Jalan Menuju Cahaya 713
Surat al-Ankabut ayat 24-26.
فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (24)
Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan, “Bunuhlah atau bakarlah dia,” lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman. (29: 24)
Setelah menceritakan kisah Nabi Nuh as, surat al-Ankabut kemudian mengangkat kisah Nabi Ibrahim as dan ayat-ayat sebelumnya menjelaskan tentang argumen Ibrahim dalam menyeru kaum musyrik kepada ajaran tauhid serta mengingatkan mereka tentang dunia setelah kematian. Ayat 24 surat al-Ankabut mengisahkan reaksi masyarakat terhadap dakwah Nabi Ibrahim as. Mereka tidak punya jawaban yang tepat dan rasional dalam mematahkan ucapan argumentatif Ibrahim as.
Kaum Musyrik akhirnya memilih jalan kekerasan sama seperti yang dilakukan oleh semua orang zalim dan pembangkang. Mereka mendesak tindakan tegas terhadap Khalilur Rahman; sebagian mengusulkan agar ia dilempar ke dalam api dan sekelompok yang lain meminta agar ia dihukum gantung sehingga masyarakat terbebas dari seruannya.
Seperti disinggung pada ayat 68-70 surat al-Anbiya, mereka akhirnya memutuskan untuk menyiapkan bara api yang besar dan melempar Nabi Ibrahim as ke dalamnya. Ayat selanjutnya berkata, "Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim…"
Pada ayat lain, bara api menjadi dingin atas perintah Allah Swt dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim. Peristiwa ini merupakan pelajaran terbaik untuk kaum yang beriman bahwa kekuasaan Allah Swt akan selalu menang di hadapan semua kekuatan. Kekuasaan Sang Pencipta tidak akan pernah kalah terhadap kekuatan materi.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Logika musuh-musuh agama adalah kekerasan, itimidasi, dan pembunuhan. Mereka tidak ingin memahami kebenaran, tapi hanya berambisi untuk mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya.
2. Sedikitnya jumlah orang Mukmin bukan alasan untuk tunduk pada kaum zalim dan arogan. Ibrahim meskipun hanya seorang diri, bangkit menentang kesesatan dan kekufuran, dan Allah Swt juga menolongnya.
3. Kehendak Tuhan akan menang atas semua sarana dan kekuatan materi. Kehendak-Nya meliputi segala sesuatu, Dia memberikan kekuatan membakar kepada api dan kadang juga mencabut kekuatan itu dari api.
وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (25)
Dan berkata Ibrahim, “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.” (29: 25)
Nabi Ibrahim as setelah selamat dari kobaran api, tidak meninggalkan dakwahnya dan tetap mempertanyakan ajaran penyembah berhala. Menurut catatan sejarah, setiap kabilah membanggakan berhala mereka dan menganggapnya sebagai simbol identitasnya. Para anggota kabilah mencapai solidaritas dengan menyembah berhala. Selain itu, dalam pandangan mereka, ajaran nenek moyang harus dimuliakan dan menyembah apa-apa yang menjadi tuhan mereka dulu.
Dalam dakwahnya, Ibrahim as berkata kepada mereka, "Ikatan antara nenek moyang dan individu kabilah yang dibangun atas dasar penyembahan berhala, akan runtuh pada hari kiamat. Pada hari itu, setiap orang melempar kesalahannya ke pihak lain dan menganggap orang lain sebagai pendosa. Mereka melaknat para pembesar kaum dan menyebut mereka sebagai penyebab kesesatannya. Tidak satu pun bersedia bertanggung jawab atas kesesatan besar ini. Sementara para pembesar justru menyalahkan masyarakat dan menyebut mereka telah mengikuti jalan yang sesat tanpa pernah menggunakan akalnya."
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Poros persatuan dan indentitas setiap masyarakat harus berupa sesuatu yang benar dan rasional. Bukan seperti kaum Musyrik yang menjadikan berhala sebagai alat perekat di antara mereka dan juga dengan nenek moyangnya.
2. Pikiran dan logika harus bisa mengalahkan perasaan dan emosional manusia. Ikatan emosional tidak boleh menjadi penentu bentuk pemikiran dan akidah seseorang.
3. Hubungan persahabatan yang dibangun atas kesesatan, pada Hari Kiamat ia justru akan menjadi sumber permusuhan.
فَآَمَنَ لَهُ لُوطٌ وَقَالَ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (26)
Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim, “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (29: 26)
Setelah Nabi Ibrahim as selamat dari bara api yang dikobarkan oleh kaum Namrud, Luth menjadi orang pertama yang beriman dan menjadi penolong Ibrahim, yang kemudian diangkat menjadi nabi dan menyampaikan ajaran Ibrahim as kepada masyarakat.
Kaum Namrud telah menyaksikan mukjizat besar itu, tapi tidak ada yang mengimaninya selain Luth. Melihat kondisi itu, Nabi Ibrahim as memutuskan untuk berhijrah atas perintah Allah Swt sehingga bisa menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat di daerah lain. Perjalanan ini juga akan menyelamatkannya dari siksaan masyarakat di kota kelahirannya dan membuat persiapan untuk memperluas ajaran tauhid di tempat lain.
Nabi Muhammad Saw juga terbebas dari kondisi sulit di Mekah setelah melakukan hijrah ke Madinah dan kemudian mengislamkan masyarakat setempat.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Para nabi, bukan seperti para raja yang ingin menghapus satu sama lain dan memperbesar kekuasaannya, mereka selalu berpikir untuk memperkuat antar sesama dan menyebarluaskan ajaran agama. Sebagaimana keimanan Luth kepada Nabi Ibrahim as dan kemudian mendukungnya dalam dakwah.
2. Para utusan langit tidak terikat dengan daerah tertentu dan waktu, mereka kapan saja siap melakukan hijrah ke tempat lain.