Lintasan Sejarah 12 Maret 2017
Hari ini, Ahad tanggal 12 Maret 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 13 Jumadil Tsani 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 22 Isfand 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Ummul Banin, Istri Imam Ali as Wafat
1374 tahun yang lalu, tanggal 13 Jumadil Tsani 64 HQ, Ummul Banin, istri Imam Ali as meninggal dunia di Madinah dan dimakamkan di kota ini.
Setelah bertahun-tahun ditinggal oleh istrinya, Sayidah Fathimah az-Zahra as, Imam Ali as menikah dengan Fathimah Kilabiyah, lewat usulan saudaranya, Aqil yang merupakan ahli nasab yang mengetahui dengan baik keturunan Arab. Dari Fathimah Kilabiyah ini, Imam Ali as dikaruniai empat orang anak laki-laki; Abbas, Jakfar, Abdullah dan Utsman. Karena melahirkan empat orang anak laki-laki, akhirnya Fathimah Kilabiyah dijuluki Ummul Banin yang berarti ibu dari anak-anak laki.
Keempat anaknya mereguk cawan syahadah dalam peristiwa Karbala, dan ibu mereka tampak tegar dan sabar menghadapi cobaan ini.
Ketika beliau mendapat informasi tentang peristiwa Asyura, beliau membawa Ubaidullah, anak Abbas ke kuburan Baqi' dan membacakan puisi memuji anak-anaknya. Rakyat Madinah yang mendengarkan puisi yang dibacakan Ummul Banin berkumpul di Baqi' dan menangis bersama beliau.
Muhaqqiq Al-Hilli Wafat
762 tahun yang lalu, tanggal 13 Jumadil Tsani 676 HQ, Ja’far bin Hasan yang lebih dikenal dengan Muhaqqiq al-Hilli meninggal dunia dalam usia 74 tahun dan dimakamkan di kota Hillah.
Muhaqqiq al-Hilli lahir pada 602 Hq di kota Hillah, Irak. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar keagamaan di kota kelahirannya, beliau kemudian belajar kepada guru-guru besar seperti Allamah al-Hilli, Ibnu Dawud al-Hilli, Sayid Bin Thawus dan lain-lain sehingga mencapai derajat keilmuwan yang tinggi.
Pasca serangan tentara Mongolia ke Iran, Hauzah Ilmiah Baghdad rusak parah dan Muhaqqiq al-Hilli berusaha menghidupkan Hauzah Hillah. Beliau banyak menulis karya-karya ilmiah seperti Syara’i al-Islam yang menjadi buku referensi fiqih argumentasi.
Perjanjian Konstantinopel Ditandatangani
163 tahun yang lalu, tanggal 12 Maret 1854, perjanjian bersejarah Konstantinopel ditandatangani di Istanbul, ibukota Imperium Ottoman, oleh Perancis, Inggris, dan Ottoman.
Perjanjian ini berisi kesepakatan kerjasama antara ketiga negara untuk menghadapi politik agresi Rusia dalam era Perang Crimea. Berkat perjanjian ini, akhirnya Rusia berhasil dikalahkan.
Ayatullah Vahid Golpaygani Wafat
43 tahun yang lalu, tanggal 22 Isfand 1352 HS, Ayatullah Mirza Hedayatollah Vahid Golpaygani meninggal dunia dan dimakamkan di pekuburan umum Sheikhan, Qom.
Ayatullah Vahid Golpaygani lahir di desa Gouged, Golpaygan pada 1269 HS. Beliau mempelajari ilmu-ilmu keislaman pada ayahnya dari tingkat dasar hingga menengah di kota kelahirannya. Setelah itu beliau pergi ke Arak dan belajar kepada Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi dan guru-guru besar lainnya. Ketika Ayatullah Hairi Yazdi pergi ke Qom, beliau juga mengikuti gurunya dan selama 10 tahun lagi berguru kepadanya. Beliau sempat belajar kepada Ayatullah Sayid Abolhossein Isfahani saat sejumlah ulama Najaf al-Asyraf, Irak diasingkan ke Iran.
Pasca meninggal ayahnya, Ayatullah Vahid Golpaygani mendapat dorongan dari Ayatullah Hairi Yazdi agar kembali ke Golpaygan dan mendirikan Hauzah Ilmiah Golpaygan. Beliau sendiri selama bertahun-tahun sangat aktif mengajar di sana, hingga kedatangan Ayatullah Boroujerdi ke Qom. Beliau akhirnya meninggalkan Golpaygan dan pergi ke Qom pada 1323 HS dan belajar kepada Ayatullah Boroujerdi. Setelah itu beliau pergi ke Tehran dan hingga akhir hayatnya selama hampir 30 tahun mengajar di Madrasah Ali Sepahsalar.
Perintah Imam Khomeini untuk Melindungi Keluarga Syuhada
37 tahun yang lalu, tanggal 22 Isfand 1358 HS (12 Maret tahun 1980), pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini, mengeluarkan perintah untuk didirikannya lembaga yang bertugas melindungi keluarga para syuhada Iran.
Beberapa bulan setelah kemenangan revolusi Islam di Iran, negara ini diserang oleh Irak yang diprovokasi oleh negara-negara adidaya, seperti AS, Rusia, dan Inggris. Negara-negara Barat itu memberikan bantuan uang dan senjata kepada Irak dengan tujuan agar Republik Islam Iran terguling. Namun, rakyat Iran dengan gigih mempertahankan negara mereka dan ratusan ribu pejuang Iran gugur syahid dan ratusan ribu lainnya luka-luka, cacat, atau terkena radiasi senjata kimia yang digunakan Irak.
Lembaga perlindungan para syuhada hingga kini berperan besar dalam melindungi keluarga para korban perang tersebut, di antaranya memberi beasiswa dan santunan kepada anak-anak mereka.