Feb 10, 2018 16:46 Asia/Jakarta

Surat al-Qashash ayat 86-88.

وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ (86)

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir. (28: 86)

Di ayat sebelumnya, Allah Swt menjanjikan kepada Nabi Muhammad Saw akan mengembalikannya ke Mekah dengan membawa kemenangan menghadapi orang-orang Kafir, setelah hijrah ke Madinah. Ayat ini melanjutkan penjelasan sebelumnya bahwa Rasulullah Saw kembali ke Mekah dengan kekuatan dan posisi terhormat.

Nabi Muhammad Saw tidak mengharapkan al-Quran diturunkan kepadanya. Tapi berkat rahmat-Nya, al-Quran diturunkan kepada beliau. Oleh karena itu, Rasulullah Saw tidak boleh menyerah menghadapi orang-orang Musyrik dan Kafir.

Di ayat sebelumnya masih di surat al-Qasas, al-Quran menjelaskan kisah Nabi Musa as mengunjungi bukit Thur, dan di sana diangkat menjadi Nabi. Demikian juga dengan Nabi Muhammad Saw. Beliau mendatangi gua Hira dan di sana malaikat Jibril menyampaikan wahyu Allah kepadanya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Salah satu alasan orang-orang Kafir menolak menerima kebenaran adalah dalih “Mengapa wahyu tidak diturunkan kepada mereka?” Menjawab alasan tersebut, Allah swt dalam al-Quran berfirman, “Para nabi sebagai orang-orang yang suci dan hidup mereka terjaga dari dosa saja tidak menanti hal itu dari Tuhan, apalagi orang-orang Kafir!

2. Ajaran para Nabi melarang setiap perbuatan yang akan memperkuat orang-orang kafir dan lalim.

وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آَيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (87)

Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (28: 87)

Ayat ini menegaskan ayat sebelumnya yang melarang menjadi penolong bagi orang-orang Kafir.Sebab dengan tidak disampaikannya dakwah ilahi kepada masyarakat, maka kekufuran dan kemusyrikan akan semakin berkembang.

Sejarah menunjukkan, setiap kali Rasulullah Saw menyampaikan ayat al-Quran dan menyerukan dakwah kepada masyarakat, orang-orang Musyrik dan Kafir menuding beliau sebagai penyair dan tukang sihir. Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah Saw tidak boleh takut menghadapi berbagai hinaan dan tudingan musuh dalam menjalankan kewajibannya menyampaikan risalah Ilahi kepada masyarakat. Jika beliau takut menghadapi cacian dan kecaman musuh, maka di sisi Allah swt tidak ada perbedaan dengan orang-orang Musyrik.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Musuh menyiapkan skenario bagi Nabi Ilahi, dan mereka terus melanjutkan penyebaran kekufuran dan kemusyrikannya. Oleh karena itu, para nabi harus tetap menjaga agamanya, dan melanjutkan dakwah menyebarkan ajaran ilahi kepada masyarakat.

2. Para nabi ilahi dididik langsung oleh Allah Swt. Mereka menjalankan seluruh perintah Allah dan menyampaikan dakwah ilahi kepada masyarakat.

3. Para nabi dalam programnya menyerukan dakwah ilahi bukan dari dirinya, dan mereka memerangi kekufuran dan kemusyrikan.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (88)

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (28: 88)

Di ayat sebelumnya Allah Swt menegaskan kepada para nabi supaya tetap teguh menyampaikan dakwah ilahi kepada masyarakat. Ayat ini melanjutkan dengan menekankan masalah tauhid, dan tidak menyekutukan Tuhan dengan yang lain. Sebab, tidak ada yang abadi kecuali Allah swt. Penguasa mutlak alam semesta beserta seluruh isinya hanyalah Allah Swt. Oleh karena itu, setiap perbuatan harus dilakukan untuk mendapatkan keridhaan ilahi.

Di ayat ini, al-Quran menjelaskan bahwa seluruh makhluk akan binasa. Lambat atau cepat, setiap makhluk akan menemui ajalnya masing-masing. Allah Swt yang memberikan hidup kepada makhluk-Nya, dan setiap saat tanpa rahmat-Nya semua makhluk akan binasa.

Ayat ini mendefinisikan syirik sebagai “Menjadikan yang lain sebagai tuhan.” Tapi makna ini berbeda dengan pengertian syirik Wahabi yang menyamakan tawasul kepada nabi dan aulia Allah sebagai syirik. Sebab Rasulullah Saw, Imam Ali atau aulia ilahi lainnya adalah makhluk, dan kekuatan mereka dari Allah Swt. Mereka justru mengajarkan ketauhidan sejati kepada Allah swt dalam perjuangannya menyebarkan dakwah Islam.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Tauhid sejati adalah melepaskan seluruh keterikatan dan perbudakan dari sesama makhluk, dan melawan thagut ataupun kekuatan lalim yang ingin menguasai bumi.

2. Dunia dan seluruh isinya fana, dan hanya Allah-lah yang abadi.

3. Kematian bukan akhir, tapi awal dari kehidupan di alam akhirat.