Jalan Menuju Cahaya 703
Surat al-Qashash ayat 64-69.
وَقِيلَ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَرَأَوُا الْعَذَابَ لَوْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَهْتَدُونَ (64)
Dikatakan (kepada mereka), “Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu”, lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka, dan mereka melihat azab. (Mereka ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk. (28: 64)
Di acara sebelumnya kami telah jelaskan bahwa di Hari Kiamat, para pemimpin orang-orang Kafir dan Musyrik berlepas diri dari para pengikutnya serta menolak bertanggung jawab atas penyimpangan para pengikutnya. Ayat ini menjelaskan, supaya orang-orang Musyrik menyaksikan ketidakmampuan sesembahan mereka di hari Kiamat, mereka diseru untuk memanggil Tuhan mereka selain Allah guna menyelamatkan mereka. Namun jelas bahwa mereka tidak mendapat jawaban dari sesembahan tersebut. Di sinilah mereka berangan-angan seandainya menerima petunjuk Ilahi maka hari ini (Kiamat) mereka tidak sendirian serta tidak memiliki pelindung.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jika kita bergantung kepada selain Allah di dunia maka di Hari Kiamat kita tidak mendapat bantuan dari Tuhan.
2. Kiamat adalah hari penyesalan mereka yang menyeleweng dan berdosa, namun saat itu tidak ada manfaatnya penyesalan mereka.
وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ (65) فَعَمِيَتْ عَلَيْهِمُ الْأَنْبَاءُ يَوْمَئِذٍ فَهُمْ لَا يَتَسَاءَلُونَ (66) فَأَمَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَعَسَى أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِينَ (67)
Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata, “Apakah jawabanmu kepada para rasul?” (28: 65)
Maka gelaplah bagi mereka segala macam alasan pada hari itu, karena itu mereka tidak saling tanya menanya. (28: 66)
Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang saleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung. (28: 67)
Terkait nasib orang-orang Musyrik di Hari Kiamat, ayat ini mengungkapkan, mereka ditanya jawaban mereka atas seruan para nabi. Para nabi mengajak kalian menyembah Tuhan Yang Esa dan melakukan perbuatan baik, lantas apa jawaban kalian?
Pastinya orang musyrik tidak memiliki jawaban atas pertanyaan ini. Jika mereka mengatakan kami menerima ajakan para nabi dan beriman, maka ini adalah sebuah kebohongan besar dan di Hari Kiamat kebohongan tidak ada manfaatnya. Jika mereka mengatakan, kami mendustakan ajaran para nabi dan menganggapnya penyihir serta memerangi mereka, maka dengan lisannya sendiri, mereka telah mengakui dosa-dosanya dan memilih azab bagi mereka. Apa yang mereka katakan, pastinya merugikan diri mereka sendiri.
Orang kafir dan musyrik tidak memiliki jalan untuk lari dari pertanyaan ini dan tidak memiliki alasan. Kesulitan lainnya adalah mereka tidak dapat bermusyawarah dengan sesamanya dan menemukan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ayat selanjutnya menyatakan, orang-orang Kafir yang menemui jalan buntu di Hari Kiamat, di kehidupan dunia jalan mereka tidak ditutup. Di dunia orang musyrik dan kafir kapanpun bisa bertaubat dan beriman kepada para Nabi serta melakukan perbuatan baik. Jika mereka melakukannya, maka di Hari Kiamat mereka akan termasuk orang-orang berbahagia dan tidak akan menerima azab Ilahi.
Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Di pengadilan Hari Kiamat, orang-orang Musyrik tidak memiliki jawaban atas kekufurannya kepada Allah atau pendustaan mereka terhadap para Nabi.
2. Di Hari Kiamat jalan untuk mendapat berita tertutup dan mereka tidak dapat saling bermusyawarah untuk mempersiapkan jawaban bagi pertanyaan di pengadilan Ilahi.
3. Di Islam, orang musyrik dan pendosa tidak memiliki jalan tertutup. Metode Islam adalah pintu taubat bagi orang kafir senantiasa terbuka sehingga mereka kapanpun bisa kembali ke jalan kebenaran.
4. Kebahagiaan manusia terletak pada perbuatan baik dan meninggalkan hal-hal yang jelek.
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (68) وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (69)
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (28: 68)
Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. (28: 69)
Di akhir ayat ini, al-Quran memberi jawaban atas sikap orang musyrik yang meyakini peran takwini dan tasyri’i makhluk Tuhan. Al-Quran menyatakan, Allah Swt yang memiliki kehendak apa dan bagaimana Ia menciptakan sesuatu, siapa yang ditunjuk sebagai utusan-Nya (nabi) dan undang-undang yang ditetapkan kepada manusia. Tidak ada yang berhak memaksa Allah untuk melakukan sesuatu atau melarang kehendak-Nya.
Atas kehendak Allah, manusia diciptakan dalam kondisi bebas dan memiliki pilihan. Namun begitu ikhtiar mereka tidak dapat mengalahkan ikhtiar Ilahi, karena makhluk di bawah iradah dan kehendak Allah. Di bidang takwini, jelas bahwa manusia tidak memiliki andil dalam penciptaan dirinya atau makhluk lainnya. Sementara di hal-hal tasyri’i, jika Allah menghendaki manusia melakukan atau meninggalkan sesuatu, maka mereka tidak memiliki pilihan atas kehendak Allah tersebut sehingga mereka menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Sang Pencipta.
Seperti dijelaskan dalam surat al-Ahzab ayat 36, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Penciptaan alam semesta dan pengaturannya seperti penetapan undang-undang dan pemilihan para nabi seluruhnya berada di tangan Allah Swt.
2. Mereka yang menolak hukum dan ketetapan Ilahi serta menerima hukum manusia sejatinya menjadikan manusia sebagai sekutu Allah dalam hal-hal tasyri’i.