Lintasan Sejarah 24 Juli 2017
Hari ini, Senin tanggal 24 Juli 2017 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 29 Syawal 1438 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 2 Mordad 1396 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Simon Bolivar lahir di Caracas
234 tahun yang lalu, tanggal 24 Juli 1783, Simon Bolivar, politikus dan revolusionis terkemuka Amerika Selatan, lahir di Caracas ibu kota Venezuela.
Simon Bolivar membebaskan banyak tanah Amerika Selatan dari tangan imperialis Spanyol. Bolivar aktif dalam revolusi Caracas dan dengan bantuan tentera pendukungnya ia berhasil menguasai Bogota yang berada di pusat Colombia.
Bolivar terpilih sebagai presiden oleh kongres yang didirikan untuk membentuk Columbia Besar. Tujuan tersebut terwujud dengan pembebasan Colombia, Venezuela dan Panama. Pada tahun 1822 M, perlawanan pembebasan Bolivar meluas hingga Equador. Setelah merdeka, Equador bergabung dengan Columbia besar.
Setahun sebelumnya, Bolivar yang memimpin pasukan pembebasan Peru, membebaskan negeri ini dari penjajahan Spanyol. Pada tahun 1826 M, revolusionis Bolivar menamakan negeri ini Bolivia.
Bolivar, bercita-cita menyatukan Amerika Selatan dalam sebuah federasi, di bawah satu kepemimpinan. Namun, karena perselisihan etnis, ia tidak mampu mewujudkan keinginan tersebut hingga akhir hayatnya tahun 1830.
Perjanjian Gulistan Ditandatangani
210 tahun yang lalu, tanggal 29 Syawal 1228 HQ, perjanjian Gulistan ditandatangani oleh Iran dan Tsar Rusia.
Di pihak Iran, penandatangan perjanjian ini adalah Mirza Abul Hasan Khan Ilchi.
Perjanjian ini terdiri dari 11 pasal dan sebuah pembukaan. Perjanjian Gulistan merupakan akhir dari peperangan sepuluh tahun yang berlangsung antara Iran dan Rusia, dengan kekalahan di pihak Iran dan Dinasti Qajar yang berkuasa di Iran waktu itu.
Atas dasar perjanjian ini, sebagian wilayah Iran, mulai dari Gunje, Shirvan, Baku, Dagestan, dan Georgia sampai Laut Kaspia dikuasai oleh Rusia. Sebaliknya, Rusia hanya diikat perjanjian untuk mengakui pemerintahan Abas Mirza.
Tiga belas tahun kemudian, yaitu tahun 1241 Hijriah, Rusia kembali menginvasi Iran dan menduduki sebagian wilayah kekuasaan Iran. Perang itu berakhir dengan perjanjian "Turkman Chai".
Pernyataan Ulama Mengakui Marjaiyah Imam Khomeini
54 tahun yang lalu, tanggal 2 Mordad 1342 HS, sejumlah ulama dan marji Qom secara resmi mengeluarkan pernyataan kemarjaiyahan Imam Khomeini ra.
Pasca penahanan Imam Khomeini pada 15 Khordad 1342 HS, sejumlah ulama dan marji dari Qom, Mashad dan sejumlah kota lain pergi ke Tehran untuk menyiapkan surat pernyataan yang mengakui marjaiyah beliau dan meminta agar beliau segera dibebaskan. Pada 2 Mordad 1342 HS, mereka mengeluarkan pernyataan bahwa Imam Khomeini ra adalah seorang marji Syiah.
Para ulama yang ikut dalam gerakan ini adalah Sayid Shihabuddin Marashi Najafi, Morteza Hairi Yazdi, Sayid Mohammad Hadi Milani, Sayid Ali Behbahani, Khadimi, Jazairy, Khosroushahi, Rouhullah Kamalvand, Mohammad Sadouqi, Sayid Rouhullah Khatami, Sayid Morteza Pasandideh, Akbar Hashemi Rafsanjani, Sadr ad-Din Hairi Yazdi Shirazi, Ibrahim Amini dan lain-lain.
Gerakan ini diikuti juga oleh masyarakat yang menyebabkan ketakutan rezim Shah. Untuk itu mereka berusaha menenangkan situasi dan lewat aksi pembebasan sandiwara Imam Khomeini ra, mereka berusaha menenangkan kemarahan rakyat dan ulama.
Pada akhirnya Imam Khomeini ra dibebaskan tanggal 11 Mordad 1342 HS, tapi untuk beberapa waktu beliau harus melewati tahanan rumah di sebuah rumah di Tehran.
Kawasan Asia Barat Dikuasai Perancis dan Inggris
96 tahun yang lalu, tanggal 24 Juli 1921, Palestina, Irak, dan kawasan timur Yordania secara resmi diserahkan kepada kekuasaan Inggris, sedangkan kawasan Lebanon dan Suriah diserahkan kepada Perancis.
Penguasaan Inggris dan Perancis atas wilayah-wilayah yang tadinya merupakan kawasan yang dikuasai oleh Imperium Ottoman itu menandai dimulainya masa kolonialisme Barat atas kawasan Asia barat.
Bagi dunia Islam secara umum, ini juga menjadi awal petaka karena sejak masa itulah, Inggris mulai mempersiapkan pendirian sebuah negara ilegal bernama Israel.