Jalan Menuju Cahaya 702
Surat al-Qashash ayat 59-63.
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ (59)
Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (28: 59)
Ayat ini merupakan sebuah sunnah ilahi di sepanjang sejarah dan menyebutkan bahwa tentunya Allah Swt tidak akan menghancurkan masyarakat sampai diutus seorang nabi yang menyampaikan firman-firman-Nya. Pada hakikatnya, firman tentang azab Allah Swt hanya ditujukan kepada masyarakat yang mendengar firman Allah Swt dan mengingkarinya. Jika masyarakat dengan melihat nabi dan mendengar wahyu yang disampaikannya, kemudian melawan serta bersikap zalim kepadanya, maka di dunia ini pun mereka akan diazab dan dihancurkan Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Allah Swt tidak akan menghukum masyarakat sebelum seluruh hujjah-Nya telah disempurnakan.
2. Pengingkaran para nabi dan perlawanan di hadapan kebenaran, adalah sebuah kezaliman besar yang Allah Swt memberikan balasannya di dunia.
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلَا تَعْقِلُونَ (60) أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ (61)
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (28: 60)
Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)? (28: 61)
Dua ayat itu juga jawaban bagi orang-orang yang menolak beriman dengan alasan mempertahankan kenikmatan hidup di dunia. Disebutkan bahwa mereka menyamakan apa yang di sisi Allah Swt dengan apa yang mereka miliki di dunia yang fana ini dan mereka tidak ingin melepas kenimatan materi itu demi menggapai apa yang diberikan Allah Swt. Apakah rezeki dan kemilau nikmat dunia sedemikian menyilaukan mata mereka sehingga mereka tidak mampu melihat keindahan spiritualitas dan kebahagiaan abadi?
Inti dari ayat 60 secara tidak langsung menyoal langkah-langkah tidak logis manusia seperti itu dan dengan kata lain, “Apakah kalian tidak berpikir?” Padahal manusia yang menggunakan akal sehatnya memahami bahwa kenikmatan abadi jangan sampai ditukar dengan kenikmatan fana.
Lanjutan ayat itu membandingkan kondisi manusia-manusia yang melihat secara lahiriyah saja dengan manusia-manusia yang memandang sesuatu dalam bentuk yang sesungguhnya , yaitu orang-orang yang beriman. Disebutkan, “Mereka yang hari ini meyakini janji-janji Allah Swt dan melangkah di jalan Allah Swt, maka pada hari kiamat, dia akan menikmati pahala dari Allah Swt. Akan tetapi mereka yang bergantung pada materi duniawi, pada hari kiamat kelak, tidak memiliki bekal ketakwaan dan hanya memilkul beban dosa, serta akan mengarahkannya ke neraka.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kenikmatan dunia dan akhirat, keduanya adalah anugerah Allah Swt. Kita harus berhati-hati agar kenikmatan terbatas di dunia fana ini tidak mencegah kita dari kenikmatan abadi dan tanpa batas di akhirat kelak. Karena jika demikian maka kita termasuk di antara orang-orang yang merugi.
2. Orang yang rasional adalah yang tidak tenggelam di dunia fana dan tidak menukar kehidupan abadi dengan dunia fana. Alih-alih terjebak muslihat gemerlap kenikmatan dunia, kita harus memikirkan akibatnya. Kita harus memperhatikan bahwa kenikmatan dunia akan mengakibatkan kekhilafan, kelalaian dan kehinaan di akhirat.
3. Dalam urusan dakwah agama dan pembimbingan, pemanfaatan cara-cara pembandingan dan penjelasan dengan mengemukakan pertanyaan akan lebih efektif untuk menyadarkan masyarakat.
وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ (62) قَالَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ رَبَّنَا هَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَغْوَيْنَا أَغْوَيْنَاهُمْ كَمَا غَوَيْنَا تَبَرَّأْنَا إِلَيْكَ مَا كَانُوا إِيَّانَا يَعْبُدُونَ (63)
Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata, “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?” (28: 62)
Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman atas mereka, “Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu; kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami.” (28: 63)
Ayat-ayat ini menjelaskan kondisi orang-orang Musyrik di Hari Kiamat. Mereka akan dihadirkan di Hari Kiamat tanpa pembela, pendukung dan perlindungan dan akan menjadi audien firman Allah Swt, “Di mana mereka yang kalian jadikan sekutu-Ku dalam kehidupan kalian kalian, agar mereka dapat menyelamatkan kalian.”
Selanjutnya, ayat ini menyebutkan, para pemimpin kekufuran dan kemusyrikan yang diikuti dan disembah masyarakat, akan dihadirkan dan menjawab, mereka mengklaim berserah diri kepada kami dan kami menjadi yang mereka sembah. Akan tetapi pada hakikatnya tidak demikian, mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri dan untuk menggapai keinginan mereka, mereka mengikuti hawa nafsu mereka, dan mereka sama seperti kami menjadi sesat. Sebenarnya kami bukan yang mereka sembah dan dalam hal ini kami berlepas diri dari mereka.
Ayat-ayat itu menjelaskan terkait pengadilan pada Hari Kiamat dengan menggambarkan sama seperti pengadilan di dunia, di mana para pelaku kriminal selalu berusaha melimpahkan kesalahan kepada pihak lain dan mengesankan diri mereka tidak bersalah. Para pelaku kriminal mengatakan bahwa mereka terjebak muslihat pihak lain. Sementara pihak lain, menolak pelimpahan kesalahan kepada mereka. Jelas bahwa klaim-klaim seperti ini tidak akan berguna dalam pengadilan Allah Swt.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Gambaran tentang adanya seseorang atau sesuatu yang menjadi sekutu Allah Swt, adalah pikiran tidak benar dan hanya imajinasi.
2. Orang-orang yang sesat akan berusaha menyesatkan orang lain.
3. Siapa saja yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu-Nya, maka akan digenjar hukuman pedih di hari kiamat kelak.
4. Pada Hari Kiamat, para pemimpin kekufuran dan kesesatan akan saling berlepas tangan, akan tetapi upaya mereka tidak akan berguna dan mereka akan dijerumuskan ke neraka.