Lintasan Sejarah 23 Juli 2017
Hari ini, Ahad tanggal 23 Juli 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 28 Syawal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 1 Mordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Sinai Ghaznawi Lahir
971 tahun yang lalu, tanggal 28 Syawal 467 HQ, Majdud bin Adam, yang terkenal dengan nama Sinai Ghaznawi, seorang penyair sufi terkenal Iran, terlahir ke dunia di kota Ghaznein, yang dulu merupakan bagian dari kawasan Iran dan kini menjadi bagian dari Afghanistan.
Awalnya, Ghaznawi menulis syair-syair yang memuji para sultan, namun akhirnya dia beralih kepada kehidupan sufi dan menyusun syair-syair yang mengkritik kezaliman penguasa.
Di antara karya Ghaznawi yang terpenting adalah "Hadiqatul Haqiqah" atau "taman hakikat" yang berisi syair-syair dalam bentuk matsnawi dan mengandung nilai-nilai akhlak dan sufisme.
Berakhirnya Dinasti Mamalik Mesir
219 tahun yang lalu, tanggal 23 Juli 1798, tentara Napoleon memasuki kota Kairo, Mesir, dan merebut kekuasaan Dinasti Mamalik yang telah lama berkuasa di negeri Piramida itu.
Awalnya tentara Napoleon menduduki Pelabuhan Laut Iskandariah. Setelah itu, mereka bertolak menuju Kairo.
Penguasa Mesir waktu itu, Murad Beik, bersama pasukannya melakukan perlawanan mati-matian. Akan tetapi, karena peralatan perang Perancis jauh lebih modern dibandingkan dengan yang dimiliki Mesir, dalam pertempuran tidak seimbang yang dikenal dengan nama perang Piramida itu, tentara Perancis berhasil mematahkan perlawanan Mesir, untuk kemudian menduduki negara itu.
Mohammad Reza Pahlevi Akui Rezim Zionis Israel
66 tahun yang lalu, tanggal 1 Mordad 1330 HS, Shah Mohammad Reza Pahlevi mengakui rezim Zionis Israel.
Ketika perang propaganda mencapai puncaknya antara Iran dan beberapa negara seperti Uni Soviet dan Cina akibat begitu dekatnya Shah Mohammad Reza Pahlevi kepada Amerika dan pemberian banyak konsesi kepada AS, pemerintah Manouchehr Iqbal, Perdana Menteri waktu itu mulai kasak-kusuk untuk menjalin hubungan dengan rezim Zionis Israel. Akhirnya, pemerintah Iran mengakui Zionis Israel secara terbatas.
Tampaknya kedua pemerintah juga tidak terjadi pertukaran duta besar, tapi seorang dari pejabat kementerian luar negeri menjadi kuasa usaha di Israel, sementara Zionis Israel menetapkan atase ekonominya di Iran menjalankan tugas seorang duta besar.
Menyusul terjalinnya hubungan antara Iran dan rezim Zionis Israel, Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir mengeluarkan pernyataan keras terhadap Shah Iran dan mengritik sikap Iran mengakui Zionis Israel.
Pernyataan Gamal Abdul Nasser itu sangat berpengaruh terhadap negara-negara Islam, sehingga mereka ikut mengritik pemerintah Iran, sehingga Shah terpaksa mengirim pesan telegram kepada Syeikh Shaltout, Syeikh al-Azhar yang isinya menjelaskan bahwa pada 1 Mordad 1330, Iran mengakui rezim Zionis Israel secara terbatas dan saat ini tidak melakukan tindakan apa-apa.
Pasca hubungan Iran dan rezim Zionis Israel, dampak dari tekanan Amerika, pemerintah Mesir memutuskan hubungannya dengan Iran dan mengusir para diplomat Iran dari Kairo.
Raja Hasan Kedua Meninggal Dunia
18 tahun yang lalu, tanggal 23 Juli 1999, Raja Hasan Kedua, penguasa Kerajaan Maroko meninggal dunia setelah bertakhta di singgasana Maroko selama 38 tahun.
Raja Hasan Kedua dilahirkan pada tahun 1929. Lima tahun setelah Maroko berhasil meraih kemerdekaannya, yaitu pada tahun 1961, Raja Hasan II dilantik menjadi penguasa Maroko.
Selama masa pemerintahannya, Raja Hasan II memerintah dengan cara diktator. Segala macam penentangan dan kritikan yang dialamatkan kepadanya akan langsung dijawab dengan represi. Raja Hasan II juga termasuk pemimpin Arab yang memelopori perdamaian dengan Rezim Israel. Ia bahkan termasuk pemimpin yang menjadi mediator perundingan antara Tel Aviv dan sejumlah negara Arab.
Sikap inilah yang menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan rakyat Maroko sendiri. Raja Hasan II berkali-kali menjadi sasaran pembunuhan, akan tetapi selalu berhasil lolos dari percobaan pembunuhan itu.
Sepeninggal Raja Hasan II, Maroko diperintah oleh putra Hasan II, yaitu Muhamad Keenam yang masih berusia 36 tahun. Raja Muhamad VI termasuk pemimpin Arab yang berusia sangat muda.