Jalan Menuju Cahaya 705
Surat al-Qashash ayat 76-78.
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآَتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ (76)
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (28: 76)
Di ayat sebelumnya dalam surat al-Qasas, al-Quran menjelaskan mengenai kisah Nabi Musa dan Firaun, sedangkan ayat ini membahas tentang nasib Karun, salah seorang saudagar kaya-raya di zamannya. Sejarah mencatat, Karun termasuk orang yang dekat dengan Nabi Musa, dan pada awalnya ia mengimani Nabi Allah itu. Tapi kemudian, Karun berbalik arah menjadi penentangnya. Ia menjadi orang yang sombong dan takabur akibat hartanya yang berlimpah.
Firaun adalah manifestasi dari kesombongan karena kekuasaan, dan contoh penguasa lalim terhadap rakyatnya. Sedangkan Karun adalah manifestasi dari kesombongan karena kekayaannya. Kedua contoh ini sama-sama tidak menerima kebenaran yang dibawa Nabi Musa, karena mereka merasa bangga dengan kekuasaan maupun kekayaan yang dimilikinya. Selain kedua orang itu, di masa Nabi Musa ada Samiri sebagai manifestasi dari seniman yang menggunakan keahliannya untuk menyelewengkan masyarakat dari jalan kebenaran.
Ayat ini menjelaskan akar sikap takabur dan kesombongan Karun akibat kekayaannya. Semakin banyak harta, ia semakin takabur dan melupakan Tuhan dan sesama manusia. Karun hanya memikirkan bagaimana menumpuk hartanya supaya semakin berlimpah ruah. Di pikirannya hanya ada mengenai jumlah emas dan perak serta perhiasan mahal yang dijadikan sebagai kebanggaan.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Memiliki harta tidak dilarang selama dilakukan dengan cara yang halal. Tapi apabila harta tersebut menjadikan manusia sombong di hadapan sesama manusia dan Nabi, serta takabur di hadapan Allah Swt, maka tindakan tersebut merupakan perbuatan dosa dan tercela.
2. Mabuk bukan hanya disebabkan minum-minuman keras saja. Sebab terkadang manusia pun mabuk dengan kekuasaan maupun kekayaan yang dimiliknya sehingga ia terlena menjadi orang yang sombong dan takabur. Seolah ia tidak sadar dan melupakan semuanya. Orang yang bersandar kepada harta maupun kekuasaanya biasanya merampas hak orang lain dan bersikap sombong serta takabur dalam kehidupannya.
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (77)
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (28: 77)
Di ayat sebelumnya, beberapa pengikut setia Nabi Musa memberikan nasihat kepada Karun supaya dia tidak lalai dengan hartanya yang melimpah, dan diajak kembali ke jalan kebenaran. Di ayat ini dijelaskan empat nasehat mereka kepada Karun.
Pertama, dan terpenting adalah menjadikan dunia sebagai ladang untuk menanam dan akan dipetik hasilnya di akhirat kelak. Nasehat kedua, jika dikatakan bahwa harta di dunia sebagai bekal di akhirat, hal ini bukan berarti kita melupakan kehidupan di dunia ini, dan menyerahkan seluruh harta di jalan Allah. Sebab kita juga memanfaatkan untuk kesejahteraan diri dan keluarga di dunia ini. Dunia dan akhirat keduanya harus diperhatikan dalam kehidupan kita.
Nasehat ketiga, jangan mengira apa yang engkau miliki datang dari dirimu. Sebab semua harta hakikatnya adalah datang dari Allah dan semua milik-Nya. Oleh karena itu jangan menjadikan harta sebagai penyebab timbulnya kemungkaran kepada Allah swt dan kerusakan di tengah masyarakat. Jangan merasa bahwa seluruh harta tersebut milik kita, tapi jadikanlah sebagai amanat yang diberikan Allah swt kepada manusia. Untuk itu kekayaan tersebut harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan memberikan kemaslahan untuk sesama manusia.
Nasehat keempat orang-orang yang beriman kepada Karun, jika penimbunan harta terus tidak dilakukan tanpa batas, maka harta dan kekayaan akan menimbulkan kerusakan dalam kehidupan dirinya dan masyarakat.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tujuan seluruh aktivitas manusia, termasuk di bidang ekonomi adalah mencari keridhaan Allah Swt di Hari Kiamat, meskipun demikian, manusia juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia.
2. Kita diwajibkan untuk memperhatikan masalah kehidupan akhirat, tapi juga harus memanfaatkan kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, kita memanfaatkan karunia Allah Swt di dunia untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan sebagian lainnya untuk bekal kehidupan di akhirat kelak.
3. Apabila harta dan kekayaan dipergunakan untuk bekal akhirat dengan berbuat baik terhadap sesama manusia di dunia, maka kehidupan akan bahagia, baik di dunia dan di akhirat.
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (78)
Karun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (28: 78)
Di ayat ini, Karun menjawab nasehat yang disampaikan orang-orang yang beriman. Alih-alih menerima nasehat tersebut, Karun dengan angkuh dan sombong menjawab seruan mereka dengan mengatakan bahwa harta itu didapatkan karena ilmunya. Oleh karena itu, terserah akan dibelanjakan ke mana dan untuk apa. Sebaliknya Karun membalas nasehat mereka dengan mengatakan, “Aku memiliki ilmu untuk mengatur seluruh harta itu. Jika Tuhan memberikan harta tersebut kepadaku, maka Ia melihat jerih payah dan ilmuku dan aku layak mendapatkan harta itu”.
Al-Quran menjawab sesat pikir hartawan takabur itu, dengan menegaskan, Apakah ia tidak mempelajari sejarah bagaimana nasib orang kaya maupun penguasa yang sombong dan takabur menghadapi kebenaran, maka di dunia ini diri dan hartanya akan binasa.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Meskipun harta diperoleh dari hasil jerih payah menimba ilmu dan kerja keras, tapi tidak boleh menjadikan kita sombong dan takabur sehingga melupakan Allah swt sebagai pencipta. Sebaliknya harus dipahami kekayaan tersebut sebagai karunia ilahi.
2. Ujub dan takabur karena ilmu pengetahuan, kekuasaan dan kekayaan sebagai faktor penyebab kehancuran manusia di dunia.