Feb 14, 2018 12:55 Asia/Jakarta

Surat al-Ankabut ayat 8-13

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (8) وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ (9)

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (29: 8)

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh. (29: 9)

Pada permulaan Islam, sejumlah pemuda beriman kepada Rasulullah Saw dan meninggalkan berhala, tapi ibu dan ayah mereka tetap dalam kesyirikan dan penyembah berhala, dan meminta anak-anaknya untuk meninggalkan ajaran Muhammad Saw. Sebagian ibu bahkan memilih mogok makan sehingga anaknya tertekan secara emosional. Meski demikian, mereka tidak berhasil memisah anak-anaknya dari agama Islam.

Ayat ini mengirim pesan kepada para pemuda di permulaan Islam dan semua orang yang hidup di tengah keluarga musyrik bahwa ketika terdapat pertentangan antara hubungan kekerabatan dan agama, maka menjaga agama lebih baik daripada meraih keridhaan orang tua dan mereka tidak boleh meninggalkan agamanya karena dikalahkan oleh perasaan. Menghormati ayah dan ibu tentu saja wajib hukumnya dan semaksimal mungkin seseorang harus berbuat baik kepada mereka dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.

Ayat tersebut kemudian mengingatkan semua anggota keluarga baik orang tua maupun anak-anak bahwa semua perbuatan mereka di dunia akan dicatat dan suatu hari nanti mereka akan diminta pertanggung jawaban. Perlu diingat bahwa hanya mereka yang beriman dan beramal saleh yang akan berada dalam barisan orang-orang saleh dan baik di Hari Kiamat kelak.

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Berbakti dan berbuat baik kepada orang tua merupakan sebuah masalah kemanusiaan dan tanpa syarat apapun. Seorang anak tetap harus mengabdi dan memuliakan orang tuanya baik mereka Muslim atau Kafir.

2. Menyeru kepada kesyirikan pada dasarnya mengajak pada pekerjaan yang sia-sia dan kebodohan.

3. Anak-anak harus bebas dalam memilih jalan yang benar. Ayah dan ibu tidak bisa memaksa mereka untuk mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang tuanya.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ (10) وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ (11)

Dan di antara manusia ada orang yang berkata, “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata, “Sesungguhnya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? (29: 10)

Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (29: 11)

Ayat ini menyinggung golongan lain dari kaum Muslim, dimana mereka mantap dengan imannya tatkala hidup senang dan sejahtera, sementara ketika iman justru menyulitkan hidup dan urusan mereka, mereka akan meninggalkan iman dan menolak membantu orang-orang Mukmin. Namun, ketika kesulitan berlalu dan kaum Muslim kembali mencapai kejayaan, mereka merasa dirinya bagian dari orang-orang yang beriman. Mereka berkata, “Kami selama ini berada di samping kalian dan bersama kalian, jadi kami juga berkontribusi dalam kemenangan ini.”

Allah Swt mengetahui batin semua orang, Dia mengetahui siapa saja yang siap mengorbankan nyawanya demi mempertahankan iman dan siapa saja yang rela meninggalkan keimanan hanya karena sedikit cobaan.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Iman sebagian orang hanya sekedar di lisan dan bukan di hati. Jadi, keimanan hakiki akan tampak ketika pemiliknya ditimpa kesulitan dan musibah.

2. Kadang ada harga yang mesti dibayar saat memilih beriman atau mempertahankan keimanan. Ahli iman akan menerima jalan terjal dan siap memikulnya.

3. Munafikin adalah orang-orang yang oportunis. Mereka menjauh ketika datang kesulitan dan bahaya, sementara ketika kejayaan dan kemenangan tiba, mereka mengesankan dirinya bagian dari masyarakat sehingga bisa menikmati pencapaian dan kemajuan publik.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (12) وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ (13)

Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman, “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu,” dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta. (29: 12)

Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan. (29: 13)

Kaum Kafir berupaya menyesatkan orang-orang Muslim dan mengembalikan mereka kepada jalan syirik. Ayat tersebut berkata, “Kembalilah ke jalan kami dan jalan nenek moyang kita, dan tinggalkanlah jalan nabi. Jika perbuatan ini tidak terbilang kesalahan dan dosa, maka tidak ada sesuatu yang akan membebani kami dan kalian, dan jika perbuatan ini dosa, maka kami akan menanggung dosa-dosa kalian dan kalian tidak perlu memikul beban.”

Kaum Kafir berdusta dalam seruannya, karena balasan dan siksaan berada di tangan Allah Swt, bukan mereka. Mereka tidak dapat menghapus siksaan dari pundak pendosa dan memberi pengampunan kepadanya. Jika seseorang berpaling dan kembali ke jalan sesat karena terpengaruh perkataan batil, maka ia akan merasakan sikaan di Hari Kiamat, sementara pelaku yang telah menyesatkan orang lain, ia akan memikul beban (dosa) orang lain di samping dosa-dosanya sendiri.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Musuh tidak akan pernah membiarkan kaum Muslim senang. Mereka selalu ingin mengembalikan orang Muslim ke jalan syirik kadang dengan gangguan dan siksaan, dan kadang dengan janji-janji palsu.

2. Dalam pandangan dunia Islami, tidak ada seorang pun yang bisa memikul beban dosa orang lain atau mengaku bisa menanggung dosa orang lain.

3. Individu yang telah menyesatkan orang lain, ia akan ikut menanggung dosa orang tersebut dan juga memikul dosa-dosanya sendiri.