Feb 14, 2018 12:59 Asia/Jakarta

Surat al-Ankabut ayat 14-18

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ (14) فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آَيَةً لِلْعَالَمِينَ (15)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.(29: 14)

Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (29: 15)

Ayat ini melanjutkan pembahasan ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang nasib kehidupan kaum Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as. Al-Quran menjelaskan bagaimana tingkat keimanan para pengikut Nabi Allah Swt tersebut, dan pengingkaran sebagian dari kaumnya.

Berdasarkan penjelasan ayat ini, Nabi Nuh as. menyampaikan dakwah kepada kaumnya selama hampir seribu tahun. Tapi hanya sedikit yang mengimani beliau dan sebagian besar kafir. Kemudian Allah Swt menurunkan azab kepada kaum Nabi Nuh yang ingkar berbentuk banjir yang besar. Para pengingkar kebenaran binasa dan hanya orang-orang mukmin saja yang selamat dari azab tersebut.

Peristiwa ini memberikan pelajaran penting bahwa kaum yang zalim dan mengingkari kebenaran akan binasa, dan orang-orang yang beriman akan selamat.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Iman dan kafir berpengaruh terhadap keselamatan dan kebinasaan suatu kaum di dunia ini.

2. Dalam pandangan al-Quran, usia yang panjang lebih dari seribu tahun sangat mungkin, sebagaimana umur Nabi Nuh as. Oleh karena itu, keyakinan terhadap kehidupan Imam Mahdi sejak 1200 tahun lalu hingga kini sangat mungkin, dan sesuai dengan pandangan al-Quran.

3. Dalam menyampaikan dakwah harus disertai dengan kesabaran, dan tidak perlu menanti keimanan sebagian besar manusia.

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (16) إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (17)

Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (29: 16)

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (29: 17)

Setelah Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim termasuk Ulul Azmi yang memiliki kedudukan khusus sebagai nabi terpilih, dan paling utama dari para nabi lainnya. Nabi Ibrahim as mengajak kaumnya supaya meninggalkan penyembahan berhala dan hanya menyembah kepada Allah Yang Maha Esa. 

Beliau menilai salah satu akar penyembahan berhala adalah kebutuhan keuangan masyarakat. Nabi Ibrahim berkata, “Jika menyembah berhala karena kemiskinan dan kebutuhan hidup, maka ketahuilah berhala tidak berperan sama sekali terhadap kehidupan, dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan kalian.”

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Ibadah tidak bermakna tanpa ketakwaan dan menjauhi dosa.

2. Orang yang menjadikan sesama manusia sebagai penolong utama menggantikan Tuhan terjebak dalam bentuk syirik.

3. Agama menyerukan kepada manusia untuk bersyukur atas segala karunia Allah Swt.

وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (18)

Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya. (29: 18)

Di ayat ini, Nabi Ibrahim as mengatakan, Aku tidak berharap semua orang beriman dan memeluk agama Allah Swt. Sebab pengalaman kaum sebelumnya menunjukkan sebagian orang mengingkari para nabi dan menolak dakwah mereka.

Nabi Ibrahim menegaskan bahwa kewajibannya sebagai nabi hanya menyampaikan dakwah mengajak masyarakat kepada agama ilahi. Adapun penerimaan maupun penolakan mereka bukan tanggung jawabnya. Beliau hanya bertanggung jawab sebagai penyampai risalah ilahi. Oleh karena itu, jika semua orang kafir, maka hal tersebut di luar tanggung jawabnya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para nabi tidak memaksa orang lain supaya beriman, dan kewajibannya hanya menyampaikan dakwah ilahi.

2. Orang-orang mukmin tidak menanti semua orang menjadi seperti dirinya yang beriman kepada Alllah Swt. Mereka tetap menyampaikan dakwah, dan tidak bertanggung jawab terhadap hasilnya.