Lintasan Sejarah 23 Februari 2017
Hari ini, Kamis tanggal 23 Februari 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 25 Jumadil Awal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 5 Isfand 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Ya’is Meninggal Dunia
795 tahun yang lalu, tanggal 25 Jumadil Awal 643 HQ, Ibnu Ya'is, sastrawan dan ilmuwan Arab meninggal dunia di Halab (Aleppo), sebuah kota di Suriah.
Selama hidupnya, dia belajar Nahwu dan Hadis di kota Haalb, Mosul, dan Damaskus dan setelah menyelesaikan pelajarannya, dia mengisi waktunya dengan mengajar.
Ibnu Ya'is terkenal dalam bidang ilmu nahwu dan banyak sekali dari murid-muridnya yang menjadi terkenal dan masuk ke jajaran para ilmuan pada masa itu. Salah satu di antara murid ibnu Ya'is adalah Ibnu Khalikan, seorang sastrawan dan sejarawan terkenal abad ke 7 Hijriah.
Produksi Aluminium Pertama
131 tahun yang lalu, tanggal 23 Februari 1886, Martin Hall, seorang ilmuwan Amerika, berhasil menemukan cara peleburan alumunium modern pertama.
Campuran aluminium telah digunakan manusia sejak berabad-abad yang lalu, meskipun mereka tidak mengenalinya sebagai komposisi logam. Orang-orang Persia lebih dari 7000 tahun yang lalu telah menggunakan campuran aluminium dalam pembuatan pot dan mangkok mereka. Orang-orang Mesir dan Babylonia kuno juga menggunakan campuran aluminium untuk kosmetik dan obat-obatan.
Pada tahun 1808, keberadaan aluminium dibuktikan oleh Sir Humphry Davy, dan dialah yang memberi nama jenis komposisi logam itu dengan nama aluminium. Pada tahun 1888, Charles Martin Hall dari Pittsburgh, berhasil menemukan cara memproduksi aluminum dengan modal rendah dan kualitas yang tinggi dan dimulailah industri aluminiun dunia.
Ayatullah Qumi Wafat
68 tahun yang lalu, tanggal 25 Jumadil Awal 1370 HQ, Ayatullah Mirza Muhammad Feidh Qummi, seorang ulama dan marji taklid kaum muslimin, meninggal dunia di kota Qom, Iran.
Beliau dilahirkan di kota Qom dan menuntut ilmu di hauzah ilmiah kota Qom, lalu melanjutkan pendidikannya ke hauzah ilmiah di Najaf, Irak.
Pada tahun 1333 Hijriah, Ayatullah Qummi kembali dari Najaf dan mengabdikan hidupnya untuk mengajar di hauzah ilmiah di kota Qum.
Guyana Berubah Menjadi Republik
47 tahun yang lalu, tanggal 23 februari 1970, sistem pemerintahan Guyana berubah dari sistem Gubernur Jenderal menjadi Republik.
Guyana adalah sebuah negara di Amerika Tengah dan berpenduduk asli bangsa Indian. Pada abad ke 17, Guyana menjadi daerah jajahan bersama antara Belanda dan Inggris, namun sejak tahun 1815, Inggris berkuasa penuh atas Guyana. Pada tahun 1966, Guyana meraih kemerdekaannya dan menjadi anggota persemakmuran Inggris.
DK-PBB Keluarkan Resolusi 582 Soal Perang Iran-Irak
31 tahun yang lalu, tanggal 5 Isfand 1364 HS, Dewan Keamanan PBB Mengeluarkan Resolusi 582 soal perang Iran-Irak.
Dua hari pasca dikuasainya kawasan strategis al-Faw, Irak dalam sebuah operasi Val Fajr 8, Irak dan 7 negara anggota Liga Arab meminta Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang dan akhirnya pada tanggal 5 Isfand 1364 Hs (24 Februari 1986), DK-PBB meratifikasi resolusi 582.
Dalam resolusi ini, PBB menyayangkan perang berkepanjangan dan komitmen anggota PBB untuk menyelesaikan konflik ini secara damai, sekaligus mengingatkan kedua negara untuk tidak menggunakan senjata kimian dalam perang. Begitu juga resolusi ini tidak menerima upaya menguasai sebuah kawasan dengan kekuatan. Karena hal inilah yang menjadi penyebab perang dan berlanjutnya konflik.
Resolusi ini juga menyebutkan tentang semakin meluasnya serangan militer ke daerah-daerah yang ditempati penduduk sipil, begitu juga serangan terhadap kapal-kapal yang tidak ikut dalam konflik dan kedua negara diminta untuk melakukan gencatan senjata.
Jelas bahwa ratifikasi resolusi 582 hanya akibat dari dikuasainya kawasan al-Faw dan tidak ada pembahasan mengenai sebab perang dan siapa pemicu pertama perang ini.
Menyusul diumumkannya resolusi ini, Republik Islam Iran mengumumkan bahwa bagian dari resolusi yang menghentikan perang masih ada kekuarangan dan tidak dapat diterima, apalagi diterapkan. Irak sendiri mengumumkan bahwa bila Iran menerima resolusi ini secara resmi dan tanpa syarat, maka Irak juga akan melaksanakannya. Dengan demikian, resolusi inipun bernasib sama dengan resolusi-resolusi lainnya.