Jalan Menuju Cahaya 720
Surat al-Ankabut ayat 56-61.
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ (56) كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (57)
Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja. (29: 56)
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (29: 57)
Salah satu solusi unik Islam adalah berhijrah untuk mempertahankan iman. Di era permulaan Islam, masyarakat Muslim berada di bawah tekanan hebat kaum Musyrik dan tidak dapat menjalankan kewajiban agamanya secara bebas. Untuk itu, Rasulullah Saw dan masyarakat Muslim meninggalkan Makkah menuju Madinah dan bermukim di kota itu.
Ayat tersebut sebagai sebuah kaidah umum menyebutkan bahwa ketergantungan dan kecintaan pada tempat kelahiran, tidak boleh menghalangi seseorang untuk mempertebal iman dan menyembah Allah Swt. Jangan pernah berpikir bahwa kita bakal hidup selamanya di dunia ini, oleh karena itu tujuan hidup kita tidak boleh hanya untuk menumpuk harta dan mengejar kedudukan. Jika kita memperhatikan perkara ini bahwa akhirat adalah rumah keabadian, maka kita tidak akan menambatkan hati pada daerah kelahiran secara berlebihan dan tertawan olehnya.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam memilih tempat tinggal, kita harus serius memperhatikan perkara iman dan pemeliharaan agama.
2. Hijrah untuk mempertahankan iman merupakan salah satu dari kewajiban orang beriman.
3. Orang-orang yang terjebak dalam kesesatan karena kecintaan yang berlebihan pada tempat kelahiran, maka uzur mereka tidak akan diterima di hari akhirat.
4. Kematian bersifat umum dan tidak ada jalan untuk lari darinya. Oleh karena itu, manusia juga harus memiliki program untuk kehidupan sesudah kematian.
وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (58) الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (59)
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal. (29: 58)
(yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya. (29: 59)
Dalam ayat tersebut, orang-orang yang menanggung penderitaan demi menjaga iman dan bahkan siap berhijrah, maka Allah Swt berjanji akan memberikan tempat terbaik kepada mereka di akhirat kelak dan memperoleh kenikmatan yang tidak terbatas. Ayat tersebut menyinggung tiga kriteria penting orang beriman yang mengantarkan mereka ke surga yaitu, amal saleh, sabar, dan tawakal.
Perlu diingat bahwa iman tanpa amal shaleh tidak bernilai, amal tanpa sabar juga tidak membawa hasil, sabar tanpa bertawakkal, juga tidak akan kontinyu dan berkelanjutan.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Syarat untuk meraih surga dan nikmat-nikmat surgawi adalah iman dan amal saleh.
2. Apa saja yang hilang dari orang mukmin dalam mempertahankan imannya di dunia ini, maka Allah Swt akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik di akhirat nanti.
3. Kesabaran adalah kunci kesuksesan atas masalah dan mencapai kesuksesan dalam berbagai fase kehidupan. Orang beriman yang selalu disakiti dan dihina oleh musuh, jelas mereka harus lebih sabar dari orang lain.
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (60)
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (29: 60)
Ayat sebelumnya berbicara tentang keharusan berhijrah demi menjaga iman, sementara ayat 60 surat al-Ankabut menegaskan bahwa orang beriman tidak perlu takut kehilangan pekerjaan dan pendapatan akibat berhijrah. Jika situasi menuntut untuk hijrah, maka beranjaklah ke tempat lain dan ketahuilah bahwa Allah Swt adalah Dzat pengantar rezeki. Dia yang memberi rezeki kepada berbagai jenis binatang melata, tentu tidak akan melupakan orang beriman.
Bahkan binatang yang tidak bisa menyimpan makanan di sarangnya dan terpaksa berkelana setiap hari untuk mencari makan, ia tidak kembali dengan tangan kosong dan Allah Swt telah menjamin rezeki mereka. Manusia yang lebih tinggi dari binatang tentu dapat memenuhi kebutuhannya dengan kerja keras dan tawakkal.
Jika manusia kehilangan pekerjaan dan pendapatan karena hijrah, mereka masih bisa mencari apa-apa yang telah hilang. Namun, jika mereka merelakan hidupnya dalam kekufuran dan kesyirikan, maka mereka akan tunduk pada kezaliman dan tirani, dan tentu kondisi ini tidak bisa dipulihkan, karena syirik, kufur dan kezaliman akan mengeluarkan manusia dari poros kemanusiaan.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Para pehijrah di jalan Allah Swt tidak boleh mengkhawatirkan urusan rezeki dan perkara hidup. Mereka tidak boleh meninggalkan hijrah di jalan Allah Swt karena takut kehilangan rezeki.
2. Orang beriman selalu bertawakal kepada Allah Swt dan tidak akan melalaikan tugasnya hanya karena takut kehilangan mata pencaharian.
3. Allah Swt sebagai Sang Pencipta adalah penjamin rezeki semua makhluk dan juga manusia.
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61)
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (29: 61)
Kaum Musyrik Mekah menerima Allah Swt sebagai Sang Pencipta, tetapi mereka percaya bahwa matahari, bulan, dan bintang serta berhala adalah pengatur urusan hidupnya. Mereka menerima Allah Swt sebagai pencipta, namun menolak rububiyah Tuhan, seakan-akan nasib mereka dan bahkan rezeki mereka bukan di tangan Tuhan dan Dia tidak memiliki peran apapun di dalamnya.
Sungguh aneh jika di masa sekarang banyak masyarakat mengakui Allah Swt sebagai Pencipta, tetapi tidak menerima hak rububiyah dan hak perumus undang-undang serta mengabaikan perintah-perintah Tuhan. Kelompok ini percaya bahwa manusia tidak membutuhkan Tuhan dalam mengatur urusan hidupnya dan berhak untuk memutuskan apapun.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dalam pembahasan akidah, kita harus memulai dari titik kesamaan kita dengan orang lain. Titik kesamaan Muslim dengan kaum Musyrik Mekah adalah keyakinan mereka kepada Sang Pencipta.
2. Menyimpang dari kebenaran merupakan salah satu bahaya yang mengancam semua orang. Menerima khaliqiyah Tuhan tanpa mengakui rububiyah-Nya dalam hidup merupakan bentuk penyimpangan dari kebenaran.