Jalan Menuju Cahaya 721
Surat al-Ankabut ayat 62-66
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62)
Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (29: 62)
Pada pembahasan sebelumnya telah kami singgung bahwa umat Muslim di Mekkah mendapat gangguan dari kaum Musyrik dan selama bertahun-tahun mereka diboikot sehingga dilanda kesulitan hebat. Meski demikian, sebagian di antara mereka tetap enggan berhijrah meninggalkan rumah mereka.
Ayat ini mengimbau manusia untuk tidak melepaskan keimanannya hanya karena maslaah pekerjaan, rezeki atau masalah keuangan. Melainkan mereka harus tetap berpegang teguh pada keimanan mereka karena rezeki di tangan Allah Swt. Jika perlu, seorang muslim harus berhijrah menuju Madinah.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Upaya dan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah tanggung jawab kita. Akan tetapi tingkat pendapatan dan rezeki bukan di tangan kita dan bergantung pada hikmah Allah Swt.
2. Perbedaan manusia dalam mendapat rezeki dan kenikmatan duniawi, sama seperti perbedaan manusia dalam memanfaatkan otak dan potensinya, di mana itu semua adalah urusan hikmah Allah Swt. Dan tentunya perbedaan tersebut merupakan sebuah keharusan dalam masyarakat manusia.
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63) وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (64)
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”, Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (29: 63)
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (29: 64)
Mengingat sumber kehidupan dan rezeki manusia sangat terikat dengan turunnya hujan dan jika di sebuah wilayah tidak turun hujan selama beberapa tahun, maka akan menimbulkan kekeringan yang akan membinasakan tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan dan membuat manusia kelaparan, ayat ini menyebutkan bahwa bahkan orang-orang Musyrik percaya jika turunnya hujan adalah kehendak Allah Swt, akan tetapi mereka kembali menyembah berhala dan menilai berhala-berhala itu sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang beriman yang masih mengkhawatirkan rezeki mereka dan takut berhijrah di jalan Allah Swt karena mengkhawatirkan rezekinya? Apakah mereka belum menyadari bahwa kehidupan dan rezeki yang sesungguhnya adalah di dunia akhirat sementara rezeki dan gemilau harta di dunia ini adalah permainan belaka?
Anak-anak kecil sibuk bermain dengan beragam mainan sementara orang-orang dewasa disibukkan dengan permainan yang lebih besar seperti kendaraan, rumah atau pabrik. Dalam permainan anak-anak biasanya ada yang menjadi raja, menteri, bapak, ibu, dokter, pasien, anak dan lain-lain. Ketika permainan selesai anak-anak juga memahami bahwa itu semua adalah ilusi dan rekayasa.
Pada masa dewasa, setiap orang orang berusaha menggapai status untuk diri mereka dan posisi dalam masyarakat. Namun di akhir usianya, dia baru akan menyadari bahwa itu semua adalah ilusi dan fana, namun dia telah kalah dalam permainan ilusi tersebut. Lantas di mana para raja-raja yang sombong dahulu? Ke mana pula para pemimpin dan panglima peperangan besar dalam sejarah? Putaran permainan mereka telah berakhir dan sekarang kelompok baru yang sedang bermain.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mengenal Tuhan adalah hal fitrah dan jika debu-debu dosa serta penyimpangan dibersihkan dari hati kita, maka ia akan mengakui hakikat yang sebenarnya.
2. Banyak manusia yang sedang lalai dan enggan merenungkan awal hingga akhir eksistensinya, begitu juga dengan dunia.
3. Kelalaian dari akhirat dan tidak mengetahui hakikatnya, akan membuat manusia sangat mencintai dunia dan sangat sibuk dengan masalah-masalah duniawi.
4. Kehidupan sejati umat manusia adalah di alam akhirat, di sana setiap orang akan menduduki tempat sejatinya. Di sana, tidak akan ada kejahatan atau ketidakadilan yang tidak terbalaskan.
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ (65) لِيَكْفُرُوا بِمَا آَتَيْنَاهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (66)
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (29: 65)
Agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (29: 66)
Ayat-ayat tadi menyinggung tanda-tanda kebesaran Allah Swt di langit dan bumi yang akan menjadi sarana untuk membangkitkan fitrah manusia. Disebutkan bahwa ketika manusia merasakan bahaya, dan ketika tidak ada lagi siapa dan apa pun yang dapat membantunya sehingga dia merasa putus asa, ketika itu kepada siapa fitrahnya akan berpaling dan meminta pertolongan.
Ketika kapal sedang tenggelam, siapa yang akan disebutnya? Ketika pesawat akan jatuh, nama siapa yang akan diseru manusia? Dia pasti akan menyeru nama Tuhan Yang Maha Kuasa dan berharap Dia menyelematkannya dari kematian.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia biasanya akan mengandalkan berbagai sarana, materi, teman atau keluarga untuk menyelesaikan masalah mereka. Oleh karena itu, mereka melupakan Allah Swt. Akan tetapi ketika menghadapi bahaya, ketika tidak ada lagi yang dapat menolongnya, dia akan menyeru nama Allah Swt.
Akan tetapi yang mengherankan adalah ketika manusia telah terselamatkan dari bahaya, maka dengan cepat dia akan melupakan Allah Swt dan kembali menyibukkan dengan kehidupan materi dan berbagai kenikmatan duniawi, tanpa mengingat dan bersyukur kepada Allah Swt yang telah menganugerahkan seluruh nikmat itu kepadanya.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Dosa akan menjadi tabir bagi fitrah manusia, akan tetapi peristiwa berbahaya, akan dengan cepat menyingkirkan kelalaian serta menyingkap tabir fitrah manusia yang ingin mencari Tuhan.
2. Doa tulus dan ikhlas akan didengar dan dijawab Allah Swt. Doa orang-orang kafir yang tulus dan ikhlas pun akan dijawab Allah Swt.
3. Kesyirikan adalah bentuk dari ketidaksyukuran dan kekufuran terhadap nikmat-nikmat Allah Swt, sementara ketauhidan adalah bentuk pensyukuran nikmat-nikmat Allah.