Feb 10, 2018 16:31 Asia/Jakarta

Surat al-Qashash ayat 70-75.

وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآَخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (70)

Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya-lah segala penentuan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (28: 70)

Pada pembahasan sebelumnya, kita sudah mengulas mengenai penolakan Al-Quran terhadap segala bentuk syirik kepada Allah swt, baik syirik dari sisi penciptaan maupun peribadatan. Melanjutkan pembahasan tersebut, ayat ketujuh puluh surat al-Qasas menjelaskan tentang tauhid Rububiyah.

Sebuah pertanyaan diajukan di ayat ini. Adakah sekutu bagi Allah dalam menurunkan seluruh karunia-Nya? Tidak, sebab seluruh nikmat materi maupun maknawi seluruhnya datang dari Allah Swt. Oleh karena itu, hanya Allah-lah yang wajib disembah. Hanya Allah-lah yang menguasai dunia dan akhirat.

Selain Allah swt, tidak ada yang memiliki kekuatan untuk mengatur alam semesta yang besar ini. Di akhir usia, ketika ajal menjemput manusia, semua orang akan kembali kepada Allah Swt. Mereka kembali bukan kepada tuhan yang disembah orang-orang musyrik.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Hanya Allah swt yang layak disembah karena di tangan-Nya awal dan akhir manusia beserta alam semesta ini, dan alam akhirat.

2. Kekuasaan takwini Allah swt terhadap seluruh alam semesta dan kekuasaan tasyri terhadap kehidupan manusia menunjukkan peran Allah swt sebagai pencipta dan penguasa seluruh makhluk.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلَا تَسْمَعُونَ (71) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (72) وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (73)

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” (28: 71)

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (28: 72)

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (28: 73)

Ayat ini menjelaskan mengenai kekuasaan absolut Allah Swt terhadap alam semesta. Jika Allah berkehendak untuk menghentikan putaran bumi ini, apakah siklus siang dan malam akan tetap seperti ini hingga akhir dunia? Apakah ada tuhan selain Allah yang bisa menggerakan siklus siang dan malam yang berbeda-beda di berbagai tempat di bumi ini?

Apakah kita memperhatikan bagaimana putaran siang dan malam memberikan karunia yang besar bagi manusia dan makhluk hidup lainnya? Jika cahaya dan panas matahari tidak sampai ke bumi setengahnya, mungkinkah sebagian makhluk bisa bertahan hidup dan tidak musnah.

Siklus bumi yang menyebabkan terjadinya siklus siang dan malam terjadi dengan aturan khusus, dan dalam waktu relatif singkat terjadi perubahan suhu dan cuaca yang dimulai dari terbitnya matahari hingga tenggelam, lalu malam hingga fajar tiba.

Meskipun cahaya dan panas matahari dibutuhkan manusia dan makhluk lainnya di alam semesta ini, tapi Allah swt menciptakan malam sebagai waktu istirahat bagi manusia dan sebagian makhluk hidup lainnya. Semua itu adalah karunia yang tidak kecil, tapi jarang sekali disyukuri oleh sebagian manusia.

Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Menelaah dan mengkaji keteraturan alam semesta ini merupakan salah satu jalan terbaik untuk memahami Tauhid. Putaran bumi mengitari matahari dan siklus dirinya sendiri yang menyebabkan terjadinya siang dan malam, jika dikaji secara cermat menunjukkan keagungan dan kekuasaan Allah Swt.

2. Malam menjadi waktu untuk istirahat, dan siang untuk bekerja dan beraktivitas.

3. Salah satu jalan untuk menjelaskan masalah tauhid dan ajaran Islam adalah merenungi keagungan ciptaan Allah Swt dan keteraturan di dalamnya.

4. Mengenali berbagai karunia ilahi akan membawa manusia mensyukuri anugerah Allah Swt. Oleh karena itu, sejak kecil kenalkan anak-anak dan remaja dengan karunia ilahi dan ajaklah mereka mensyukurinya dan beribadah kepada Allah Swt.

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ (74) وَنَزَعْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا فَقُلْنَا هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ فَعَلِمُوا أَنَّ الْحَقَّ لِلَّهِ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (75)

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata, “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?” (28: 74)

Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu Kami berkata, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu”, maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan. (28: 75)

Ayat ini menegaskan pertanyaan yang diajukan sebelumnya di surat yang sama ayat 62 “Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?". Di Hari Kiamat kelak, setiap orang dimintai pertanggung jawabannya masing-masing.

Di hadapan para Nabi, orang-orang yang menolak dakwah ilahi dan menyembah selain Allah harus menyampaikan alasan mengapa mereka yang tidak memanfaatkan keberadaan Nabi dan tidak mengenali Tuhan-nya. Kelanjutan ayat ini menegaskan, bagaimana orang-orang yang menyekutukan Tuhan tidak bisa membuktikan kebenarannya, sebab kebenaran hanya milik Allah dan Rasul-Nya.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Kiamat sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran sebagai pengingat manusia supaya beriman dan tidak menyekutukan Allah swt dalam kehidupannya di dunia.

2. Para Nabi dan wali Allah Swt menjadi saksi di pengadilan akhirat kelak. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam menempuh kehidupan ini, jangan sampai Rasulullah Saw yang diharapkan syafaatnya justru tidak membantu kita karena perbuatan kita sendiri tidak mencerminkan sebagai umatnya.

3. Alasan yang disampaikan oleh orang-orang yang menyekutukan Allah Swt lemah dan tidak memiliki argumentasi yang kuat.

4. Tidak seperti di dunia, di akhirat kelak kebenaran dan kebatilan akan hadir dalam bentuk sebenarnya.