Jalan Menuju Cahaya 716
Surat al-Ankabut 36-40
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآَخِرَ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (36) فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ (37)
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib, maka ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan.” (29: 36)
Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. (29: 37)
Pada acara sebelumnya, telah kita simak bersama sejarah kaum Luth. Ayat-ayat tadi menyinggung risalah Nabi Syuaib as dan menyebutkan bahwa dia sama seperti para nabi lain yang menyeru masyarakat untuk menyembah Allah Swt, beriman dan meyakini hari kiamat. Dikatakannya, dosa dan ketidaktaaan kepada Allah Swt akan menimbulkan kefasadan dan kehancuran di muka bumi dan pemerintahan akan terjangkiti kezaliman dan ketidakadilan.
Namun sayang sekali sama seperti banyak kaum terdahulu, masyarakat Nabi Syuaib as juga mengingkari risalah kenabian beliau. Mereka tidak menggubris nasehat dan bimbingan beliau yang disampaikan demi persaudaraan, kepeduliaan dan demi islam masyarakat. Al-Quran menyebutkan, akibat para pengingkar dan pelaku dosa itu adalah mereka terjebak dalam murka dan azab Allah Swt di dunia dan mereka semua binasa dalam sebuah bencana gempa bumi.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tauhid dan Hari Kiamat adalah inti dakwah para nabi.
2. Sikap para nabi terhadap masyarakat adalah penuh cinta kasih dan persaudaraan, bukan berdasarkan keunggulan status.
3. Melakukan dosa dengan sendirinya tidak mengakibatkan diturunkannya azab, akan tetapi bersikeras untuk melanjutkannya secara sadar dan dalam rangka melawan Allah Swt, yang akan mendatangkan murka Allah Swt.
وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ وَزَيَّنَ لَهُمَ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ (38)
Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam. (29: 38)
Ayat itu menyinggung nasib kaum Aad dan Tsamud yang merupakan masyarakat Nabi Hud dan Saleh as. Kedua masyarakat yang nasib mereka juga telah disebutkan pada ayat-ayat lain, mereka mengingkari seruan nabi mereka dan secara sadar melawan firman Allah Swt.
Ditujukan kepada masyarakat Mekkah, Al-Quran menyebutkan, "Para masyarakat dua kaum ini merasakan murka Allah Swt dan puing-puing kota-kota mereka terdapat di utara dan selatan Mekah di jalur menuju Syam dan Yaman. Jelas bagi kalian dan kalian menyaksikannya dalam perjalanan kalian, akan tetapi kalian tidak belajar darinya."
Dalam lanjutan ayat disebutkan bahwa sebab mereka diazab adalah karena mengikuti setan yang menipu mereka dengan gemerlap dunia. Meski mereka memiliki semua sarana untuk mengenal kebenaran seperti akal, fitrah dan seruan para nabi, mereka tetapi memilih jalan menyimpang.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Peninggalan sejarah kaum-kaum terdahulu harus dijaga sehingga dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat generasi mendatang.
2. Pekerjaan setan adalah mempercantik hal-hal yang buruk. Apa yang dinilai buruk bagi manusia sesuai dengan akal dan fitrahnya, setan berusaha menampilkannya sedemikian indah di hadapannya. Sebagai contoh, kebanggaan, keunggulan, membangga-banggakan kekayaan dan kekuasaan, adalah masalah-masalah yang dikesankan indah oleh setan di benak manusia.
وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ (39) فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40)
Dan (juga) Karun, Firaun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). (29: 39)
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (29: 40)
Menyusul nasib sejumlah kaum di masa lalu, ayat ini juga menyinggung nasib sejumlah manusia sombong dan zalim dalam sejarah seperti Qarun, Firaun dan Haman. Qarun sombong karena kekayaannya yang melimpah. Kekuatan dan kekuasaan telah membuat Firaun sewenang-wenang dan zalim. Adapun Haman sebagai menteri Firaun juga menjadi mitra dalam kejahatannya.
Nabi Musa as telah membimbing dan menyempurnakan hujjah kepada mereka. Akan tetapi mereka menolak menyerahkan diri di hadapan kebenaran dan tidak meninggalkan kesesatan mereka. Bahkan mereka melawan Nabi Musa as dan hendak membunuhnya.
Manusia-manusia zalim ini beranggapan bahwa mereka dapat melawan kehendak Allah Swt. Akan tetapi kehendak Allah Swt membenamkan Qarun dan hartanya ke perut bumi sementara Firaun dan Haman ditenggelamkan Allah Swt di sungai Nil.
Pada lanjutan ayat, disebutkan berbagai azab Allah Swt di dunia yang disebutkan secara detail pada ayat lain. Kaum Aad menghadapi bencana badai pasir dan kerikil selama tujuh hari dan tujuh malam yang menghancurkan mereka. Adapun kaum Tsamud binasa karena sambaran petir dan gempa bumi. Manusia-manusia yang terpendam ke perut bumi atau tenggalam dalam air, itu semua adalah azab mereka di dunia.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Akibat kesombongan dan takabur, adalah kehancuran dan kebinasaan. Kekuatan dan kekayaan serta seluruh sarana yang dimilikinya tidak akan mampu menyelamatkannya dari kebinasaan.
2. Kekuatan Allah Swt di atas semua kekuatan dan mereka yang melawan agama kebenaran, jangan sampai mereka beranggapan dapat melawan Allah Swt.
3. Azab Allah Swt bukan hanya satu jenis, melainkan banyak jenisnya dan akan dijatuhkan dalam berbagai bentuk.
4. Nasib setiap orang tergantung amal dan perbuatannya.