Jul 19, 2017 05:41 Asia/Jakarta

Hari ini, Rabu tanggal 19 Juli 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 24 Syawal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 28 Tir 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.

Abdurrazaq Shanani Meninggal Dunia

1227 tahun yang lalu, tanggal 24 Syawal 211 HQ,  Abdurrazaq  Shanani, seorang cendikiawan dan ahli hadis terkenal abad ke-3 Hijriah, meninggal dunia di Yaman.

Abdurrazaq  Shanani  adalah seorang cendikiawan yang amat konsisten dalam menimba  dan menyebarluaskan ilmu. Abdurrazaq Shanani banyak membimbing murid-murid di bidang agama.

Selain itu, dia juga menghapal al-Quran dan menulis buku tafsir al-Quran yang kini masih tersimpan di perpustakaan Mesir. Pada akhir usianya, dia kehilangan pengelihatannya dan akhirnya meninggal dunia pada usia 85 tahun.

Herman Staudinger Lahir

136 tahun yang lalu, tanggal 19 Juli 1881, Herman Staudinger, seorang kimiawan terkenal Jerman, terlahir ke dunia di kota Worms.

Ayahnya adalah seorang dokter dan Herman memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu sampai ke tingkat universitas. Herman Staudinger lulus dari Universitas Halle pada tahun 1903 dan diangkat sebagai dosen pada Universitas Strasbourg pada tahun 1907. Selanjutnya, Herman mengajar ilmu kimia di beberapa universitas lainnya dan akhirnya diangkat sebagai Kepala Institut Penelitian Nasional di Bidang Kimia Makromolekular.

Pada tahun 1953, Herman Staudinger dianugerahi Hadiah Nobel di bidang kimia atas penemuan-penemuannya di bidang kimia makromolekular. Staudinger menerbitkan buku dan makalah ilmiah dalam jumlah yang sangat banyak. Khusus di bidang makromolekular, Staudinger menulis lebih dari 500 makalah ilmiah, di samping beberapa buku. Staudinger meninggal dunia tahun 1965 pada usia 84 tahun.

Ayatullah Muhammad Husein Kasyif Al-Ghita Wafat

62 tahun yang lalu, tanggal 28 Tir 1334 HS, Ayatullah Mohammad Hossein Kasyif al-Ghita meninggal dunia di usia 77 tahun dan dikebumikan di Najaf al-Asyraf, Irak.

Ayatullah Muhammad Husein Kasyif al-Ghita lahir dari keluarga ulama sekitar 1255 HS di kota Najaf, Irak. Di masa remaja, beliau mempelajari tingkat dasar ilmu-ilmu agama dan setelah itu belajar pada guru-guru besar seperti Akhond Khorasani, Sayid Mohammad Kazem Yazdi dan Mirza Hossein Nouri. Beliau dengan cepat melalui semua tingkat keilmuan dan pasca wafatnya Allamah Yazdi, beliau menjadi marji yang ditaklidi banyak Muslimin.

Ayatullah Kasyif al-Ghita termasuk ulama yang mewajibkan partisipasi ulama dan rakyat dalam urusan politik dan sangat memperhatikan masalah yang ada hubungannya dengan pemerintahan. Itulah mengapa beliau punya peran penting dalam gerakan-gerakan nasional Irak. Dengan dimulainya Perang Dua I, beliau pro aktif dalam gerakan perjuangan rakyat Irak melawan penjajah Inggris.

Sekalipun Ayatullah Kasyif al-Ghita memiliki banyak aktivitas sosial dan politik, tapi beliau tidak lupa menuliskan pikiran-pikirannya. Beliau menulis Tahrir al-Majallah dalam 5 jilid, al-Murajat al-Raihaniyah dalam 2 jilid, catatan pinggir Ain al-Hayat dan al-Siasah al-Huseiniah.

Gerakan Sandinista Menang

38 tahun yang lalu, tanggal 19 Juli 1979, perlawanan rakyat Nikaragua yang dipimpin oleh gerakan Sandinista, berhasil mencapai kemenangan dengan tergulingnya pemerintahan Anastasio Somoza Debayle.

Sebelumnya, Presiden Nikaragua adalah Jenderal Anastasio Somoza yang tewas tertembak tahun 1956. Ia digantikan oleh anaknya, Luis Somoza.

Pada tahun 1967, Luis Somoza digantikan oleh adiknya, Anastasio Somoza Debayle yang mendapat dukungan dari AS. Ketidakpuasan yang timbul di tengah-tengah rakyat memicu gerakan perlawanan dan kelompok gerilyawan Sandinista yang berhaluan kiri merupakan kelompok yang berjuang di garis depan dalam usaha penggulingan kekuasaan Somoza. Dalam gerakan perlawanan rakyat ini, 40.000 orang tewas dan lebih dari 200.000 lainnya kehilangan tempat tinggal.

Setelah kemenangan Sandinista, AS mengorganisasi gerakan anti-Sandinista atau gerakan Contra, yang dananya diambil dari penjualan senjata AS kepada Iran, sehingga memunculkan skandal besar dalam dunia politik AS yang disebut sebagai "Skandal Iran-Contra".

Jalaluddin Humai Meninggal

37 tahun yang lalu, tanggal 28 Tir 1359 HS, Jalaluddin Humai, cendikiawan dan sastrawan Iran terkenal, meninggal dunia.

Humai dilahirkan pada tahun1378 HS di kota Isfahan, Iran. Sejak usia lima tahun, Humai mulai menuntut ilmu-ilmu agama dari ayahnya sendiri, sampai akhirnya mencapai derajat mujtahid.

Selain itu, Humai menguasai ilmu sastra, filsafat, dan astronomi. Selanjutnya, Jalaluddin Huma'i mengabdikan hidupnya untuk mengajar dan menulis buku. Karya-karya penulisan yang ditinggalkan Jalaluddin Humai antara lain berjudul "Sejarah Kesusastraan Iran".