Lintasana Sejarah 22 Februari 2017
Hari ini, Rabu tanggal 22 Februari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 24 Jumadil Awal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 4 Isfand 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Mirza Nasrullah Malikul Mutakallimin Ditangkap
112 tahun yang lalu, tanggal 24 Jumadil Awal 1326 HQ, Mirza Nashrullah Malikul Mutakallimin, penulis dan pejuang dalam melawan despotisme kerajaan di Iran, ditangkap oleh antek-antek Raja Shah Mohamad Ali Qajar.
Beberapa waktu kemudian, dia pun tewas dibunuh. Malikul Mutakklimin terlahir ke dunia pada tahun 1277 Hijriah di Isfahan, Iran.
Pada usia ke-22 tahun, dia melakukan perjalanan ke India. Penderitaan rakyat India yang dijajah oleh Inggris menimbulkan pengaruh besar dalam jiwanya sehingga ia kemudian menulis buku pertamanya yang berjudul Minal Khalq ilal Haq.
Buku ini mendapat sambutan luas dari rakyat dan ulama India, namun menimbulkan kemarahan dari pemerintah India dan kolonialis Inggris. Akibatnya, Malikul Mutakallimin pun diusir kembali ke Iran. Dia kemudian aktif memberikan pidato-pidato yang menentang pemerintahan Shah Mohammad Ali Qajar, sehingga akhirnya ditangkap dan dibunuh.
Ayatullah Sayid Mahdi Dorcheh-i Wafat
72 tahun yang lalu, tanggal 4 Isfand 1323 HS, Ayatullah Sayid Mahdi bin Sayid Morteza Dorcheh-i meninggal dunia dalam usia 91 tahun di kota Isfahan.
Ayatullah Sayid Mahdi Dorcheh-i lahir di kota Isfahand pada 1232 Hs. Beliau dimakamkan di pekuburan umum Takht-e Foulad, Isfahan di samping saudaranya.
Beliau adalah adik dari Sayid Mohammad Bagher Dorcheh-i, ulama besar Isfahan. Sayid Mahdi menyelesaikan pendidikan dasar keagamaannya di kota kelahirannya dan setelah itu pergi ke kota Najaf al-Asyraf untuk menuntut ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikannya di kota ini, beliau kembali ke tanah kelahirannya, Isfahan. Beliau termasuk ulama besar terutama dalam ilmu ushul fiqih.
Di masanya, Ayatullah Sayid Mahdi Dorcheh-i sangat dipercaya oleh seluruh warga dan menjadi rujukan masyarakat dalam masalah keagamaan. Ruang kuliahnya senantiasa dipenuhi ulama dan beliau mengajar di sana selama bertahun-tahun. Di akhir hidupnya beliau menjadi mujtahid paling alim dan memenuhi segala syarat di kota Isfahan. Sekalipun demikian, beliau lebih memilih hidup sederhana.
Doktor Beheshti Terpilih Sebagai Ketua Dewan Tinggi Negara
37 tahun yang lalu, tanggal 4 Isfand 1358 HS (23 Februari 1980), Ayatullah Doktor Mohammad Hosseini Beheshti diangkat sebagai ketua Dewan Tinggi Negara Republik Islam Iran.
Pengangkatan Beheshti dilakukan setelah diselenggarakan referendum yang hasilnya menyetujui dibentuknya Republik Islam Iran, disahkannya undang-undang dasar, dan dibentuknya Parlemen.
Dewan Tinggi Negara adalah sebuah lembaga yang bertugas membentuk Mahkamah Agung Iran. Namun, dua tahun kemudian, Doktor Beheshti yang merupakan salah satu ulama pejuang revolusi Islam garis depan, gugur syahid di tangan teroris.
Ayatullah Baqir Sadr Gugur Syahid
38 tahun yang lalu, tanggal 23 Jumadil Awal 1400 HQ, Ayatullah Sayid Muhamad Baqir Shadr beserta adik perempuannya, Bintul Huda, gugur syahid dieksekusi oleh pasukan keamanan Rezim Saddam Husein.
Baqir Sadr adalah seorang ulama besar dan jenius. Sejak usia masih sangat muda, Baqir Sadr telah mencapai derajat ijtihad, sebuah posisi keilmuan sangat tinggi dalam tradisi ilmu-ilmu hauzah. Baqir Sadr juga menyampaikan banyak pandangan ilmiah berupa kritikan atas filsafat materialisme Barat.
Pandangan-pandangan brilian ilmiahnya itu kemudian menjadi semakin bermakna ketika Baqir Sadr memutuskan untuk terjun secara langsung ke dunia politik. Langkah Baqir Sadr ini dengan segera menarik perhatian aktivis politik di Irak. Hal inilah yang membuat Rezim Baath menganggap Baqir Sadr sebagai tokoh yang membahayakan kepentingan mereka.
Saddam kemudian menangkap Baqir Sadr berikut adik perempuannya. Tindakan Rezim Saddam ini membangkitkan gelombang protes dari banyak kalangan di Irak. Menyadari bahwa Sadr telah menjadi bahaya yang mengancam, Saddam lalu melakukan tindakan pintas dan kejam yaitu dengan membunuh keduanya.
Baqir Sadr juga termasuk pendukung Revolusi Islam Iran di bawah pimpinan Imam Khomeini. Berkali-kali Baqir Sadr melakukan korespondensi dengan Imam Khomeini. Melalui surat-suratnya itu, Sadr terus-menerus menunjukkan dukungan dan kesetiannya terhadap gerakan revolusi di Iran.
Di antara karya ilmiah Baqir Sadr adalah buku berjudul "Falsafatuna", "Iqtishaduna", dan "Durus fi ‘Ilmil Ushul".