Jalan Menuju Cahaya 709
Surat al-Ankabut ayat 1-7
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)
Alif laam miim. (29: 1)
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (29: 2)
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (29: 3)
Nama surat al-Ankabut seperti beberapa surat lain al-Quran diambil dari nama hewan. Sebagaimana disebutkan pada ayat 41 surat ini, landasan syirik sama seperti sarang laba-laba yaitu rapuh dan lemah. "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui."
Dalam al-Quran terdapat 29 surat yang diawali dengan huruf-huruf muqatha'ah (terputus), seperti Alif Laam Miim, Yaasin, dan Thahaa. Surat al-Ankabut juga dimulai dengan huruf muqatha'ah. Huruf muqatha'ah adalah huruf-huruf yang menyimpan rahasia dan secara keseluruhan menjelaskan kedudukan al-Quran sebagai mukjizat Allah Swt. Ia tersusun dari huruf-huruf Hijaiyah dan menantang orang-orang yang mengingkarinya untuk mendatangkan yang semisal dengan al-Quran.
Ayat-ayat pertama surat al-Ankabut berbicara tentang sunnah Ilahi yang meliputi seluruh umat manusia di sepanjang sejarah yaitu sunnah ujian, di mana niat dan batin manusia akan tampak serta menyingkap antara mereka yang benar-benar jujur dan dusta.
Segolongan manusia senantiasa menganggap dirinya sebagai mukmin hakiki dan memandang dirinya hamba yang tulus, tapi ketika menghadapi sedikit cobaan dan musibah, mereka dengan mudah meninggalkan keimanannya. Dalam situasi ini menjadi jelas bahwa mereka tidak seperti yang dibayangkan selama ini.
Golongan lain adalah orang-orang Munafik yang tidak ada iman di hatinya, tapi karena hidup di tengah masyarakat Muslim, mereka menampilkan dirinya sebagai ahli iman dan menjaga syiar-syiar agama Islam demi mempertahankan kepentingan duniawinya. Kemunafikan kelompok ini juga akan tampak tatkala mereka didera masalah dan kesulitan.
Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Iman, tidak hanya dengan lisan, slogan, dan pengakuan semata, tapi dibarengi dengan ujian. Manusia perlu membuktikan dalam tindakan bahwa ia siap dengan segala bentuk pengorbanan demi menjaga imannya.
2. Ujian merupakan bagian dari sunnah Ilahi di sepanjang sejarah dan setiap individu akan diuji dengan cara tertentu. Orang kaya dengan hartanya, orang miskin dengan kepapaannya, penguasa dengan kekuasaannya, dan orang lemah dengan ketidakberdayaannya.
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (4) مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآَتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (5)
Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. (29: 4)
Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (29: 5)
Ayat tersebut juga masih berbicara tentang sunnah Ilahi yang komprehensif. Subjek pembicaraannya ditujukan untuk golongan Mukmin dan Kafir dan mengancam orang-orang Kafir dengan ucapan; mereka jangan mengira bahwa mereka dapat lari dari azab Allah Swt dan mereka bisa menang atas kekuasaan-Nya. Pembangkangan mereka terhadap perintah Tuhan dan perilaku buruk mereka terhadap orang-orang Mukmin, semua sudah tercatat rapi dalam kitab amal dan mereka akan dibawa menghadap pengadilan Ilahi.
Dari sisi lain, kaum Muslim harus berusaha maksimal dalam ketaatan dan ibadah kepada Sang Khalik. Mereka tidak boleh berpaling hanya karena ditekan oleh musuh atau karena kesulitan hidup. Karena janji Allah Swt tentang Hari Kiamat adalah sesuatu yang pasti. Pada hari itu, semua hakikat dan misteri akan tersingkap, mereka akan berada pada posisi di mana tidak ada hijab antara mereka dan Tuhannya dan mereka benar-benar menyaksikan hakikat.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Berbuat dosa dan larut di dalamnya akan berpengaruh negatif pada batin manusia dan ia akan terjebak dalam prasangka tentang Allah Swt dan sistem penciptaan.
2. Para pendosa jangan sombong dengan waktu yang diberikan Allah Swt, karena kesempatan cepat berlalu dan Hari Kiamat pasti akan datang. Orang-orang saleh juga jangan lengah dalam kesabaran dan istiqamahnya sebab janji Tuhan adalah pasti.
وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (6) وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ (7)
Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (29: 6)
Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (29: 7)
Muslim, dan jika diperlukan, ia harus berperang dan berjihad dengan musuh-musuh agama. Allah Swt tentu saja tidak membutuhkan pengorbanan mereka untuk menjaga agama, dan hal-hal yang mereka kerjakan, manfaatnya akan kembali kepada mereka sendiri.
Allah Swt telah memberi janji bahwa manusia-manusia seperti itu akan merasakan kasih sayang dan rahmat khusus-Nya. Tuhan juga akan menghapus dosa dan kesalahan mereka serta memberi pahala yang lebih besar atas perbuatan baik mereka.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Jihad dalam ayat tersebut adalah bukan semata-mata jihad dengan senjata dan musuh, tapi maksudnya adalah segala bentuk upaya dan kerja keras. Usaha itu bisa berbentuk introspeksi diri dan jihad melawan hawa nafsu atau menggagalkan konspirasi musuh di bidang politik, ekonomi, dan budaya. Semua kegiatan ini merupakan bagian dari jihad, di mana manfaatnya akan kembali kepada pribadi Muslim itu sendiri.
2. Jika kita berjuang di jalan Allah Swt, Dia akan menghapus dosa dan kesalahan kita serta membalas jerih payah kita dengan ganjaran yang lebih besar.