Feb 14, 2018 13:04 Asia/Jakarta

Surat al-Ankabut ayat 19-23

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (19) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآَخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (29: 19)

Katakanlah, “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (29: 20)

Pada kajian sebelumnya, kita telah menyinggung tentang dialog Nabi Ibrahim as dengan kaum Musyrik, di mana beliau menyeru mereka untuk meninggalkan berhala dan permohonan rezeki kepada benda mati itu. Ayat tersebut dan beberapa ayat setelahnya yang berada di antara dialog itu, ingin membuktikan Hari Kiamat dan dunia akhirat. Sebuah peristiwa diingkari oleh kaum musyrik dan dianggap sebagai perkara mustahil, baik itu kaum Musyrik pada masa Nabi Ibrahim as atau pada era Nabi Muhammad Saw.

Ayat tersebut mengajak kaum Musyrik untuk berpikir sehingga mereka memahami bahwa penciptaan kembali makhluk hidup adalah sesuatu yang mungkin dan mudah bagi Allah Swt. Dia juga meminta kaum Musyrik untuk memperhatikan makhluk di sekitarnya, sehingga mereka mengerti bahwa Sang Pencipta semesta ini adalah maha kuasa. Jadi, penciptaan kembali manusia merupakan sebuah pekerjaan yang mudah dan mungkin bagi-Nya.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Al-Quran senantiasa mengajak manusia berpikir untuk memahami hakikat alam semesta.

2. Penciptaan merupakan manifestasi ilmu dan kekuasaan mutlak Allah Swt dalam menciptakan kehidupan dan kematian semua makhluk.

3. Islam menganjurkan kegiatan wisata yang positif dan mempelajari alam untuk menemukan kebenaran. Dengan mengkaji masalah penciptaan, manusia bisa mengenal Tuhan dengan lebih baik.

4. Kekuasaan Allah Swt dalam menciptakan seluruh makhluk dari permulaannya merupakan argumentasi terbaik tentang ketidakmustahilan kiamat.

يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَشَاءُ وَإِلَيْهِ تُقْلَبُونَ (21) وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (22)

Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan. (29: 21)

Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak (pula) di langit dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah. (29: 22)

Dunia ini adalah kesempatan untuk berusaha dan mengais bekal, sementara akhirat adalah masa untuk perhitungan dan memetik hasil. Apa yang kita tanam di ladang dunia, kita akan memanen hasilnya di ladang akhirat. Allah Swt akan menjadi hakim yang adil di Hari Kiamat dan mengetahui semua perbuatan manusia selama hidup di dunia. Dia akan memberi balasan atas dasar perbuatan, memberi rahmat dan pengampunan untuk mereka yang taat, dan memberi siksaan untuk para pembangkang.

Jangan pernah mengira bahwa seseorang bisa lari dari wilayah teritorial Tuhan di dunia ini atau akhirat kelak, atau menghindar dari kekuasaan-Nya di langit dan bumi ini. Kemana pun ia pergi, ia akan selalu berada di bawah pemerintahan Allah Swt dan tidak ada jalan untuk lari. Jangan berpikir bahwa kedaulatan Tuhan hanya ada di bumi, sehingga seseorang bisa terbang ke angkasa untuk keluar dari pemerintahan-Nya.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Rahmat dan murka Allah Swt berada berdampingan sehingga orang-orang baik berharap pada rahmat-Nya, sementara orang-orang jahat bisa takut akan kemarahan dan murka Tuhan.

2. Kehendak dan ketetapan Allah Swt untuk hambanya didasarkan pada prinsip keadilan dan hikmah. Dia tidak akan berbuat aniaya sekecil apapun terhadap seseorang.

3. Kehendak manusia sama sekali tidak dapat mengalahkan kehendak Allah Swt, meskipun mereka sangat kuat dan memiliki sarana yang canggih.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ أُولَئِكَ يَئِسُوا مِنْ رَحْمَتِي وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (23)

Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. (29: 23)

Pada ayat sebelumnya, al-Quran menerangkan bahwa sekelompok manusia akan menerima azab Ilahi dan sebagian yang lain akan memperoleh rahmat-Nya. Ayat 23 surat al-Ankabut berbicara tentang orang-orang yang tidak mengharapkan ampunan dan rahmat Allah Swt.

Orang yang mengingkari ayat-ayat Allah Swt di alam semesta atau mendustakan al-Quran atas dasar kesombongan dan keangkuhan, maka ia pasti akan menerima siksa yang pedih di hari kiamat dan tidak ada ampunan baginya. Sebab, ia telah mengingkari dua perkara sekaligus yaitu awal penciptaan dan Hari Kiamat.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Rahmat Allah Swt sangat luas dan siapa saja bisa merasakannya sesuai dengan kapasitasnya. Namun, pengingkaran dan kekufuran akan menutup jalan untuk merasakan rahmat Tuhan. Jika sebuah bola dibiarkan terapung di samudera, tentu air tidak akan masuk di dalamnya, demikian juga dengan kekufuran, ia akan menghalangi sampainya rahmat kepada seseorang.

2. Kaum Kafir adalah golongan yang berputus asa dan tidak memperoleh rahmat Allah Swt yang maha luas.