Feb 14, 2018 13:17 Asia/Jakarta

Surat al-Ankabut ayat 27-30

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ وَآَتَيْنَاهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الْآَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (27)

Dan Kami anugrahkan kepda Ibrahim, Ishak dan Ya'qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (29: 27)

Ayat-ayat sebelumnya menjelaskan kisah dan perjalanan Nabi Ibrahim as secara global. Setelah Ibrahim as meninggalkan kampung halamannya untuk memberi hidayah kepada masyarakat di daerah lain, Allah Swt memberi anugerah yang besar kepadanya. Ia dianugerahkan anak-anak yang saleh dan suci sebagai penerus misinya dan dengan rahmat Allah Swt, mereka diangkat sebagai nabi dan menjadi pelita iman di tengah kaumnya.

Pribadi-pribadi agung seperti, Ishak dan anaknya Ya'qub dan putra Ya'qub – Yusuf – sama seperti Musa, Harun, dan Suleiman as, semua merupakan anak keturunan Ibrahim dan mereka mengemban risalah Tuhan di muka bumi. Anugerah ini bersifat duniawi dan ukhrawi; mereka meninggalkan nama baik dan memperoleh pahala, karena anak-anak yang shaleh merupakan kebanggaan ayah pada masa hidupnya dan ia juga akan dikenang dengan kebajikan setelah kematiannya.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Anak saleh adalah anugerah Allah Swt yang diberikan kepada orang yang suci dan layak.

2. Salah satu balasan Tuhan di dunia adalah keberadaan keturunan yang shaleh dan mulia.

3. Dalam budaya Islam, akhirat tidak boleh dikorbankan untuk dunia dan juga tidak boleh meninggalkan dunia demi mencapai akhirat.

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (28) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (29)

Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya, “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu.” (29: 28)

Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (29: 28)

Setelah mengisahkan perjalanan Nabi Ibrahim as, ayat tersebut secara singkat berbicara tentang kisah Nabi Luth as. Luth hidup sezaman dengan Ibrahim dan menjadi penyampai ajaran Khalilur Rahman di tengah umatnya. Akan tetapi, masyarakat menolak seruan Nabi Luth as dan mengancam untuk membunuhnya karena menyeru mereka untuk meninggalkan perbuatan kotor dan keji.

Ayat tersebut menyinggung salah satu pekerjaan yang paling hina dan bahkan tidak dilakukan oleh binatang sekali pun. Nabi Luth as selalu mengingatkan masyarakat bahwa homoseksual (liwat) adalah sebuah perbuatan yang sangat kotor, di mana akan mengurangi perhatian laki-laki kepada perempuan dan memusnahkan keturunan manusia. Perbuatan tersebut menyalahi hukum alam, dan binatang – yang mengikuti naluri – juga tidak melakukan pekerjaan kotor ini.

Kaum Nabi Luth as terjebak dalam perbuatan keji itu dan rasa malu sosial telah hilang dari mereka. Mereka melakukan hubungan homo terang-terangan dan di tempat-tempat umum. Kaum homo menganggap perbuatan itu sebagai bentuk kesenangan dan kenikmatan.

Mereka selain tidak mendengar nasihat dan peringatan Nabi Luth as serta memperbaiki tingkah lakunya, tapi malah mengolok-ngolok seruan itu. Mereka berkata, "Jika Tuhanmu tidak suka dengan perbuatan kami dan ingin mengazab kami, maka katakanlah agar Dia menurunkan azabnya di dunia ini juga dan memusnahkan kami." Dengan kata lain, mereka ingin berkata kepada Luth as bahwa engkau adalah seorang pendusta yang mengaku nabi dan tanpa alasan menganggu kesenangan kami.

Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Para pemimpin agama tidak hanya bertugas menyeru masyarakat kepada Allah Swt, tapi mereka juga harus memberantas penyimpangan sosial dan membersihkan masyarakat dari kerusakan.

2. Jika kerusakan telah mewabah di masyarakat, kita tidak dapat berkata, "Melarang kemungkaran sudah tidak ada gunanya lagi, jadi untuk apa kita bersusah payah."

3. Para utusan Allah Swt mendorong manusia untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya lewat jalan yang benar dan sebaliknya, mereka akan melawan penyimpangan seksual, dekadensi moral, dan homoseksual.

4. Dosa akan terhitung sebagai urusan pribadi selama belum tampak dan mewabah di masyarakat, tapi ketika ia sudah merusak kesucian sosial, ia akan terhitung sebagai kerusakan publik dan harus dicegah.

5. Homoseksual yang mulai dilegalkan di beberapa negara Barat, adalah sebuah perbuatan yang dianggap keji dan tercela oleh semua agama langit, para nabi as diperintahkan untuk memeranginya.

قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ (30)

Luth berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.” (29: 30)

Saat kaum pendosa menuduh Nabi Luth as sebagai pendusta dan mempertanyakan kenabiannya, beliau memilih berlindung kepada Allah Swt dan menunjukkan sebuah mukjizat sebagai bukti kebenaran risalahnya. Sebuah mukjizat yang menjadi bukti kenabian Luth as, sekaligus peringatan kepada para pendosa dan kemenangan kebenaran atas kebatilan. Mereka –yang bangga dengan dosanya dan melecehkan kesucian– adalah para durjana yang menebar kerusakan dan memandangnya sebagai perkara biasa.

Mereka sudah sangat jauh menyimpang dari jalan kebenaran, di mana jika ada orang-orang baik yang memberi nasihat dan peringatan, mereka akan menertawakan dan mengolok-ngoloknya.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dalam budaya Islam, homoseksual merupakan sebuah bentuk penyebaran kerusakan di muka bumi dan orang yang terang-terangan melakukan dosa besar ini, ia harus diberi hukuman yang berat.

2. Kita harus mengambil tindakan tegas terhadap penyebaran kerusakan di masyarakat dan memohon pertolongan Allah Swt agar bisa menang di hadapan orang-orang Fasik.