, meninggal dunia.
Mirza Abdulghafar Tehrani yang terkenal dengan julukan Najmud-Daulah ini, sejak muda telah tertarik pada bidang matematika. Ia kemudian menuntut ilmu di bidang tersebut di sekolah terkemuka Iran pada masa itu, Darul Funun.
Setelah lulus, Najmud-Daulah mengajar di Darul Funun dan melakukan banyak peneltian di bidang matematika. Najmud-Daulah meninggalkan beberapa karya penulisan, di antaranya berjudul Bidayatul Hisab dan Ushulul Handasah.
Abbas Iqbal Ashtiani Meninggal
61 tahun yang lalu, tanggal 24 Bahman 1334 HS (13 Februari 1956), Abbas Iqbal Ashtiani, seorang peneliti, penulis, ahli bahasa, dan sejarawan kontemporer Iran, meninggal dunia.
Beliau dilahirkan pada tahun 1897 HS dan setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Iran, Ashtiani melanjutkan pendidikannya ke Perancis sampai tahun 1926, ia berhasil meraih gelar sarjana dari Universitas Sorbonne. Setelah kembali ke Iran, Ashtiani mengajar di universitas Teheran dan melakukan berbagai penelitian dan penulisan.
Di antara karya-karya Abbas Iqbal Ashtiani, adalah buku berjudul "Jasa Iran Bagi Peradaban Dunia" dan "Sejarah Iran Sejak Masa Lahirnya Islam Hingga Penguasaan Mongol."
Ayatullah Sheikh Salman Khaqani Wafat
29 tahun yang lalu, tanggal 24 Bahman 1366 HS, Ayatullah Sheikh Salman Khaqani meninggal dunia dalam usia 76 tahun di kota Qom dan dimakamkan di komplek makam suci Sayidah Fathimah Maksumah.
Ayatullah Sheikh Salman Khaqani lahir pada 1293 Hs di sebuah kota di selatan Irak. Setelah melewati masa kanak-kanaknya, pada usia 13 tahun beliau pergi ke Najaf al-Asyraf dan belajar kepada guru-guru besar seperti Muhammad Jawad al-Balaghi, Muhammad Ali Kazhemaini, Mirza Bagher Zanjani dan Sayid Abul Qasim al-Khui.
Pasca wafatnya ayah beliau, Ayatullah Khaqani yang waktu itu berusia 43 tahun akhirnya memilih kembali ke kota aslinya Khorramshahr. Selama tiga dekade hidup di kota ini, beliau menuntun masyarakat dalam urusan agama.
Ketika Irak menyerang Iran, terutama kota Khorramshar, rumah beliau menjadi tempat berlindung masyarakat, sampai menjadi sasaran mortir musuh, sehingga terpaksa meninggalkan rumah dan kota tersebut menuju Qom. Dalam agresi rezim Baath, rumah, masjid dan perpustakaan Ayatullah Khaqani mengalami rusak parah.