Feb 10, 2018 16:42 Asia/Jakarta

Surat al-Qashash ayat 83-85.

تِلْكَ الدَّارُ الْآَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ (83)

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (28: 83)

Di ayat sebelumnya kita telah mengisyaratkan nasib Karun akibat pembangkanganya. Ayat yang kita kaji saat ini merupakan kesimpulan dari kisah tersebut. Ayat ini menyatakan, mereka yang menganggap unggul dari yang lain dan terus berusaha untuk mencitrakan dirinya lebih baik dari orang lain, maka mereka harus menyadari bahwa tempat mereka di Hari Kiamat bukan di surga, karena surga adalah tempat orang-orang yang suci dan bertakwa.

Kesombongan merupakan karakteristik orang kaya dan mereka yang mencintai dunia. Kesombongan akan menyeret mereka kepada kehancuran dan kerusakan serta harta dan kekusaan mereka menjadi sumber petaka dan kerusakan di tengah masyarakat. Di sejarah disebutkan ketika Imam Ali berkuasa, beliau berkata, “Seperti saya tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk menganggap unggul dari yang lain, maka orang-orang kaya juga jangan menjadikan hartanya sebagai sarana untuk menguasai orang lain.”

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Harta dan kekuasaan dengan sendirinya bukan pemicu kerusakan. Apa yang memicu meluasnya kerusakan dan kefasadan adalah menganggap unggul dari orang lain dengan bersandar pada kekayaan yang dimiliki.

2. Muttakin sejati adalah mereka yang bertawadhu dan tidak mengejar sikap merasa unggul dari yang lain.

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلَّا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (84)

Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan. (28: 84)

Ayat ini mengisyaratkan sistem balasan dan pahala di akhirat. Menurut ayat ini, Allah Swt ketika memberi pahala Ia menyertainya dengan kasih sayang dan kemurahan-Nya,bukan semata-mata berdasarkan  amal ibadah manusia. Oleh karena itu, nilai pahala Ilahi senantiasa lebih mulia dari perbuatan baik manusia. Terkadang pahala tersebut 10 kali lipat dari nilai amal perbuatan hamba, terkadang malah 100 kali lipat, 700 kali lipat atau bahkan tidak terbilang.

Wajar jika kemurahan dan kasih sayang Allah dalam hal ini berkaitan dengan keikhlasan dan kesucian niat manusia. Satu perbuatan karena dikerjakan dengan niat yang berbeda maka pahalanya juga akan berbeda pula.

Namun berkaitan dengan perbuatan buruk dan dosa, Allah menghukuminya dengan adil. Azab bagi perbuatan dosa berdasarkan pada dampak perbuatan itu sendiri. Apalagi jika dampak dan pengaruh perbuatan dosa tersebut terus berlanjut hingga bertahun-tahun dan bahkan berabad-abad pasca kematian pendosa dan menyebabkan maraknya kefasadan serta dosa di tengah masyarakat.

Uniknya ayat ini tidak menyatakan Allah akan mengazab orang jahat tapi mengatakan, azab mereka adalah apa yang mereka perbuat. Artinya perbuatan dosa yang dilakukan manusia, nanti di hari Kiamat akan mengambil bentuk sendiri dan sejatinya perbuatan mereka yang membuat para pendosa menderita di Hari Kiamat kelak.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Perbuatan baik, siapa pun yang melakukannya, adalah terpuji dan layak mendapat balasan baik di dunia maupun di akhirat.

2. Hanya sekedar melakukan perbuatan baik itu belum cukup, yang lebih penting adalah membawanya dengan selamat hingga Hari Kiamat. Betapa banyak perbuatan baik manusia musnah karena dosa, suka mengungkit kebaikan, sombong atau riya.

3. Allah memberi pahala perbuatan baik berdasarkan kemurahan-Nya. Namun untuk perbuatan buruk dan dosa, Allah menghakiminya berdasarkan keadilan.

الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَى وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (85)

Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah, “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata.” (28: 85)

Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw dan memerintahkan beliau untuk berhijrah dari Mekah ke Madinah. Orang musyrik yang memiliki harta dan kekuasaan tidak membiarkan orang-orang beriman kepada Nabi. Siapa saja yang beriman kepada Nabi pasti mereka siksa. Bahkan umat Muslim yang jumlahnya sedikit saat itu harus merasakan blokade ekonomi dan sosial serta menghadapi banyak kesulitan. Ketika orang musyrik pesimis dengan usahanya, maka mereka mulai merencanakan konsipirasi untuk membunuh Nabi Muhammad. Saat itulah, Allah Swt memerintahkan nabi-Nya untuk berhijrah ke Madinah.

Sementara itu, Nabi Muhammad dari satu sisi ingin tetap tinggal di Mekah, karena kota ini adalah tempat kelahirannya, namun dari sisi lain harus berhijrah ke tempat lain untuk menyebarkan ajarannya. Ayat ini menyatakan kepada Nabi, Tuhan yang menurunkan al-Quran kepadamu (Muhammad) dan mewajibkanmu untuk berhijrah, berjanji akan mengembalikan kamu ke Mekah dan kamu berserta umat Islam saat itu menjadi pihak berkuasa.

Ayat ini menambahkan, kepada orang-orang yang masih tetap mengingkarimu, katakan bahwa meski kalian mengingkari ajaranku, namun Allah lebih mengetahui siapa saja yang layak menerima hidayah dan siapa saja yang bakal tetap dalam kegelapan serta kesesatan dan menolak hidayah.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Wahyu dan penyampaiannya kepada manusia menyebabkan penolakan kaum kafir dan hijrah Nabi ke Madinah. Namun Allah berjanji untuk mengembalikan Nabi ke tempat kelahirannya dengan keagungan dan kemuliaan.

2. Melaksanakan kewajiban bukan terbatas pada shalat dan puasa, namun membaca dan menyebarkan al-Quran serta mengajak manusia kepada al-Quran juga termasuk kewajiban.