Jalan Menuju Cahaya 706
Surat al-Qashash ayat 79-82.
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (79) وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ (80)
Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (28: 79)
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (28: 80)
Ayat ini menceritakan salah satu perilaku buruk Karun, perilaku yang memiliki banyak kesamaan dengan masyarakat dewasa ini. Membanggakan kekayaan dan melecehkan orang lain memiliki banyak bentuk. Terkadang dengan membangun rumah mewah yang membuat takjub siapa saja yang melihatnya atau mengendarai mobil mewah di jalan-jalan dengan tujuan pamer. Terkadang juga dengan menggelar jamuan makan mewah.
Ini merupakan hal-hal yang kerap dilakukan orang-orang kaya yang egois dan arogan. Kebiasaan pamer kekayaan ini terkadang membuat orang miskin menarik nafas panjang karena pesimis dan memandang dirinya tak beruntung serta sial. Terkadang juga menyeret kaum miskin menganggap kekayaan sebagai sumber kebahagiaan.
Namun demikian, manusia yang sadar memahami hal ini bahwa kekayaan saja tidak akan menghasilkan kebahagiaan dan mereka yang kaya bukan orang bahagia sejati. Betapa banyak konglomerat dililit gangguan mental atau masalah keluarga. Kekayaan mereka malah menjadi bumerang dan pemicu beragam kesialan hidup ketimbang membawa kebahagiaan.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Memiliki harta bukan sesuatu yang buruk, namun berbangga dan pamer kekayaan yang disertai dengan melecehkan orang lain adalah perbuatan tercela.
2. Jika pemimpin masyarakat ditimpa penyakit aristokratis dan jiwa Karun, maka budaya dan nilai-nilai masyarakat tersebut pasti terkena dampaknya dan warga terdorong ke arah hidup bermewah-mewahan.
3. Menyembah dunia (keduniawian) adalah angan-angan orang picik dan berpikiran pendek, bukan orang yang berakal.
4. Seluruh kekayaan duniawi tidak sebanding dengan surga Ilahi yang dijanjikan kepada orang-orang saleh. Oleh karena itu, panas bagi orang bijak untuk mencegah manusia mencintai dunia dan harta secara berlebihan.
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81) وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (82)
Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (28: 81)
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (28: 82)
Melecehkan orang lain dengan pamer kekayaan dan pembangkangan terhadap para nabi dengan dalih tidak butuh pada akherat, mengantarkan Karun pada azab pedih. Azab Ilahi berupa gempa yang menelan seluruh kekayaan Karun, baik gedung mewah, kebun dan harta benda lainnya. Azab Ilahi ini begitu besar hingga kemudian tidak ditemukan bekas apapun dari kekayaan Karun.
Al-Quran juga menyebutkan kehancuran kaum sebelumnya melalui gempa, namun di kasus ini hanya gedung Karun dan hartanya yang musnah. Sementara orang lain dan hartanya tidak terkena azab Ilahi tersebut. Ini merupakan bentuk mukjizat. Sama seperti Firaun yang menganggap dirinya raja Mesir dan Sungai Nil, namun justru tenggelam di Sungai Nil dan kekuasaannya musnah.
Rakyat biasa yang menyaksikan mukjizat Ilahi ini tersadar dari mimpi dan mengakui bahwa sia-sia mereka menyimpan keinginan di hatinya untuk memiliki harta kekayaan separti Karun. Rizki setiap manusia berada di tangan Allah. Tuhanlah yang membagi rizki setiap makhluk-Nya berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya. Allah memberi rizki berdasarkan kelayakan hamba-Nya dan menuntut pertanggung jawabannya.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Akhir dan nasib dari pembangkangan, tuntutan bersar dan mabuk keduniawian adalah kehinaan dan kehancuran.
2. Kekayaan, meski semakin besar dan bertumpuk, bukan sarana keselamatan manusia dari kemurkaan dan azab Ilahi.
3. Jangan tergesa-gesa menghakimi dalam setiap masalah. Mereka yang melihat kekayaan Karun langsung berharap andaikata memiliki harta seperti Karun, namun ketika menyaksikan nasib Karun, mereka mengatakan “Untung kita tidak seperti Karun”.
4. Lebih baik kita berpuas diri dan menerima rizki yang diberikan Allah kepada kita ketimbang berharap memiliki harta seperti yang dimiliki orang lain. Mungkin angan-angan tersebut tidak ada kebaikannya bagi kita selama di dunia.