Feb 08, 2018 11:02 Asia/Jakarta

Surat an-Naml ayat 6-11.

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآَنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ (6)

Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Quran dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (27: 6)

Surat an-Naml dibukan dengan penjelasan mengenai keagungan al-Quran dan perannya dalam membimbing serta memberi kebahagiaan kepada Mukminin. Kemudia surat ini mulai menjelaskan karakteristik Mukminin serta nasib mereka yang tidak percaya akan Hari Kiamat. Sebelum membicarakan kisah-kisah para nabi, ayat keenam ini menjelaskan maarif dan ajaran Kitab Samawi ini bersumber dari hikmah ilahi. Maksudnya di sini adalah ilmu pengetahuan Allah yang tak terbatas akan kemaslahatan dan kerusakan manusia atau hikmah-Nya dalam menjelaskan kewajiban dan undang-undang yang kian mendekatkan manusia pada tujuan dari penciptaannya. Ayat selanjutnya mengungkapkan contoh dari ilmu dah hikmah ilahi dalam proses pengangkatan Muhammad sebagai Nabi (Mab’ats)

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Al-Quran adalah kristalisasi ilmu dan hikmah ilahi. Ilmu dan pengetahuan Nabi, sebagai penerima wahyu, adalah ilmu Laduni (anugerah langsung dari Tuhan) dan bukannya ilmu yang harus dipelajari.

2. Hukum dan syariat agama bersumber dari ilmu Tuhan. Oleh karena itu, setiap hukum dan syariat agama memiliki hikmah, meski kita tidak mengetahuinya serta tidak memiliki akses untuk memahaminya.

إِذْ قَالَ مُوسَى لِأَهْلِهِ إِنِّي آَنَسْتُ نَارًا سَآَتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آَتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (7) فَلَمَّا جَاءَهَا نُودِيَ أَنْ بُورِكَ مَنْ فِي النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَا وَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (8) يَا مُوسَى إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (9)

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya, “Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang.” (27: 7)

Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia, “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (27: 8)

(Allah berfirman). “Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (27: 9)

Ayat di atas mengisahkan lima nabi dan nasib umat mereka. Ayat dimulai dengan menjelaskan pengangkatan Musa sebagai nabi. Seperti disebutkan dalam riwayat, ketika Musa dan keluarganya berangkat ke Mesir, suatu malam mereka tersesat jalan dan mengalami kedinginan serta dilanda angin topan. Musa yang tengah berpikir untuk menyelamatkan keluarganya, tiba-tiba menyaksikan api di kejauhan.

Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri, pasti ada orang di sana yang menyalakan api dan dapat membantu kami, atau paling tidak menunjukkan jalan! Di sisi lain, Musa memahami bahwa ia tidak mungkin membawa keluarganya, karena mungkin orang yang menyalakan api tersebut adalah perampok. Oleh karena itu, ia pun berkata kepada keluarganya, “Tetaplah kalian di sini, hingga ku kembali atau aku mendapatkan petunjuk jalan, atau pun aku kembali dengan membawa api sehingga kita selamat dari kedinginan.”

Ketika Musa mendekati api tersebut, ia tidak menyaksikan siapa pun. Sebaliknya, yang ia saksikan adalah pemandangan yang sangat menakjubkan. Karena api ternyata menyala di pohon yang masih segar dan tertiup angin ke sana ke mari. Lidah api pun datang ke Musa. Musa pun langsung ketakutan dan mundur. Tiba-tiba ada suara yang memanggil Musa, “Wahai Musa jangan takut! Aku adalah Tuhan yang Agung dan Hakim serta ingin mengangkatmu menjadi utusan-Ku (Nabi). Api ini adalah manifestasi dari kekuasaan-Ku, yang tidak membakarmu dan pohon yang segar. Siapa dan apa saja yang ada di sekitarnya tidak akan terbakar serta dalam perlindungan-Ku.”

Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para nabi memiliki kehidupan yang normal. Mereka hidup seperti kebanyakan manusia lainnya. Musa juga berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun begitu, Allah telah memilihnya menjadi Nabi.

2. Jika Allah menghendaki, api bisa kehilangan karakteristiknya yang utama, yakni membakar dan menjadi tidak berbahaya. Sama seperti ketika Ibrahim dibakar namun tidak hancur menjadi abu. Saat berada di tengah kobaran api, Nabi Ibrahim justru merasa sejuk dan tidak kepanasan.

وَأَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآَهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ (10) إِلَّا مَنْ ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (11)

Dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.” (27: 10)

Tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pangampun lagi Maha Penyayang. (27: 11)

Wajar jika Musa ragu ketika mendengar suara dan panggilan serta  menyaksikan api yang tidak membakar. Benarkah apa yang ia dengar dan saksikan adalah suara sersta pekerjaan (kekuasaan) Allah? Untuk menghilangkan keraguan tersebut, Allah memerintahkan Musa melemparkan tongkatnya ke tanah. Ia pun kemudian melakukannya. Namun tiba-tiba yang muncul adalah seekor ular yang berjalan ke arahnya.

Musa lari karena ketakutan menyaksikan hal tersebut. Karena ia tidak menyangka bakal menyaksikan adegan yang aneh dan menakjubkan. Kemudian muncul suara yang menjelaskan bahwa ini adalah tanda kenabian-mu. Kini kamu telah sampai pada derajat kenabian dan apa yang kami saksikan adalah mukjizat, supaya kami mendapat jaminan bahwa apa yang kamu dengar adalah panggilan ilahi dan bukannya bisikan setan. Dan dengan menunjukkan mukjizat ini kepada umat, kami dapat meyakinkan mereka bahwa kamu adalah Nabi yang diutus Tuhan serta bukan seorang penyihir.

“Wahai Musa! Tempat di sisi Kami adalah tempat aman dan tenang serta tidak ada rasa takut dan gelisah. Orang harus merasa takut ketika menzalimi dirinya sendiri atau orang lain. Namun jika ia berbuat dan berjanji tidak melakukan dosa, mama ia akan Kami ampuni.”

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Mukjizat terjadi atas kehendak Allah Swt, meski melalui tangan para nabi. Oleh karena itu, sebelum perbuatan luar biasa ini menjadi mukjizat di mata manusia, pertama-tama bagi nabi sendiri juga merupakan mukjizat dan jaminan.

2. Dalam pandangan Allah, orang yang zalim senantiasa berada dalam ketakutan. Hidup orang seperti ini tidak tenang dan selulau dirundung kekhawatiran.

3. Ampunan Tuhan diberikan setelah manusia melakukan perbuatan baik dan menebus dosa-dosanya.