Feb 14, 2018 13:30 Asia/Jakarta

Surat al-Ankabut ayat 46-49.

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آَمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (46)

Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah, “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (29: 46)

Pada ayat-ayat sebelumnya, telah disinggung cara berdialog dengan kaum Musyrik dan orang-orang Kafir yang mengingkari Allah Swt. Akan tetapi ayat ini membahas cara berdialog dengan para ahlul kitab seperti orang-orang Kristen dan Yahudi. Pada awalnya, dijelaskan secara keseluruhan tentang satu prinsip bahwa dalam dialog dengan Ahlul Kitab, mereka harus dihormati dan ketika harus menggunakan kata-kata sopan dalam berbicara dengan mereka. Berdialoglah dengan argumentatif dan logis, jangan hanya mencari menang saja, kerena ucapan Anda tidak akan mereka dengar, dan bahwa mereka yang benar-benar mencari kebenaran, mereka akan akan memluk agama Islam."

Namun demikian wajar jika orang-orang yang berdialog dengan tidak sopan dan tidak menjaga kehormatan pihak lawan, mereka akan terkecualikan dari kaidah ini dan mereka tidak perlu disikapi dengan terhomat, karena orang-orang congkak dan sombong itu akan menghina kalian.

Kelanjutan ayat itu menekankan pentingnya perhatian terhadap sisi kolektif di antara agama langit dan menyebutkan, alih-alih memulai pembahasan dari sisi yang saling diperselisihkan, usahakan dialog dimulai dari sisi-sisi kolektif di antara para pengikut agama langit. Imbaulah mereka semua untuk mematuhi perintah Allah Swt dan berserah diri di hadapan firmannya.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Dalam dialog dengan non-Muslim, kita harus menghindari penghinaan, olokan dan ucapan tidak tepat. Dialog harus berdasarkan argumentasi dan logika serta tekad untuk islah. Jelas bahwa dengan prinsip yang sama harus tetap dijaga dalam dialog dengan Muslim.

2. Bertukar pandangan dan dialog yang benar dengan Ahlul Kitab lebih ditekankan di atas kaum Musyrik.

3. Iman kepada Allah Swt dan rasul-Nya saja tidak cuup, melainkan harus berserah diri di hadapan perintah dan firman-Nya.

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلَاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الْكَافِرُونَ (47)

Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran). Maka orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran); dan di antara mereka (orang-orang Kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang Kafir. (29: 47)

Sebagaimana Allah Swt telah menurunkan Taurat dan Injil kepada Nabi Musa dan Isa as, maka al-Quran juga diturunkan untuk Nabi Muhammad Saw, di mana asal semua kitab langit itu adalah firman Allah Swt. Oleh karena itu, tidak ada kontradiksi di dalamnya. Sebagaimana umat Islam meyakini kitab-kitab samawi sebelum al-Quran, mereka juga berharap para pemeluk agama samawi juga beriman kepada al-Quran dan menghormatinya. Karena maarif di dalamnya, secara keseluruhan, seirama dengan maarif yang tercatat dalam kitab para nabi sebelumnya.

Lanjutan ayat ini menyebutkan, bukan hanya Ahlul Kitab saja melainkan orang-orang musyrik dan penyembah berhala juga yang benar-benar mencari hakikat, mereka akan beriman pada al-Quran dan memeluk Islam. Hanya orang-orang Kafir yang keras kepala yang memahami kebenaran akan tetapi dengan berbagai alasan enggan menerimanya. Kebenaran al-Quran tidak akan terusik dengan penginkaran mereka. Sama seperti seseorang yang memasang kain tebal menutupi jendela kamarnya. Langkahnya itu tidak mengurangi keagungan matahari melainkan dia sendiri yang membuat dirinya terhalangi dari sinar matahari.

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Al-Quran seraya tetap menghormati para pengikut kitab Samawi sebelumnya, juga menyeru para pengikut agama lain untuk memeluk Islam.

2. Mereka yang berserah diri kepada Allah Swt dan tidak fanatik pada agama atau keyakinan tertentu, dan dengan diutusnya nabi baru, ia akan beriman kepadanya dan juga pada kitab yang dibawanya.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ (48) بَلْ هُوَ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآَيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ (49)

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (29: 48)

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (29: 49)

Selain keserasian ayat-ayat al-Quran dengan ayat-ayat pada kitab samawi lain, ayat ke-48 ini menyinggung salah satu tanda kebenaran al-Quran dengan menyebutkan bahwa, Rasulullah Saw sebelum diturunkannya al-Quran, tidak pernah berguru atau belajar, tidak bisa membaca atau menulis, agar jangan sampai mereka yang ingin mengingkari seruannya mengatakan, "Al-Quran adalah harus dari telaah Nabi Muhammad Saw atas kitab-kitab samawi lain."

Fakta bahwa manusia yang tidak belajar dan tidak pernah berguru, mampu mengemukakan maarif luhur seperti ini, adalah sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada banyak kasus, maarif yang dikemukakannya bertentangan dengan budaya yang berkembang di masa itu, dan itu merupakan dalih kemukjizatan al-Quran.

Oleh karena itu dalam lanjutan ayat itu disebutkan bahwa tanda-tanda kebenaran kitab ini ada dalam ayat-ayatnya yang dipahami oleh ilmuwan dan yang bermakrifat, kecuali mereka yang menzalimi diri mereka sendiri, maka mereka akan mengingkarinya.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Terkadang Allah Swt berkehendak seseorang yang tidak pernah belajar mengubah budaya umat manusia dan betapa banyak orang terpelajar yang menafikan spiritualitas agama dan menyimpangkan masyarakat.

2. Harus diwaspadai segala bentuk penyalahgunaan dari pihak musuh.

3. Mereka yang benar-benar memiliki ilmu dan makrifat yang akan memahami kebenaran al-Quran.